4 Konferensi E-Commerce Di Indonesia dan Sekitarnya Tahun 2016

Menjadi seorang pebisnis dapat menyita cukup banyak waktu Anda, terutama jika Anda masih dalam tahap merintis dan mengembangkannya. Sesekali, penting bagi Anda untuk mengambil break dari bisnis tersebut demi mendapatkan perspektif baru. Mengikuti konferensi dapat menjadi kegiatan yang tepat untuk mengisi waktu break Anda. Selain mendapat banyak ilmu dari para pembicara, Anda juga bisa melakukan networking dengan sesama pebisnis yang menghadiri konferensi tersebut.

Namun, bukan berarti Anda harus mengikuti segala konferensi yang diadakan di berbagai tempat. Anda bisa memilih salah satunya dari daftar beberapa konferensi e-commerce berikut ini.

Ecommerce Show Asia 2016 (Singapura, 19-22 April 2016)

Terletak di Suntec Exhibition & Convention Centre, konferensi ini akan membahas tentang bagaimana e-commerce berkembang dari studi kasus terbaik di Asia dan menyelam lebih dalam dengan diskusi topik secara berkelompok. Fokus studi dalam konferensi ini akan lebih kepada bagaimana teknologi serta strategi e-commerce yang baik, bagaimana sistem pembayaran yang aman, sistem pengiriman, digital marketing, hingga bagaimana membentuk customer experience yang bagus.

Indonesian E-Commerce Summit & Expo 2016 (Jakarta, 27-29 April 2016)

72 tokoh akan mengisi event yang diadakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Jakarta. Akan banyak workshop menarik mengenai inovasi, start-up, teknologi, marketing, serta banyak topik lainnya. Pembicara yang hadir bisa dibilang berpengalaman di bidangnya. Sebut saja Willson Cuaca (Co-Founder & Managing Partner East Ventures), Diajeng Lestari (CEO Hijup.com), Aulia Ersyah Marinto (CEO Blanja.com), Nadiem Makarim (CEO dan FOunder Go-Jek) dan masih banyak lagi pembicara lainnya. Cukup banyak pengalaman yang bisa Anda dapatkan di konferensi ini.

Asean Retail Congress 2016 (Bangkok, 25-27 Agustus 2016)

Untuk Anda yang mungkin berkeinginan untuk go-international, ada baiknya Anda mengikuti kongres ini. Kongres yang dilaksanakan di IMPACT Exhibition & Convention ini membahas tentang prediksi pasar retail di ASEAN. Pembahasannya meliputi tren industri retail, business modelling, branding avenues, dan beberapa topik penting lainnya yang berkaitan dengan bisnis retail.

E Commerce Show Indonesia 2016 (Jakarta, 12-13 Oktober 2016)

Pullman Central Park, Jakarta, akan jadi saksi bisu ratusan orang yang hadir di gelaran Konferensi E Commerce Show Indonesia 2016. Untuk Anda yang mungkin memiliki masalah tentang bagaimana membangun model bisnis e-commerce serta cara mendapatkan customers, wajib untuk datang dan belajar di konferensi ini.

Mengikuti konferensi akan memberi Anda kesempatan untuk belajar, berkembang, dan terhubung dengan sesama pelaku bisnis lainnya. Tentu masih ada banyak acara menakjubkan lain di luar sana, dan susah untuk memilih salah satu yang harus dihadiri. Namun, apapun konferensi yang didatangi, Anda akan menerima banyak keuntungan dari pengalaman baru tersebut.

Achmad Zaky, Pendiri Bukalapak.com Dengan Cita-Cita yang Mulia

Berbicara tentang e-commerce di Indonesia, situs bukalapak.com menjadi salah satu yang tidak absen untuk disebutkan. Hanya dalam kurun waktu dua tahun dari peluncurannya pada tahun 2010, bukalapak.com mampu menjaring beribu pedagang untuk bergabung dengan situs tersebut. Mastermind yang menggawangi kesuksesan bukalapak.com adalah Achmad Zaki, yang ternyata sudah dekat dengan dunia teknologi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Akrab dengan Komputer Sejak Remaja

Pada dasarnya, Zaky memang suka dengan hal-hal berbau teknologi. Pada tahun 1997, salah satu paman Zaky membelikan seperangkat komputer dan buku-buku yang membahas tentang pemrograman. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak jenis pemrograman yang ia ciptakan. Ketertarikannya tersebut sejalan dengan prestasinya pada bidang pendidikan. Saat masih bersekolah di SMA Negeri 1 Solo, Zaky pernah mewakili sekolahnya pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang komputer dan berhasil menang hingga tingkat nasional. Prestasinya tersebut terus berlanjut hingga kuliah di jurusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia sempat mendapat IPK sempurna pada semester pertama.

Tidak hanya cerdas dalam bidang akademis, Zaky juga cukup aktif berorganisasi. Ia bahkan pernah mendirikan beberapa organisasi kemahasiswaan di ITB, salah satunya adalah Share Global Student Think-Tank. Zaky pula lah yang mendirikan Entrepreneur Club di ITB yang kemudian dikenal dengan sebutan Technoentrepreneur Club (TEC ITB). Ia juga berkontribusi dalam organisasi Amateur Radio Club (ARC) ITB. Prestasi selama kuliah yang pernah diraih Zaky pun cukup membanggakan. Ia pernah meraih beasiswa studi ke Oregon State University selama dua bulan dari pemerintah Amerika Serikat pada tahun 2008. Pada kesempatan lain, Zaky dipercaya untuk mewakili ITB dalam ajang Harvard Nation Model United Nations 2009.

Sempat Menganggur Setahun

Ketika lulus dari ITB pada awal tahun 2009, Zaky melamar untuk posisi Management Consulting ke tiga perusahaan internasional. Sayangnya, ketiga lamaran tersebut ditolak sehingga ia terpaksa harus menganggur selama setahun. Namun, bukannya Zaky lantas tidak melakukan apa-apa. Ia masih mengerjakan beberapa proyek pembuatan program software untuk perusahaan-perusahaan besar. Proyeknya tersebut bermula ketika ia aktif dalam dunia teknologi dan entrepreneurship saat masih di ITB. Ia pernah mendapatkan tawaran untuk mengerjakan software quickcount pemilu untuk salah satu stasiun televisi nasional.

Dan tidak ada yang menyangka bahwa ternyata Zaky juga sempat menjajal bisnis pada industri kuliner. Saat masih kuliah dulu, ia dan beberapa temannya memiliki ide untuk membuka warung mie. Ia mengumpulkan modal dari hasil menang berbagai perlombaan. Sayangnya, usaha tersebut mengalami kebangkrutan dan seluruh uangnya pun melayang. Meski sempat merasa takut dan trauma, Zaky berhasil mengenyahkan perasaan tersebut dan mengambil pelajaran berharga dari pengalamannya.

Memperbaiki Nasib UMKM

Karena sering membangun sistem IT untuk berbagai perusahaan besar, Zaky pun memiliki pikiran untuk membuat sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Ia menyadari bahwa masyarakat Indonesia senang menghabiskan waktu di media sosial. Namun, aktivitas yang mereka lakukan tersebut dinilai Zaky begitu konsumtif dan tidak menghasilkan apapun. Terlebih, Zaky membandingkan dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ketika itu belum faham teknologi, manajemen, dan pemasaran. Akhirnya, pada tahun 2009, ia merintis startup bukalapak.com bersama teman lamanya yang bernama Nugroho Herucahyono.

Tentu usaha e-commerce tersebut tidak langsung berjalan mulus. Awalnya, Zaky mengajak para pedagang di mall untuk bergabung dengan bukalapak.com. Sayangnya, respon yang mereka berikan tidak terlalu besar. Klien pertamanya justru berasal dari pedagang kecil, yang mengaku kesulitan untuk menjual dagangannya secara offline. Sejak saat itu, Zaky pun semakin fokus untuk mengajak dan membantu para pelaku UMKM agar dapat berkembang. Pada tahun 2011, hanya dua tahun dari pertama kali didirikan, bukalapak.com berhasil mengajak 10.000 pedagang untuk bergabung.

 

Pertumbuhan pesat yang dialami bukalapak.com membuat banyak investor tertarik untuk menanamkan modal mereka. Beberapa di antaranya adalah Batavia Incubator, IMJ Investment, 500 Startups, dan Elang Mahkota Teknologi Tbk. Kisah Zaky memberi kita pelajaran untuk tidak takut dalam mencoba—bahkan setelah mengalami kegagalan. Meski dulu pernah mengalami kebangkrutan, tapi Zaky berhasil mengambil pelajaran dan bangkit untuk meraih kesuksesannya pada bidang lain yang selama ini menjadi passion-nya, yakni teknologi.

Jack Ma, Pendiri Alibaba.com yang Jadi Orang Terkaya di Tiongkok

Pernah mendengar tentang Alibaba.com? Ia merupakan situs e-commerce terbesar di Tiongkok. Jack Ma adalah sosok kunci di balik kesuksesa perusahaan tersebut. Pria kelahiran tahun 1964 tersebut merupakan warga Tiongkok Daratan pertama yang pernah muncul pada majalah Forbes dan terdaftar sebagai salah satu biliuner dunia. Pada tahun 2015, Jack Ma bahkan menempati urutan ke-22 dalam daftar orang paling berpengaruh di dunia.

Belajar Bahasa Inggris dari Turis

Kesuksesan yang diraih Ma tidak diraihnya dengan mulus. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sudah harus menerima penolakan karena hasil ujian matematikanya yang kurang baik. Namun, ia memiliki kemampuan yang cukup tinggi pada Bahasa Inggris. Pada usia 12-20 tahun, Ma bekerja sebagai pemandu wisata di sebuah hotel di dekat Danau Hangzhou. Saat itu, Tiongkok baru mulai menerima banyak turis yang datang ke sana. Hal tersebutlah yang membuat ia memiliki pikiran terbuka.

Setelah itu, Ma mendaftar ke Universitas Keguruan Hangzhou untuk belajar menjadi guru sekolah menengah. Setelah lulus, ia ditugaskan untuk mengajar di Universitas. Upah yang didapatkannya sebulan cenderung kecil, yakni sekitar $12-15 per bulan. Sebelumnya, Ma juga pernah menghadapi berbagai penolakan ketika melamar untuk pekerjaan-pekerjaan lainnya, salah satunya adalah posisi manajer di Kentucky Fried Chicken.

Mengenal Internet di Amerika

Pada tahun 1995, Ma berkunjung ke Seattle, US, untuk bekerja sebagai penerjemah. Di sanalah ia mulai berkenalan dengan internet. Salah seorang temannya mengatakan bahwa tidak ada hal yang tidak bisa ditemukan di internet. Tetapi, saat mencoba untuk melakukan searching, Ma justru sama sekali tidak menemukan apapun tentang Tiongkok di internet. Dari situlah ia mulai berpikir bahwa bisnis internet akan memiliki potensi yang besar di Tiongkok.

Akhirnya, pada tahun 1999, Ma mengajak 18 orang untuk berkumpul di apartemennya sekaligus menyampaikan visinya dalam membuat perusahaan e-commerce bernama Alibaba. Nama tesebut dipilih karena mudah dilafalkan dan banyak orang yang mengerti bahwa “Alibaba” merupakan perintah untuk membuka pintu harta karun yang diucapkan pada acara Open Sesame. Berkat berbagai usaha yang dilakukannya bersama teman-teman, Ma pun berhasil mengumpulkan dana $60.000 untuk merintis Alibaba.

Kesuksesan Alibaba

Kini, Alibaba telah berhasil menjadi retailer online terbesar di Tiongkok dan berada di posisi kedua level global setelah Walmart. Alibaba menjadi tempat yang dituju orang-orang ketika ingin berhubungan dengan para eksportir Tiongkok dengan para pembelinya di luar negeri. Tidak berhenti sampai di situ, Ma sedang bertekad untuk dapat mengalahkan eBay, situs jual-beli online yang bermarkas di US. Ma juga telah berhasil membuat dua situsnya yang lain, Marketplace dan Tmall.com mendominasi sistem portal pengiriman Tiongkok.

Berbagai usaha yang dilakukan Ma membuat banyak pengusaha menjulukinya sebagai Crazy Jack. Terlebih, ternyata ia juga dikenal sebagai orang yang memiliki ide-ide bisnis out of the box. Tidak hanya itu, Ma pun sering disebut sebagai pria yang rendah hati. Daripada membahas tentang kehebatan situs e-commerce yang dimilikinya, Ma lebih senang jika diajak mengobrol tentang bagaimana Alibaba dapat membantu banyak konsumen, menciptakan lapangan kerja, sekaligus melayani masyarakat.

Orang Terkaya di Tiongkok

Kesuksesa Ma dan Alibaba bisa dilihat dari gelar orang terkaya di Tiongkok yang didapatkannya pada bulan Agustus 2014. Saat itu, banyak pihak memprediksi bahwa kekayaan Ma akan meroket setelah melepas saham perdananya di US. Hal tersebut pun menjadi kenyataan. Berkat nilai saham Alibaba yang melonjak hingga 38%, aset kekayaan Ma kini bertambah hingga $26,5 miliar. Tidak hanya menjadi orang terkaya di Tiongkok, ia juga menempati posisi ke-23 pada daftar miliarder dunia. Dan tidak mungkin bahwa jumlah tersebut akan mengalami peningkatan.

 

Kisah Jack Ma tersebut menunjukkan bahwa segala penolakan yang pernah dihadapi tidak membuatnya patah semangat. Bayangkan apabila saat itu Ma memutuskan untuk menyerah, pasti kini tidak ada e-commerce bernama Alibaba. Dan, apabila Ma bisa melakukannya, maka Anda juga pasti dapat menaklukkan segala rintangan yang menghalangi Anda dalam merintis e-commerce.

Kisah 6 Tokoh Pendiri E-Commerce Sukses

Di balik setiap kesuksesan, terdapat seorang mastermind yang telah berjuang mati-matian untuk meraihnya. Sama halnya dengan industri e-commerce. Anda pasti menyadari bahwa beberapa tahun belakangan ini popularitas e-commerce meningkat dengan pesat. Beberapa nama e-commerce pun muncul mengungguli yang lain. Dan berikut adalah orang-orang yang menjadi mastermind di balik suksesnya e-commerce yang mereka rintis.

Pierre Morad Omidyar (eBay)

Ketertarikan Omidyar pada dunia komputer mulai muncul ketika ia bersekolah di Potomac. Saat menjalani sebuah liburan panjang pada usia 28 tahun, Omidyar menghabiskan waktunya dengan menulis kode komputer yang kini digunakan untuk situs lelang miliknya, eBay. Sebenarnya, niat awal Omidyar dalam mendirikan eBay adalah untuk membantu salah satu temannya untuk mendapatkan pembeli bagi produk yang dijualnya. Ia sempat berniat untuk menamai situsnya sebagai echobay, namun karena nama tersebut telah dipakai pihak lain, ia pun memutuskan untuk menggunakan nama eBay. Situs lelang tersebut pertama kali diluncurkan pada 4 September 1995.

Hendrik Tio (Bhinneka.com)

Jauh sebelum internet berkembang pesat seperti sekarang, tepatnya pada tahun 1999, Tio bersama beberapa rekannya memberanikan diri untuk terjun dalam bisnis online. Awalnya, ia berencana untuk memasarkan produk-produk IT mereka melalui internet. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk membuat sebuah e-commerce dengan nama Bhinneka.com. Menggunakan modal sebesar 100 juta rupiah, Tio pun mempromosikan situs e-commerce miliknya pada Google. Dengan ketekukannya dalam uji-coba strategi dan inovasi, Bhinneka.com pun akhirnya mendapat perhatian dan kepercayaan dari target audiens Hendrik.

Jack Ma (Alibaba)

Alibaba merupakan perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok. Dan Jack Ma adalah orang di balik kesuksesan tersebut. Saat berkunjung ke Seattle, US, pada tahun 1995, seorang temannya memperkenalkan Jack pada internet. Saat mengetikkan keyword “beer” pada search engine, ia tidak dapat menemukan data tentang Tiongkok. Dari situlah ia bertekad untuk mengembangkan bisnis online di Tiongkok. Akhirnya, pada tahun 1999, Jack mendirikan situs Alibaba yang berfungsi untuk mempertemukan supplier dengan customer dalam skala gobal. Nama Alibaba dipilihnya ketika ia sedang berada di sebuah kedai kopi di San Francisco.

Achmad Zaky (BukaLapak)

Sebelum mendirikan BukaLapak, Zaky telah memiliki cukup banyak pengalaman dalam membangun sistem IT untuk berbagai perusahaan besar. Karena ingin menciptakan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi banyak orang, ia pun mendirikan BukaLapak pada tahun 2010. Tujuannya sederhana, yakni mengubah hidup banyak orang dengan memajukan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengan (UMKM) melalui internet. Awalnya, Zaky mengajak para pedagang di mall untuk bergabung dengan BukaLapak. Setelah sering mendapat penolakan, klien pertamanya justru berasal dari pedagang kecil. Sejak saat itu, Zaky pun memutuskan untuk fokus mengajak para pelaku UMKM yang belum begitu berkembang. Hanya dalam waktu setahun, telah ada 10.000 pedagang yang bergabung dengan BukaLapak.

Jeff Bezos (Amazon)

Bezos mulai mengembangkan usahanya pada tahun 1994. Saat itu, ia melihat potensi pada usaha ritel buku di US. Sayangnya, mereka tidak memiliki katalog yang lengkap. Ia pun memiliki ide untuk membuat website yang dapat memperkenalkan semua produk buku dengan praktis dan mudah. Setelah melakukan berbagai riset dan berbagai pengembangan, Bezos akhirnya merilis situs e-commerce dengan alamat Amazon.com pada tahun 1999. Setelah beberapa tahun berjalan, ia memutuskan untuk menambah jenis produk pada Amazon agar lebih variatif. Selain buku, kini Amazon juga menawarkan berbagai macam barang, seperti alat-alat rumah tangga, elektronik, hingga jasa aplikasi penyimpanan data online.

William Tanuwijaya (Tokopedia)

Sempat dianggap remeh oleh orang-orang di sekitarnya, William sama sekali tidak mundur untuk mewujudkan mimpinya dalam berbisnis. Selama dua tahun ia mencari modal, hingga akhirnya atasan di tempat kerjanya saat itu memberi modal sebesar 10%. Jadi, ketika berdiri pada tahun 2009, Tokopedia hanya memiliki modal seadanya. Ia mengaku susah meyakinkan investor karena mereka takut Tokopedia akan kabur setelah diberi suntikan dana. Namun, tidak lama kemudian, investor mulai berdatangan, salah satunya adalah East Ventures. Selama lima tahun berdiri, Tokopedia telah berhasil menjadi situs e-commerce yang sukses membantu UMKM dalam mengembangkan usaha.

 

Tidak ada hasil yang akan mengkhianati usaha. Kisah-kisah dari para pendiri e-commerce sukses di atas menunjukkan hal tersebut. Jadi, jika kini Anda tengah merintis bisnis serupa dan mengalami kesulitan, jangan langsung patah semangat dan menyerah begitu saja. Berupayalah dengan lebih keras dari biasanya, dan lihat hasil yang akan Anda dapat pada beberapa tahu mendatang. Bukan tidak mungkin Anda aka menjadi pemilik situs e-commerce sukses berikutnya.

4 Alasan Kenapa E-Commerce Akan Sangat Menjanjikan pada Tahun 2016

Sejak beberapa tahun belakangan lalu, kita telah memasuki era digital di mana internet memegang peran cukup besar pada kehidupan. Tidak hanya dalam komunikasi, aktivitas berbelanja kita pun ikut dipengaruhi. Banyak pihak memanfaatkan hal tersebut untuk membuka bisnis online shop atau marketplace sebagai bagian dari e-commerce. Dan tahun ini, sepertinya e-commerce masih akan menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan. Ketahui dulu alasannya sebelum Anda ikut terjun ke dalamnya.

Potensi Kenaikan Pasar

E-commerce di Indonesia tidak akan tumbuh pesat apabila tidak didukung oleh adanya permintaan yang tinggi. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan, transaksi e-commerce pada tahun 2014 mencapai angka 34,9 triliun rupiah. Dan jumlah tersebut diprediksi akan meningkat hingga 300 triliun rupiah pada tahun ini. Angka yang cukup menakjubkan, bukan? Pencapaian tersebut tidak terlepas dari efisiensi waktu, tenaga, dan biaya yang ditawarkan oleh e-commerce.

Konsekuensinya, Anda harus mampu menghadapi persaingan e-commerce yang semakin ketat. Dibutuhkan berbagai strategi khusus agar bisnis e-commerce yang Anda jalani tidak kalah dengan para pesaing. Jangan langsung merasa pesimis, lihat saja hal tersebut sebagai sesuatu yang positif. Anda akan dipacu untuk memikirkan strategi yang kreatif dan out of the box untuk menarik target audiens menjadi pelanggan Anda. Dengan begitu, bisnis e-commerce Anda pun tidak akan tertinggal.

Meningkatnya Jumlah Pengguna Internet

Salah satu pemicu pertumbuhan pesat e-commerce di Indonesia adalah adanya akses internet yang semakin cepat. Dan hal tersebut membuat semakin banyak orang melek internet. Pada tahun 2014, data yang dilansir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan bahwa ada 73 juta pengguna internet aktif di Indonesia. Hal ini tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut telah mengalami peningkatan hingga tahun 2016 kini.

Dari jumlah pengguna internet tersebut, ada sekitar 7% orang yang sering melakukan transaksi jual-beli secara online. Terlebih, kini penggunaan smartphone pun mulai membeludak. Tahun lalu, jumlah penggunanya bahkan mencapai 55 juta orang. Data tersebut dilansir oleh eMarketer, yang juga memprediksi bahwa jumlah pengguna smartphone di Indonesia akan terus mengalami peningkatan hingga tahun 2019. Hal tersebut tentu menjadi kabar gembira bagi para pelaku e-commerce.

Regulasi Resmi dari Pemerintah

Alasan lain yang membuat e-commerce menjadi bisnis yang menjanjikan pada tahun 2016 adalah regulasi yang semakin matang dari pemerintah Indonesia. Sebisa mungkin, pemerintah akan menetapkan regulasi yang dijamin tidak akan mematikan industri online. Menjelang akhir tahun lalu, Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa rancangan peraturan mengenai e-commece telah selesai dibuat dan akan segera diimplementasikan.

Pada suatu wawancara, Kementerian Perdagangan juga memberi informasi bahwa pemerintah tengah menyusun roadmap yang jelas tentang e-commerce, seperti cara bertransaksi, sistem keamanan, sistem pergudangan, mekanisme pengiriman, hingga transaksi yang diterapkan. Aspek-aspek lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah penggunaan nomor identitas serta sertifikasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Masuknya Pemain Asing

Mengingat tingginya potensi e-commerce di Indonesia, pihak asing mulai melirik industri tersebut untuk berinvestasi. Hal tersebut pun menjadi salah satu sorotan pemerintah dalam menetapkan regulasi e-commerce. Pemerintah ingin agar pemain lokal yang memiliki modal terbatas tidak hanya menjadi penonton. Selain memberi suntikan dana, adanya pemain asing juga diharapkan dapat menambah wawasan dan networking para pelaku e-commerce dalam menjalankan bisnis.

Semakin banyaknya pelaku di industri e-commerce, baik lokal mupun asing, secara ortomatis semakin meningkat pula jumlah transaksi yang akan dilakukan. Dengan begitu, perkembangan internet di Indonesia pun dapat meningkat dengan pesat. Hasilnya, industri e-commerce pun juga akan terkena dampak positifnya karena orang-orang semakin familiar dengan transaksi jual-beli online. Pemerintah pun diharapkan dapat selalu mendukung industri e-commerce ini.

 

Semoga poin-poin di atas dapat membuat Anda semakin semangat untuk menjalankan bisnis e-commerce. Jangan takut untuk bersaing dengan pelaku e-commece lain karena hal tersebut justru akan membuat bisnis Anda semakin kuat. Good luck!

Page 1 of 2
1 2