5 Cara Membuat Pelanggan eCommerce Merasa Aman Berbelanja

Apa yang membuat pelanggan e-commerce yakin untuk berbelanja di toko online Anda? Tentu saja ketika mereka merasa aman untuk berbelanja di toko online Anda. Semakin toko online Anda terpercaya, maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak orang yang berbelanja di toko online Anda. Namun, apakah Anda tahu bagaimana cara membuat pelanggan e-commerce Anda merasa aman berbelanja? Berikut ini adalah cara yang dapat Anda lakukan untuk membuat pelanggan merasa aman dan nyaman untuk berbelanja di toko online Anda.

1. Sertifikasi Keamanan Website

Banyak pelanggan takut untuk berbelanja online karena mereka takut dengan potensi pencurian finansial dan identitas mereka. Secure Sockets Layer atau biasa disingkat SSL adalah cara jitu untuk mengamankan data pribadi pelanggan. SSL akan mengenkripsi informasi mereka ketika akan melakukan pembelian. Website yang telah bersertifikasi biasanya diawali dengan “https” dengan huruf “s” singkatan dari “secure” atau aman.

2. Prosedur Otentifikasi

Pelanggan Anda selalu ingin agar data pribadi mereka aman, termasuk ketika mereka lupa. Untuk mengaplikasikan hal ini, gunakan beberapa prosedur otentifikasi sebelum informasi untuk login. Sebagai contoh, bila pelanggan Anda melupakan password mereka, situs Anda harus memberikan beberapa pertanyaan keamanan berbeda sebelum mengirimkan email ke alamat email yang telah diberikan oleh pelanggan tersebut sebelumnya.

3. PCI Compliance

Sebelum situs e-commerce Anda dapat menerima pembayaran melalui kartu kredit, Anda harus melalui tes PCI Compliance. Payment Card Industry (PCI) compliance akan memastikan pelanggan melakukan transaksi yang aman dengan data pribadi mereka dan menjaga agar informasi kartu kredit mereka aman. Tidak peduli seberapa besar situs e-commerce Anda, standarisasi seperti ini harus dilakukan bila Anda ingin memasukkan fitur pembayaran kredit dan kartu debet.

4. Hindari Mengalihkan Link ke Situs Lain yang Tidak Aman

Pelanggan akan menerima pemberitahuan ketika sertifikat SSL sudah tidak berlaku, dimana bila mereka tetap melakukan pembelian, maka data pribadi mereka dalam risiko dicuri. Biasanya disinilah Anda akan kehilangan banyak pembeli. Selain itu, hal yang juga membuat Anda kehilangan pembeli adalah ketika di website Anda terdapat link yang mengalihkan pelanggan ke situs pihak ketiga. Ketika terjadi hal demikian, otoritas SSL akan juga memberikan peringatan sebelum pelanggan pindah ke situs tersebut. Akibatnya, pelanggan bisa saja merasa takut dan akhirnya tidak melanjutkan pembelian.

5. Pilihan Pembayaran

Tidak semua pelanggan mau melakukan pembayaran melalui kartu kredit atau kartu debet, apalagi ketika mereka takut dengan pencurian data yang kerap terjadi di berbagai situs e-commerce besar di dunia. Anda tidak perlu harus kehilangan penjualan hanya karena alasan tersebut. Untuk itu, gunakan layanan seperti PayPal atau Visa, dimana pelanggan akan merasa lebih aman menggunakan metode pembayaran tersebut tanpa memberikan identitas pribadi mereka.

 

Mungkin cara-cara di atas sedikit membingungkan bagi Anda, terlebih lagi bagi Anda yang kurang paham seluk beluk dunia internet. Maka dari itu, pastikan Anda mendapatkan bantuan dari orang yang ahli, atau bila perlu, gunakan pihak ketiga untuk membantu Anda menyelesaikan hal tersebut. Keamanan adalah salah satu keunggulan dari toko online yang dibuat oleh StoreMantap. Oleh karena itu, fokuslah dengan penjualan Anda dan serahkan masalah keamanan toko online kepada kami.

Bagaimana Para Marketer Memaksimalkan Konten Media Sosial?

Perlahan tapi pasti, pebisnis mulai merasakan pentingnya media sosial untuk kemajuan usaha yang mereka dirikan. Berdasarkan Social Media Examiner, 97 persen pebisnis menggunakan media sosial sebagai sarana marketing mereka. Terlebih lagi, 92 persen di antaranya merasa bahwa media sosial juga penting untuk kesuksesan mereka.

Meskipun media sosial dipandang penting untuk menaikkan usaha mereka, para pebisnis pada umumnya masih berusaha untuk mengoptimalkan konten dalam media sosial mereka. Bahkan, dalam penelitian yang sama, 91 persen mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk menentukan strategi bisnis yang paling efektif untuk bisnis mereka.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Software Advice bekerja sama dengan Adobe telah diadakan dengan tujuan untuk memahami strategi apa yang paling sering digunakan oleh para marketer untuk mengoptimisasi konten media sosial mereka.

Selain temuan keduanya, penelitian tersebut juga mengungkapkan 182 fakta yang ditemukan oleh Liz Strauss, founder sekaligus CEO dari SOBCon, yang juga menduduki peringkat ke tujuh dalam daftar orang yang berpengaruh dalam menggunakan kekuatan sosial media versi majalah Forbes pada tahun 2013. Penelitian tersebut menemukan fakta yang cukup menarik, antara lain:

  1. Marketer pada umumnya (84 persen) secara rutin memposting ke paling sedikit tiga jaringan media sosial, dengan 70 persen di antaranya memposting konten minimal sekali dalam sehari.
  2. Marketer kebanyakan memanfaatkan visual konten, hashtag, dan username sebagai sebagai taktik penting untuk mengoptimalkan konten media sosial mereka.
  3. Lebih dari setengah dari keseluruhan narasumber (57 persen) menggunakan software untuk mengatur jadwal posting konten mereka dan merasakan bahwa software tersebut memudahkan mereka mengoptimasi konten sosial media mereka.

Kebanyakan Marketer Mengunakan Tiga atau Lebih Jejaring Media Sosial

Dari semua marketer yang menjadi narasumber survey tersebut, mayoritas (84 persen) mengatakan bahwa mereka aktif memposting konten untuk tiga jenis media sosial atau lebih, dengan media yang paling banyak digunakan antara lain Facebook, Twitter, dan/atau LinkedIn.

Secara total, sebanyak 61 persen menggunakan paling sedikit empat jenis media sosial; 20 persen menggunakan paling sedikit enam media sosial, dan yang paling mencengangkan, 3 persen di antaranya menggunakan 11 media sosial atau lebih.

Hasil tersebut menyisakan 14 persen dari marketer yang menggunakan hanya dua media sosial saja, dan 2 persen lain yang menggunakan satu media sosial secara rutin.

Menurut Strauss, dengan banyaknya marketer yang memposting konten mereka menggunakan bermacam-macam media sosial, para pebisnis yang hanya aktif menggunakan tiga jenis media sosial atau kurang akan sangat merugi. Pasalnya, banyak marketer pesaing yang menggunakan situs media sosial lebih dari 11 jenis, yang artinya apabila Anda hanya mengandalkan promosi konten melalui Facebook dan Twitter, hasilnya bisa jadi kurang maksimal.

Meski demikian, kata Strauss, banyak juga pengguna jejaring media sosial dengan cara yang kurang efektif. Misalnya, memposting konten secara acak, tanpa tujuan, dan bahkan tanpa memahami apa yang dapat dilakukan dengan masing-masing media sosial, mengingat setiap media sosial memiliki fungsi dan manfaat yang berbeda.

Kesimpulannya, ada perbedaan hasil yang mendasar antara memposting sebanyak-banyaknya dengan memposting secara strategis. Sebuah strategi marketing media sosial yang efektif tidak hanya melibatkan banyaknya konten yang diposting, tetapi juga konten yang tepat.

Kebanyakan Marketer Memposting Secara Rutin dan Merencanakan Konten untuk Selanjutnya

Kebanyakan marketer (70 persen) mengungkapkan bahwa mereka memposting konten di media sosial paling sedikit sekali dalam sehari, dengan 19 persen mengatakan bahwa mereka memposting lebih dari tiga kali dalam sehari. Berbanding terbalik, hanya 16 persen yang memposting lebih sedikit dari sekali dalam sehari, dan 14 persen lainnya tidak memiliki jadwal tertentu untuk melakukan posting.

Fakta bahwa banyak pebisnis yang memposting secara rutin dan konsisten ini bisa dibilang sangat mengesankan, mengingat banyaknya konten yang diposting di berbagai media sosial dengan guideline yang berbeda-beda, misalnya Twitter dengan maksimal 140 karakter yang berbeda dengan Facebook yang bebas menentukan berapa saja karakter yang digunakan dalam setiap postingan.

Ketika ditanya tentang seberapa panjang rencana postingan yang dilakukan oleh para pebisnis dalam setiap konten di media sosial, 41 persen menjawab “untuk beberapa hari hingga seminggu”. Jawaban ini merupakan jawaban paling populer mengenai durasi rencana posting konten. Total sebanyak 65 persen menjadwalkan konten media sosial mereka minimal untuk sehari kedepan, dengan 12 persen di antaranya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana yang pasti untuk menjadwalkan postingan dalam kurun waktu yang terencana.

Secara keseluruhan, data tersebut mengungkapkan bahwa banyak marketer membuat rencana sehingga konten media sosial dapat secara konsisten terbuat dan terposting dengan baik. Sebagai kesimpulan, pebisnis yang gagal memposting konten dengan konsisten akan kesulitan untuk membangun brand yang baik serta menaikkan engagement dari audiens, apalagi bila dihadapkan dengan kompetitor yang mengadopsi strategi konten media sosial yang lebih terencana.

Konten Visual dan Hashtag Adalah Taktik yang Paling Penting

Dari tujuh taktik yang berbeda, (antara lain konten visual, penggunaan hashtag, penargetan kelompok tertentu, pemanfaatan respon media sosial, optimisasi ukuran gambar untuk tiap jaringan, penggunaan video, dan pembatasan jumlah karakter) narasumber paling sering mengatakan bahwa konten visual dan hashtag merupakan elemen krusial untuk optimisasi media sosial. Sebanyak 82 persen narasumber mengatakan “penting” dan “sangat penting” menggunakan konten visual, sedangkan hashtag menempati 67 persen. Bahkan taktik yang bisa dibilang vital (misalnya video) masih dianggap hanya sebagai konten yang “cukup penting” dengan 68 persen mengatakan demikian.

Fakta bahwa secara mayoritas marketer melihat tujuh taktik tersebut sebagai sesuatu yang penting menunjukkan bahwa kebanyakan dari mereka percaya bahwa dalam mengoptimisasikan media sosial mereka membutuhkan pendekatan multifacet alias pendekatan yang beragam.

Meski demikian, Strauss beranggapan bahwa prioritas mereka membutuhkan banyak penyesuaian. Contohnya, memprioritaskan konten visual dan hashtag bisa saja memberikan dampak sebaliknya, bahkan memperlihatkan kekurangan akan pemahaman dasar-dasar strategi media sosial.

Contohnya, sederhana saja. Semua orang pasti tahu bahwa konten visual meningkatkan engagement yang baik. Namun, gambar yang seperti apa yang akan diberikan bila seorang pebisnis tidak mengerti siapa audiens mereka? Apabila konten visual Anda tidak sesuai dengan target audiens, maka konten tersebut bisa menjadi sia-sia saja.

Strauss juga percaya bahwa marketer harus lebih memprioritaskan pemanfatan respon media sosial (call to action). Mudahnya, jika seseorang tidak bertanya “kenapa tidak mengunjungi situs saya?” orang-orang mungkin tidak akan sulit-sulit mencari tahu tentang website orang tersebut. Respon yang baik dari audiens adalah yang paling utama.

Meski demikian, Strauss berpendapat, taktik tersebut akan benar-benar bekerja ketika seorang pebisnis mengetahui apa yang dia inginkan serta apa yang pebisnis tersebut inginkan dari audiens mereka. Intinya, pemilihan gambar dan CTA harus benar-benar dipilih dengan baik dan seksama untuk memunculkan respon yang spesifik dari audiens.

Contoh nyatanya adalah ketika Oracle ingin mempublikasikan event konferensi di South by Southwest Interactive bersama Chevrolet. Mereka menggunakan hashtag #sxswi untuk membagikan gambar promosi bagi para pengunjung. Selain itu, mereka juga memasukkan username @Chevrolet untuk berbagi dengan follower partner mereka, bersamaan dengan kalimat CTA yang menyarankan pengguna untuk mem-follow hashtag #IdeaRally dan ikut berdiskusi bersama via Twitter.

Karena tweet ini sangat relevan dengan pengunjung SXSWI, para pengguna akan dengan mudahnya merespon CTA yang diberikan dan berbagi tweet ini dengan follower mereka, yang nantinya juga akan tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Kebanyakan Melakukan Tes Sharing dan CTR untuk Mengoptimalkan Waktu Posting

Ketika ditanya tentang taktik yang mereka gunakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam posting di media sosial, hampir semuanya menjawabnya dengan jawaban yang sama, metode trial and error. Sebanyak 87 persen narasumber mengatakan telah melakukan tes untuk mengetahui sharing rates dan click-through rates (CTR) konten mereka di waktu dan hari yang berbeda dalam satu minggu. Tujuannya adalah untuk memahami kapan audiens potensial mereka merespon dengan baik.

Secara keseluruhan, narasumber menganggap bahwa share rate dan CTR hampir sama penting, dengan persentasi 35 versus 33 persen secara berturut-turut. Banyak juga yang merasa bahwa sangat penting (31 persen) dan/atau penting (33 persen) untuk menggunakan bantuan software optimisasi media sosial untuk menentukan waktu yang tepat.

Kesimpulannya, data ini menujukkan bahwa marketer merasa bahwa sangat penting untuk melakukan tes strategi dan monitoring media sosial untuk membuat keputusan mengenai kapan waktu yang tepat untuk memposting konten ke media sosial mereka berdasarkan data yang dihimpun serta berdasarkan beberapa indikator, ketimbang fokus kepada satu sumber saja.

Sangat sedikit responden yang merasakan bahwa sangat penting untuk membaca tren pasar dalam memahami waktu yang tepat untuk melakukan posting. Hal ini bisa dibilang masuk akal karena waktu posting yang optimal berbeda-beda tergandung pada beberapa faktor seperti jenis industri, besarnya bisnis, serta letak geografis.

Marketer Sukses dalam Menaikkan Followers dan Pengenalan Brand

Penelitian tersebut juga bertanya kepada narasumber tentang apa tujuan yang ingin mereka dapatkan melalui media sosial dan seberapa sukses mereka dalam mencapai tujuan tersebut. Sebagai respon, kebanyakan mengatakan bahwa mereka paling sedikit mengatakan “cukup sukses” ketika bertujuan untuk menaikkan follower (74 persen) dan mengenalkan brand (77 persen).

Hal ini membuat mereka fokus kepada usaha perusahaan untuk menaikkan audiens online dan mempersiapkan audiens untuk membuat mereka lebih reseptif terhadap usaha lanjutan para pebisnis, contohnya email marketing.

Faktanya, ketika ditanya mengenai usaha mereka untuk membangun hubungan baik dengan media sosial, 29 persen mengatakan sukses sedangkan 19 lainnya mengatakan kurang sukses.

Meski demikian, sisa 29 persen marketer yang disurvey mengatakan bahwa mereka sukses secara minimal atau tidak berhasil sama sekali. Sebagai tambahan, 32 persen jungkir balik untuk menjaga loyalitas para pelanggan, 39 persen berusaha membuat leads, dan 51 persen berusaha keras mengarahkan audiens ke penjualan langsung.

Menurut Strauss, hal ini juga memancing para pebisnis untuk menggunakan taktik media sosial yang lebih spesifik dan meraih tujuan mereka tanpa perlu banyak proses. Meski demikian, mereka masih berusaha untuk mengintegrasikan taktik mereka hingga menjadi strategi yang sempurna dan cocok bagi industri mereka secara nyata dan terukur.

Banyak Marketer Menggunakan Software untuk Mengatur Konten Mereka

Lebih dari setengah responden (57 persen) mengungkapkan bahwa perusahaan mereka menggunakan layanan software untuk mengotomatisasi posting konten untuk akun media sosial mereka. Bila dilihat dari banyaknya tools yang muncul dalam beberapa tahun belakangan, para marketer mulai sadar akan pentingnya menggunakan software sebagai bentuk manajemen media sosial mereka sehingga ingin mengadopsi tools tersebut demi mencapai tujuan mereka.

Meski demikian, 43 persen lainnya masih melakukan manajemen media sosial dengan cara manual. Menurut Strauss, hal ini akan sangat merugikan mereka bila dibandingkan dengan pebisnis yang menggunakan tools dalam sosial media mereka. Pasalnya, penggunaan software sebagai alat bantu manajemen media sosial mampu memudahkan pebisnis untuk melihat strategi mana yang berhasil dan mana yang tidak. Bila mereka tidak punya software untuk itu, artinya sama saja dengan mengalah.

Tambah Strauss, bila seorang pebisnis tidak menentukan tujuan untuk penggunaan media sosial mereka, tentu pebisnis tersebut tidak akan tahu apakah dia meraih tujuan itu atau tidak. Lebih lagi, ketika pebisnis hanya mengikuti intuisi tanpa tahu apa yang efektif atau tidak, bisa saja dia melakukan kesalahan yang fatal. Dan meskipun intuisi pebisnis tersebut benar, hal tersebut tidak akan membantu meyakinkan audiens untuk membeli produk mereka.

Sebagai kesimpulan, perusahaan yang tidak menggunakan software untuk memposting dan meningkatkan pengetahuan tentang apa yang orang katakan tentang produk mereka, kemungkinan besar akan dirugikan dan kalah, mengingat banyaknya kompetitor yang menggunakan software untuk membantu mengatur posting konten mereka.

Kebanyakan Marketer Mengalami Kesulitan Ketika Mengoptimalkan Konten Media Sosial

Ketika para responden ditanya tentang bagaimana sulitnya ketika mengoptimalkan konten dari berbagai jenis jejaring sosial, respon mereka cukup bervariasi. Meski demikian, lebih dari setengah responden (55 persen) menganggap hal tersebut “sedikit sulit” dengan 10 persen di antaranya mengatakan “sangat sulit”.

Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa marketer sulit untuk melakukan hal tersebut, meskipun mereka memahami bagaimana pentingnya strategi konten media sosial seperti konten visual, penargetan audiens, dan waktu yang tepat untuk memposting konten.

Sebagai tambahan, baik bisnis kecil (memiliki karyawan kurang dari 100) maupun bisnis besar (memiliki karyawan lebih dari 100) rata-rata memiliki pandangan yang relatif seimbang. Tingkat kesulitannya bervariasi, setengah mengatakan ini sulit, setengah lagi mengungkapkan ini mudah. Intinya, baik perusahaan kecil maupun besar memiliki peluang kesuksesan yang bervariasi dalam usaha mereka menggunakan media sosial sebagai alat marketing.

Penyebab utama yang logis dalam temuan ini adalah penggunaan software untuk memaksimalkan konten media sosial mereka. Pebisnis yang menganggap ini mudah memiliki software yang mengatur konten mereka secara otomatis, sedangkan pebisnis yang mengganggap ini sulit adalah pebisnis yang tidak memiliki software tersebut.

Overview

Melakukan tes berkali-kali adalah cara yang tepat untuk mencari konten yang tepat untuk audiens Anda. Tes tersebut juga mampu mendeteksi kapan waktu yang tepat untuk memposting konten Anda di media sosial. Untuk mempermudah pekerjaan Anda, ada baiknya untuk menggunakan layanan software media sosial sehingga Anda dapat fokus melakukan pekerjaan yang lain.

Dalam memaksimalkan konten media sosial memang susah-susah gampang. Namun, tidak berarti Anda harus bingung bagaimana melakukannya. Intinya, bagaimana Anda memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk memudahkan Anda meraih tujuan, baik itu menaikkan traffic media sosial bisnis Anda atau meningkatkan target penjualan. Selamat berbisnis!

 

Tips Digital Marketing untuk Bulan Ramadan

Ramadan merupakan bulan terpenting dalam kalender islam. Selama kurang lebih tiga puluh hari, umat islam diharuskan untuk berpuasa seharian. Karena tidak diperbolehkan makan dan minum, mereka akan menjadi lebih sering mengakses dunia online, menjadi peluang bagi para marketers untuk mempromosikan produk-produk mereka secara digital. Jadi, sudah siapkah Anda memanfaatkan momentum Ramadan untuk melakukan digital marketing?

Memahami Pentingnya Ramadan

Sebelum merancang strategi digital marketing untuk bulan Ramadan, pahamilah terlebih dahulu pentingnya Ramadan bagi umat muslim. Perilaku pembelian pun mengalami perubahan selama Ramadan. Produk-produk seperti makanan, pakaian, elektronik, dan perhiasan memiliki permintaan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Setelah membekali diri dengan pengetahuan yang cukup, beri pengertian kepada seluruh pegawai Anda tentang Ramadan. Anda dapat mencontoh strategi yang dilakukan oleh pusat perbelanjaan Trafford Centre di Manchester, UK, yakni dengan mengadakan kampanye marketing bertajuk All You Need for Eid untuk merayakan lebaran. 

Menyiapkan Budget Spesifik

Ramadan adalah momen spesial bagi umat muslim, begitu juga bagi Anda sebagai pelaku digital marketing yang hendak memanfaatkan momen tersebut untuk meningkatkan penjualan. Oleh sebab itu, siapkan pula budget spesial demi melakukan digital marketing untuk bulan Ramadan. Anda dapat mengadakan giveaway atau menawarkan diskon-diskon tertentu pada target audiens muslim Anda. Sebagai contoh, mayoritas perusahaan di kawasan Timur Tengah meningkatkan budget untuk advertising melalui platform digital sebanyal 20% selama Ramadan.

Kampanye yang Terintegrasi

Pada kehidupan serba online seperti sekarang, digital marketing memang menjadi cara yang sangat efektif untuk melakukan kampanye marketing, namun jangan sampai Anda mengabaikan offline marketing pula. Justru sebuah kampanye marketing akan lebih efektif apabila kedua jenis marketing tersebut dilakukan secara terintegrasi agar lebih maksimal menyampaikan pesan yang sama. Hal tersebut juga berlaku ketika Anda melakukan kampanye marketing untuk Ramadan. Salah satu contohnya dapat Anda pelajari dari TESCO, perusahaan retail makanan asal UK. Mereka mengadakan kampanye melalui website dengan menampilkan pesan-pesan kepada audiens muslim seperti “Ramadan Mubarak” atau “All you need for the occasion”. Di sisi lain, mereka juga menawarkan produk makanan halal bagi mereka.

Maksimalkan Penggunaan SSMM

SSMM mengacu pada singkatan Search and Social Media Marketing. Promosikan produk-produk Anda melalui optimalisasi Search Engine Optimization (SEO) dan media sosial. Gunakan perangkat seperti Google Analytics untuk memahami aktivitas konsumsi para pelanggan muslim Anda sekaligus menghitung Return on Investment (ROI). Media sosial juga dapat menjadi platform yang tepat untuk melakukan engagement dengan pelanggan muslim Anda. Terlebih, selama Ramadan, mereka memang menghabiskan waktu lebih banyak pada media sosial apabila dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Di Indonesia, situs smeadvisor mengatakan bahwa penggunaan media sosial pada bulan Ramadan meningkat hingga 30%. Peluang yang baik bagi Anda untuk melakukan digital marketing melalui media sosial.

Jangan Lupakan Perangkat Mobile

Everyone’s going mobile. Coba perhatikan betapa banyaknya toko yang menjual smartphone untuk berbagai kelas masyarakat selama beberapa tahun belakangan ini. Perangkat mobile jugalah yang menjadi pilihan mayoritas umat muslim untuk melakukan aktivitas online, mulai dari mencari informasi, berbelanja, hingga berinteraksi dengan sesama pengguna. Jadi, ketika menyusun strategi digital marketing untuk bulan Ramadan, jangan lupa untuk memasukkan perangkat mobile sebagai pertimbangan penting. Beberapa perusahaan bahkan sengaja menyusun strategi digital marketing untuk mobile terlebih dahulu, lalu jika kampanye tersebut berhasil, baru mereka akan mengadaptasinya pada media-media lain.

 

Ada satu hal lagi yang tidak kalah penting dari lima poin di atas, yakni menghormati umat islam sebagai target audiens Anda. Jangan menciptakan strategi digital marketing yang sekiranya akan menyinggung umat islam dan budaya yang mereka usung. Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk lebih dulu memahami pentingnya Ramadan sebelum menyusun strategi yang tepat.

5 Cara Pintar Menggunakan Hashtag dalam Marketing Media Sosial

Pada era sebelum internet, marketer menggunakan taktik dari mulut ke mulut untuk meningkatkan brand awareness serta penjualan dari produk mereka. Saat ini, cara tersebut berevolusi menjadi marketing media sosial. Di media sosial, penggunaan hashtag adalah salah satu cara untuk menarik seseorang agar membagikan hal tersebut ke orang-orang sekitarnya. Sayang, tak banyak yang tahu bagaimana menggunakan hashtag dalam marketing media sosial. Bagi Anda yang tertarik dengan marketing media sosial, berikut ini adalah beberapa cara pintar menggunakan hashtag dalam marketing media sosial.

1. Tambahkan Link di Akhir Hashtag Anda

Seperti yang kita tahu, hashtag mampu menaikkan brand awareness kepada banyak orang, selama hashtag tersebut memang benar-benar cocok dan relevan. Sebuah penelitian berbasis Twitter menemukan, tweets yang memiliki hashtag 12 persen lebih banyak mendapatkan perhatian daripada tweets yang tidak menggunakan hashtag. Biasanya, perhatian tersebut berupa RT, favorite, atau @ reply. Uniknya, tweets yang memasukkan link di akhir hashtag menunjukkan engagement yang lebih banyak dari semua jenis tweets.

2. Lebih Banyak Hashtag untuk Diuji, Lebih Bagus

Menemukan hashtag yang relevan dan mudah mendapat perhatian tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan uji coba hingga berkali-kali agar menemukan hashtag yang tepat. Oleh karena itu, siapkan banyak hashtag untuk diuji coba sebagai upaya mengetahui hashtag mana yang paling ramai dan mendapatkan banyak respon.

3. Samakan Hashtag Anda untuk Semua Media Sosial

Setiap media sosial memiliki karakter post yang berbeda. Twitter misalnya, membatasi setiap tweets hanya dengan 140 karakter. Facebook, mampu memasukkan sebanyak mungkin karakter dalam satu status post. Sedangkan Instagram, hanya berupa gambar dan caption. Satu-satunya cara untuk menggabungkan semua media sosial tersebut adalah dengan hashtag. Gunakan hashtag tersebut sebagai identitas utama untuk brand Anda. Samakan penggunaan hashtag tersebut di seluruh platform media sosial. Dengan demikian, identitas brand Anda akan sangat kuat diberbagai media sosial.

4. Buatlah Sebuah Cerita dengan Hashtag Anda

Sebuah hashtag tidak perlu panjang, namun harus mampu menjadikan seseorang dapat bercerita dengan hashtag tersebut. Misalnya hashtag #baper. Seseorang akan menggunakan hashtag tersebut untuk bercerita tentang kisahnya sendiri. Orang lain yang membacanya akan terpancing untuk membuat cerita yang serupa dengan hashtag yang sama.

5. Pancing Audiens untuk Memprediksi

Bila brand Anda bekerja sama dengan event perlombaan, tidak ada salahnya jika Anda membuat hashtag yang akan memancing seseorang untuk memprediksi siapa yang akan menang dalam perlombaan tersebut. Misalnya, hashtag #SiapaBakalJuara. Post hashtag ini ketika event sedang berlangsung. Arahkan agar audiens mem-follow akun Anda sebagai cara untuk mengetahui siapa yang akan menang dalam event tersebut.

 

Bagaimana menurut Anda? Cara mana yang ingin Anda coba dalam waktu dekat? Cara apapun yang Anda gunakan, kejelian dalam mencari celah juga kreatifitas akan sangat penting untuk menjamin keberhasilan sebuah hashtag dalam meningkatkan branding awareness.

5 Contoh Penggunaan Hashtag yang Tepat Sasaran

Branding yang sukses untuk produk Anda kuncinya adalah bagaimana orang dapat menemukan brand Anda dengan mudah dan efektif. Salah satu cara agar orang dapat menemukan brand Anda dengan mudah adalah hashtag. Sayang, tak semua brand mampu membuat hashtag yang menarik dan relevan. Namun, sekali Anda menemukan hashtag yang cocok, akan sangat banyak manfaat yang Anda dapatkan. Sebagai inspirasi dalam membuat hashtag yang tepat, berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan hashtag yang tepat sasaran.

1. #AdaAQUA – Aqua

Di Twitter maupun Instagram, hashtag #AdaAQUA dapat dibilang sukses menjadikan Aqua sebagai brand yang mudah dikenali. Mengaitkan daya konsentrasi dengan kurang minum menjadi fokus utama yang digunakan oleh Aqua sebagai branding yang pas. Banyak akun sosial media yang akhirnya menggunakan hashtag tersebut sebagai guyonan kepada rekannya. Sadar atau tidak, brand Aqua makin kuat di sosial media. Inilah yang disebut sebagai branding dengan keunggulan produk yang relevan.

2. #ShareACoke – Coca Cola

Coca Cola bisa dibilang sangat serius dalam memasarkan produknya dalam beberapa tahun ini. Salah satu contoh terbaik yang pernah dilakukan adalah ketika mereka memproduksi botol dan kaleng bertuliskan frasa “Share a Coke With” dengan nama dan titel berbeda, misalnya “Share a Coke with Mom” atau “Share a Coke with Michael”. Coca Cola pun berhasil menggunakan hashtag #ShareACoke untuk memancing pelanggan mereka men-Tweet kisah-kisah mereka menggunakan hashtag ini. Hashtag ini kemudian memberikan Coca Cola kesempatan promosi baru dengan botol bernama “Ryan” yang mana pemenangnya akan berkesempatan untuk #ShareACoke dengan Ryan Seacrest.

3. #OreoHorrorStories – Oreo

Halloween 2013 merupakan saat dimana Oreo mampu membuat hashtag khusus Halloween yang benar-benar menarik. Perusahaan biskuit ini menggunakan Vine untuk membuat cuplikan parodi dari film-film horror populer. Contoh ini merupakan penggunaan hashtag yang sangat relevan dan timing yang cukup tepat sehingga banyak engagement dalam setiap post mereka.

4. #NationalFriedChickenDay – KFC

Terkadang trending hashtag hanya cocok untuk satu brand saja. Misalnya, ketika #NationalFriedChickenDay jadi tren, Kentucky Fried Chicken memanfaatkan kesempatan ini untuk semakin menguatkan brand mereka. KFC menggunakan hashtag ini sebagai sarana promosi spesial sale pada hari tersebut.

5. #CollegeIn5Words – Denny’s Diner

Mungkin Anda sering menemukan frase seperti ini di Twitter atau Instagram, yang mengharuskan penggunanya untuk menceritakan aktivitas atau kejadian dalam beberapa kata saja. Denny’s Diner, sebuah perusahaan yang juga terkenal berkat Tweet mereka yang lucu dan menarik, mengambil kesempatan ini untuk menjadikan brand mereka makin terkenal. Mengambil kesempatan pada tren terkini serta membuatnya relevan dengan brand mereka membuat Denny’s Diner membawa banyak engagement untuk akun mereka.

 

Itulah tadi beberapa contoh sempurna penggunaan hashtag yang tepat. Kuncinya adalah bagaimana hashtag Anda tetap relevan dan mudah untuk dibaca. Timing yang tepat juga akan menambah intensitas engagement pada akun Anda.

Page 1 of 2
1 2