5 Hal Penting tentang Konten Marketing yang Perlu Anda Ketahui

Konten marketing sekarang menjadi salah satu alat utama untuk mengangkat bisnis baru ataupun bisnis yang sudah kelas kakap. Konten marketing adalah teknik membuat suatu pemasaran yang dapat mendorong pelanggan untuk tertarik dengan bisnis atau jasa Anda. Di dalam sebuah konten marketing, ada banyak sekali faktor yang dapat membuat campaign Anda berhasil atau tidak. Ada banyak sekali orang yang salah kaprah dengan konten marketing. Jadi, sebelum Anda ikut salah kaprah Anda harus melihat 5 hal penting tentang konten marketing di bawah ini.

Fokus kepada Pelanggan

Fokus dari konten marketing tidak terletak pada Anda sebagai pemilik brand, melainkan pelanggan Anda. Anda tentu tidak perlu ikut-ikutan dalam promosi di dalam konten marketing, yang harus Anda lakukan adalah bagaimana para pelanggan Anda tahu tentang konten Anda. Oleh karena itu, Anda harus mengetahui demografis dan market dari calon pelanggan Anda sebelum memulai menciptakan konten marketing.

Dan Ini Tidak Gratis

Jangan Anda pikir untuk membuat konten marketing Anda tidak perlu mengeluarkan uang. Mungkin Anda bisa menulis artikel atau membuat grafis sendiri, tetapi tentu Anda tidak bisa melakukan itu semuanya sendiri, bukan? Yang harus Anda lakukan adalah selalu membuat konten marketing yang dinamis. Jadi Anda harus membutuhkan penulis, desain grafis, atau merekrut orang untuk terjun langsung ke ranah media sosial.

Original

Nah, banyak sekali para pemilik bisnis di Indonesia yang sulit untuk membuat karya yang original. Malah kebanyakan meniru iklan di luar negeri atau bahkan di dalam negeri sekali pun. Padahal, semakin original karya Anda, percayalah akan semakin banyak orang yang respect dengan usaha Ada. Ketika konten marketing Anda sudah diluncurkan, jangan terlalu cepat puas atau bahkan cepat putus asa karena konten marketing Anda tidak laku. Yang harus Anda lakukan adalah menunggu dan melakukan riset apa saja yang kurang dari konten marketing Anda tersebut. Memperbanyak riset akan membuat Anda dengan mudah mendapatkan konten yang original.

Cocok untuk Segala Bisnis

Kata siapa konten marketing hanya ditujukan untuk startup atau hanya bisnis kelas besar? Konten marketing bisa diterapkan oleh siapa saja dan untuk segala bisnis. Mulai dari bisnis kecil menengah sampai bisnis yang sudah besar sekali pun. Walaupun Anda mempunyai bisnis baru, menjalankan konten marketing secara sederhana juga tidak salahnya.

Visual

Ini juga yang sering menjadi salah kaprah orang terhadap konten marketing. Konten marketing tidak hanya soal artikel yang bagus atau SEO. Konten marketing juga sangat berhubungan dengan visual. Anda harus tahu seperti apa bisnis Anda, apakah cocok menggunakan konten dengan visual atau hanya artikel. Tetapi hampir sebagian besar bisnis akan cocok dengan visual. Jadi jangan takut untuk mengeluarkan uang dalam investasi meng-hire desainer grafis.

 

Bagaimana, sudah mengetahui beberapa hal penting tentang konten marketing? Konten marketing yang baik tentunya juga harus ditunjang dengan website yang responsif dan baik. Untuk mewujudkannya, Anda bisa mendatangi StoreMantap di acara Jatim Fair 2016 yang diadakan pada tanggal 6-16 Oktober 2016 di Grand City Surabaya. Kami siap melayani Anda di booth nomor 159. Jangan lewatkan perilisan produk terbaru kamu pula, yakni POS by StoreMantap dan SM Keyboard. Kami tunggu kehadiran Anda!

Kesalahan User-Generated Content yang Harus Dihindari

Pernah mendengar istilah user-generated content? User-generated content adalah konten yang disumbangkan oleh pengguna website Anda, dapat berupa komentar atau testimoni dari pelanggan Anda. Ketika digunakan dengan baik, UGC akan memberikan brand Anda visibilitas, traffic, serta penjualan yang lebih tinggi.

Sayangnya, bila tidak dikembangkan dengan baik, UGC dapat menjadi bumerang yang malah akan mematikan brand Anda. Untuk itu, perlu bagi Anda untuk memperhatikan kesalahan user-generated content yang harus Anda dihindari untuk mencegah hal tersebut. Berikut ini adalah kesalahan yang paling sering dilakukan ketika seseorang menggunakan strategi user-generated content untuk meningkatkan brand awareness.

Publishing Tanpa Izin

Membuat peraturan publishing adalah salah satu hal yang harus Anda lakukan. Pastikan bahwa Anda hanya mem-publish konten-konten yang telah disetujui. UGC pada dasarnya dibuat dan diajukan secara suka rela. Mereka tentu memberikan konten sesuai dengan isi hati mereka, yang mungkin tidak sesuai dengan kampanye Anda. Maka dari itu, Anda wajib memberikan detail syarat dan ketentuan UGC yang diperbolehkan dan bagaimana UGC didistribusikan.

Penggunaan UGC yang Hanya Sekali

Konten pelanggan seperti foto, review, atau Q&A yang bagus harus mendapatkan perhatian yang lebih dari sekadar komentar saat itu saja. Anda harus menggunakannya kembali untuk kegunaan yang lain. Setiap kontribusi mereka akan sangat bernilai demi menaikkan brand.

Caranya, Anda dapat mengumpulkan konten-konten tersebut menjadi satu konten yang menarik dan saling berhubungan. Konten ini dapat digunakan untuk meningkatkan brand awareness di lain hari.

Salah Interpretasi

Kunci dalam menggunakan UGC adalah keterkaitannya dengan brand Anda. Bagaimana pun calon pelanggan akan mencari informasi yang relevan terhadap suatu barang dari sumber yang terkait dan dapat dipercaya, yakni pelanggan lama Anda. Interest dan pain points yang dibagikan antara calon pelanggan dan pelanggan lama akan membantu brand Anda untuk tumbuh dengan nama yang lebih baik.

Selain itu, ketika menunjukkan detil tentang pengalaman pembelian pelanggan, meski mereka memberikan review yang negatif, akan berdampak pada keputusan pembelian yang lebih mantap oleh pelanggan serta menambahkan transparansi dan kepercayaan pada imej brand Anda.

Maka dari itu, ada baiknya apabila Anda mengatur dengan baik foto, review, dan Q&A berdasarkan golongan tertentu di website Anda untuk menunjukkan keterkaitan satu sama lain. Hal ini akan membantu calon pelanggan untuk lebih mengenal produk Anda yang menjadi incaran mereka.

Membiarkan Perbincangan tentang Produk Anda Menghilang Begitu Saja

Engagement dari pelanggan mampu menciptakan UGC, namun UGC juga akan meningkatkan engagement dari pelanggan. Pasti Anda sering menemukan calon pelanggan Anda dan pelanggan lama Anda saling bertukar informasi tentang produk tersebut di media sosial. Hal ini harus Anda pertahankan untuk membangun branding yang bagus.

Caranya, perhatikan produk Anda disebutkan di media sosial. Like atau komentari perbincangan tersebut. Bila perlu, tanggapi juga perbincangan tersebut. Dengan demikian, audiens perbincangan tersebut akan lebih banyak. Semakin bagus komunikasi antara toko online Anda dengan pelanggan, semakin tinggi tingkat hubungan Anda dengan pelanggan serta meningkatkan kesetiaan pelanggan pada brand Anda.

Kampanye UGC yang Tidak Sesuai dengan Ketertarikan Pelanggan

Kreativitas adalah bagian terpenting dalam UGC. Namun, bagimana pun kampanye haruslah cocok dengan identitas brand yang ingin Anda bangun dan secara efektif menarik partisipasi dari pelanggan. Bila kampanye UGC tidak cocok dengan brand Anda, pelanggan tidak akan ingin berpartisipasi.

Maka dari itu, cari tahu apa kisah tentang brand Anda yang kemungkinan besar disukai oleh para pelanggan. Gunakan hal tersebut sebagai tema utama dalam kampanye Anda. Entah desain produk atau membuat donasi dari setiap penjualan produk, hal tersebut akan membuat orang lebih mencintai produk Anda selama masih sesuai dengan ketertarikan mereka.

 

Itulah beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh pebisnis ketika menjalankan strategi user-generated content. Yang terpenting dalam UGC adalah bagaimana Anda membentuk opini calon pelanggan dengan memberikan kualitas layanan terbaik sehingga pelanggan lama memberikan gambaran yang jelas dan positif dari produk Anda. Semoga berhasil!

Mengapa Anda Harus Menggunakan Conversion Rate Optimization pada Website Anda?

Selain Search Engine Optimization (SEO), sangat penting bagi Anda untuk memaksimalkan Conversion Rate Optimization (CRO). Mungkin banyak bagi Anda yang masih awam dengan hal ini. CRO adalah tingkat perubahan traffic website menjadi penjualan. Memang pada dasarnya CRO akan meningkatkan penjualan Anda. Lantas, apalagi yang jadi alasan mengapa Anda harus menggunakan CRO pada website Anda? Berikut ini alasan-alasannya.

Pelanggan yang Lebih Banyak, Tanpa Iklan Berlebihan

Tentu saja, alasan utama kenapa harus menggunakan CRO pada website Anda adalah untuk mendapatkan pelanggan yang lebih banyak. Penggunaan CRO pada website akan menekan pengeluaran berlebihan pada periklanan. Tanpa pasang iklan, Anda sudah dapat pelanggan yang tertarik dengan produk Anda. Hal ini cukup menguntungkan bagi bisnis toko online yang notabene sangat tergantung pada iklan.

Fenomena “Unggul Tipis”

Dalam setiap kompetisi, berlaku istilah “pemenang mendapatkan semuanya” atau minimal dapat yang lebih banyak. Dalam pasar online, hal ini juga terjadi.

Sebenarnya mudah untuk mengatakan hal ini. Bila Anda ingin dua kali lebih untung dibanding kompetitor Anda, tidak perlu rasanya untuk dua kali lebih bagus dari mereka. Anda hanya perlu untuk sedikit lebih baik dari mereka. Inilah yang dinamakan fenomena “unggul tipis”

Intinya, Anda butuh profit-per-visitor yang lebih tinggi. Peningkatan sekecil apapun pada profit-per-visitor Anda akan berdampak pada keuntungan bisnis Anda dan tentunya kesuksesan bisnis Anda. CRO adalah salah satu cara untuk meningkatkan profit-per-visitor.

Perlu diingat, ketika Anda sudah berada di depan kompetitor Anda, jangan berhenti sampai di situ. Anda harus tetap melaju ke depan dengan membuat inovasi-inovasi lain yang lebih hebat.

CRO Mampu Meningkatkan Keuntungan

Tujuan utama CRO adalah mengubah traffic menjadi penjualan. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap keuntungan yang Anda dapat. Selama SEO telah dijalankan dengan sempurna, CRO akan secara efektif meningkatkan keuntungan Anda hingga sepuluh kali lipat.

CRO Mampu Membuat Bisnis Anda Lebih Berkembang

Ketika conversion rate meningkat, tiba-tiba Anda dapat mengiklankan produk Anda di media yang lain, baik online maupun offline. Hal ini akan membuat bisnis Anda makin berkembang. Keuntungan yang didapat dari peningkatan conversion rate akan mengembangkan bisnis Anda secara berkesinambungan. Bukan tidak mungkin perkembangan bisnis ini akan melemahkan kompetitor Anda dan membuat Anda “memonopoli” bisnis. Terkesan jahat memang, namun setidaknya Anda bersaing sehat.

 

Itulah beberapa alasan yang akan Anda dapatkan ketika menggunakan Conversion Rate Optimization (CRO) pada website Anda. Jangan berhenti mengembangkan website Anda hingga sampai ke puncak kepuasan Anda saja. Anda harus selalu berinovasi demi mengembangkan bisnis Anda untuk jadi lebih unggul dari semua kompetitor.

Menggunakan Conversion Rate Optimization untuk Inbound Marketing

Dibandingkan dengan Search Engine Optimization (SEO), popularitas Conversion Rate Optimization (CRO) dapat dibilang masih kalah jauh. Umumnya, mayoritas marketer menggunakan strategi SEO dalam inbound marketing untuk mengangkat jumlah traffic pada website mereka. Lalu, apa yang terjadi? Apakah Anda berhenti hanya sampai di situ? Apa tujuan yang ingin Anda capai dengan meningkatkan traffic tersebut?

Sebelumnya, perlu diingat bahwa CRO tidak berusaha untuk menggantikan SEO. Apabila SEO fokus pada peningkatan jumlah traffic, maka CRO yang akan mengubah traffic tersebut menjadi leads dan sales, atau yang biasa Anda sebut dengan konversi. Sama seperti SEO, CRO juga memiliki strategi-strategi lain yang dilakukan melalui serangkaian proses metodis, ilmiah, dan straightforward.

Dengan menggunakan CRO, Anda bisa melakukan evaluasi terhadap saluran penjualan untuk mengidentifikasi strategi yang akan Anda tingkatkan pada website Anda. Tujuannya adalah untuk meningkatkan persentase orang-orang yang melakukan sign up demi produk Anda. Selanjutnya, Anda akan berhadapan dengan hipotesis untuk dites, lalu Anda membuat versi baru dari halaman website atau landing page untuk dibandingkan dengan versi lama. Hasil dari tes akan menentukan versi mana yang lebih efektif untuk membuat pengunjung melakukan konversi.

Pengertian dari CRO

Jadi, sebenarnya apa yang dimaksud dengan CRO? Ada banyak penjelasan mengenai hal ini. Tim Ash, CEO dari SiteTurners dan penulis buku berjudul Landing Page Optimization: The Definitive Guide to Testing and Tuning for Conversatios, mengartikan CRO sebagai ilmu dan seni untuk membuat orang melakukan sesuatu begitu mereka mengunjungi website Anda. Untuk melakukan hal tersebut, dibutuhkan banyak elemen seperti desain visual, copywriting, pengalaman pengguna, psikologi, menguji berbagai konten website dengan versi berbeda, dan tentunya memengaruhi orang untuk bertindak.

Apabila Anda pernah mendengar tentang A/B testing atau mengubah warna button pada website untuk melihat versi mana yang bisa menarik lebih banyak konversi, maka Anda sudah memiliki sedikit pengetahuan tentang CRO. Meski begitu, CRO lebih dari sekadar itu. Masih ada banyak hal yang perlu Anda ketahui di bali CRP. Andy Crestodina, founder dari sebuah agensi digital marketing bernama Orbit Media Studios, menjelaskan bahwa CRO adalah istilah yang berkaitan dengan hal-hal marketing dan website yang berpengaruh pada konversi. CRO memang dikenal sebagai metode yang ilmiah dan straightforward, namun di sisi lain juga cukup kompleks.

Pentingnya Penerapan CRO dalam Inbound Marketing

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, CRO sangat penting untuk dilakukan karena mampu meningkatkan penjualan sejumlah traffic yang Anda terima. Anda mungkin akan berpikir, mengapa saya tidak menggunakan metode Pay per Click (PPC) ads atau metode digital marketing lain saja? CRO mampu mengonversi traffic yang Anda terima menjadi leads atau sales secara lebih efisien. Mari melihat betapa pentingnya penerapan CRO dalam inbound marketing melalui contoh kasus yang dikemukakan oleh situs Quicksprout berikut ini.

Bayangkan Anda adalah seorang pemilik dari bisnis software-as-a-service (SaaS). Sebelum mengoptimalkan website, Anda telah berhasil meyakinkan 5% dari pengunjung website untuk melakukan sign up terhadap layanan Anda senilai Rp 500.000 per bulan. Jika ada 1.000 pengunjung per bulan, maka 50 pengunjung di antaranya akan memberikan penghasilan kepada Anda sebesar Rp 25.000.000 per bulan. Kini, anggaplah Anda telah melakukan optimasi website dan berhasil meningkatkan rate konversi menjadi 7,5%. Pada rate ini, 1.000 pengunjung meningkat menjadi 75 pelanggan dan Rp memberikan penjualan sebesar 37.500.000 per bulan.

Sudah mulai memahami pentingnya CRO dalam inbound marketing? Anda tidak mengubah apapun dari bisnis Anda, tetapi setelah mengubah saluran konversi menjadi lebih efektif, penjualan pun meningkat hingga Rp 12.500.000 untuk jumlah pengunjung dan harga yang sama dengan sebelumnya. 

Aktivitas yang Terkait dengan CRO

Lalu, dari mana Anda harus memulai jika sudah mantap memutuskan untuk menerapkan CRO pada bisnis Anda? Pada dasarnya, kunci utama dari keberhasilan CRO adalah pengujian atau testing. Tanpanya, Anda hanya akan “terjebak” di dalam insting sendiri dan bingung menentukan elemen mana yang lebih efektif. Tidak begitu halnya jika Anda melakukan testing. Melalui testing, Anda bisa segera tahu apakah perubahan yang diterapkan pada elemen website mampu meningkatkan jumlah konversi atau justru menurunkannya.

Tentu saja ada hal-hal lain yang perannya tidak kalah penting dalam CRO. Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa melihatnya di bawah ini.

1.  Riset Persona

Istilah persona mengacu pada profil fiksi dari pengunjung potensial website Anda atau pelanggan potensial untuk layanan Anda. Sebagai contoh, persona untuk sebuah website dari brand sepatu bisa berupa seorang pria bernama Budi berusia 28 tahun. Ia berasal dari Surabaya namun kini harus tinggal di Bandung karena tuntutan pekerjaannya sebagai jurnalis. Budi memiliki hobi jogging dan rutin melakukannya tiga kali dalam seminggu. Sebulan lagi, ia akan mengikuti event lari yang diadakan oleh kantornya dan ia membutuhkan running shoes baru karena sepatu yang lama sudah berlubang.

Itulah salah satu contoh persona yang bisa diterapkan pada riset Anda nanti. Dilansir dari Forbes.com, Tony Zambito selaku ahli pada bidang buyer persona menjelaskan bahwa persona mampu membantu menguraikan kerumitan yang muncul menjadi sebuah pemahaman insightful, sehingga memudahkan Anda dalam proses pengambilan keputusan. Persona merupakan salah satu kunci penting dalam CRO karena hal inilah yang memengaruhi bagaimana Anda akan medesain website, melakukan kurasi konten, hingga kata kunci apa yang Anda gunakan untuk kepentingan SEO. 

2.  Skenario Perjalanan Pengguna

Masih menggunakan Budi sebagai contoh persona, Anda bisa mengambil menentukan pertanyaan bagaimana Budi dan persona lain akan menemukan website produk sepatu Anda? Apa yang akan Budi lakukan begitu ia mengunjungi website? Informasi apa yang ia cari? Button apa yang sekiranya akan ia klik? Menanyakan hal-hal tersebut dan mengidentifikasi jawabannya adalah dasar-dasar yang harus Anda lalui untuk menciptakan skenario “perjalanan” pengguna. Langkah ini mampu membantu Anda memahami pelanggan secara lebih baik dan menyediakan nilai-nilai tertentu di mana mereka membutuhkannya.

3.  Analisis Heatmap

Lalu, bagaimana Anda bisa mengetahui konten atau elemen apa saja yang dilihat dan di-klik oleh pengunjung website? Anda bisa menggunakan perangkat bernama heatmap. Pada dasarnya, heatmap akan memberi gambaran secara keseluruhan tentang aktivitas klik pada suatu halaman website. Dari gambaran tersebut, Anda bisa mendapatkan insight berharga tentang perubahan apa saja yang harus dilakukan demi meningkatkan jumlah konversi pada website.

Gregory Ciotti, anggota tim marketing dari perusahaan software untuk customer support bernama Help Scout, pernah melakukan analisis heatmap dan hasil yang didapatkannya benar-benar luar biasa. Sebagai contoh, analisis heatmap yang Ciotti lakukan menunjukkan bahwa orang-orang cenderung fokus pada wajah bagi ketika berhadapan dengan foto bayi yang menatap kamera. Tetapi ketika gambar bayi pada foto sedang melihat ke arah lain, fokus pengunjung website akan beralih kepada hal yang sedang dilihat oleh bayi tersebut.

4.  Menggunakan Warna Berbeda pada Button

Meskipun terdengar sepele, warna pada button Call-to-Action (CTA) pada website Anda ternyata memberi pengaruh cukup kuat pada rate konversi. Kabar baiknya, Anda bisa melakukan testing secara mudah dan hal tersebut memang merupakan dasar dari penerapan CRO. Ada banyak platform CRO, seperti Visual Website Optimizer, yang menyediakan testing warna button secara simpel. Anda bahkan tidak membutuhkan bantuan developer atau desainer.

Berbicara tentang button CTA, Anda mungkin cukup sering mendengar atau membaca tentang bagaimana warna merah atau oranye mampu memberikan performa paling baik. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah maupun benar. Nyatanya, testing pada button CTA yang dilakukan oleh HubSpot menunjukkan bahwa faktor kuncinya terletak pada kontras.

Jika berniat untuk melakukan testing pada button CTA, mulailah dengan menguji warna yang benar-benar bertolak belakang dari palette warna pada website Anda. Sering kali justru kontras itulah yang dibutuhkan untuk meningkatkan konversi. Masih dari HubSpot, riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa mengubah warna pada button CTA tebrukti mampu meningkatkan konversi hingga 25%. 

5.  Lakukan A/B Testing pada Website

Inilah faktor yang menjadi kunci utama dari CRO. Cara pelaksanaannya cukup mudah. Pilih salah satu halaman website Anda, lalu buatlah copy yang sama. Biarkan halaman website pada copy A apa adanya. Pada copy B, ubahlah salah satu elemen yang ada, misalnya pemilihan kata untuk headline, penempatan gambar, atau warna button. Arahkan masing-masing 50% traffic pada kedua copy halaman website tersebut. Biarkan tes tersebut berlangsung selama beberapa saat untuk mengumpulkan jumlah sample yang cukup. Lalu, analisis hasil yang Anda dapat dan gunakan copy yang memberi performa lebih baik. Ulangi proses tersebut untuk elemen-elemen dan halaman website lain.

Selagi Anda terus menjalankan A/B testing, diharapkan website Anda akan mampu mengonversi lebih banyak traffic. Jika hendak melakukannya untuk pertama kali, Anda disarankan untuk menerapkannya pada elemen headline yang terdapat di landing page karena halaman inilah yang Anda pilih untuk menjadi tempat “persinggahan” orang-orang ketika melakukan sign up. Elemen headline dapat menjadi CTA tersendiri yang harapannya mampu meningkatkan keyakinan orang untuk melakukan konversi.

Menurut HubSpot, setidaknya ada empat opsi yang bisa Anda terapkan untuk mengetes elemen headline pada landing page, yaitu:

  • Benefits-focused: headline yang mengomunikasikan keuntungan produk Anda, misalnya “Tingkatkan lead dengan Strategi CRO!”.
  • Descriptive: headline yang memberi tahu Anda tentang produk yang ditawarkan, misalnya “Layanan CRO untuk Inbound Marketing”.
  • Emotional: headline yang berusaha untuk menarik perhatian pengunjung pada level psikologi, seperti “Anda pasti akan suka menjadi marketer yang lebih baik!”.
  • Match the Ad: banyak marketer yang mendapat hasil konversi tinggi ketika ada simetri antara keyword yang digunakan seseorang, headline dari iklan PPC, dan headline landing page. Misalnya, untuk menarget konversi dari orang-orang yang menggunakan kata kunci “strategi inbound marketing”, Anda bisa menggunakan “Strategi Inbound Marketing” untuk headline PPC dan landing page.

6.  Split Tes terhadap Landing Page yang Paling Sering Dikunjungi

Perlu diketahui bahwa split testing berbeda dari A/B testing meski mungkin teknisnya cenderung mirip. Istilah split testing digunakan ketika Anda menguji desain yang sangat berbeda dari satu sama lain, sedangkan A/B testing digunakan ketika Anda menguji dua versi dari sebuah elemen halaman tertentu.

Pada poin ini, lagi-lagi landing page menjadi halaman website yang dipilih karena alasan yang sudah disebutkan sebelumnya. Anggaplah bahwa A/B testing yang Anda lakukan terhadap headline landing page sudah membuahkan hasil, maka sekarang Anda siap untuk menciptakan desain landing page yang fresh dan menarik. Sebagai contoh, mungkin Anda bisa menguji desain landing page yang bersifat conversion-focused, yakni dengan gambar seseorang yang terlihat sedang melihat ke arah button CTA, sehingga perhatian pengunjung juga ikut terarah kepada hal yang sama.

7.  User Testing

Sebagai pemilik website, Anda tentu merasa bahwa website yang Anda buat sudah sesuai dengan kebutuhan target audiens, baik dari segi konten hingga penggunaannya. Tapi apakah benar begitu? Elemen-elemen yang Anda nilai simpel bisa saja dianggap membingungkan oleh pengunjung. Anda bisa melakukan user testing sendiri untuk mendapatkan lebih banyak data atau menggunakan layanan seperti User Testing. Richard Littauer, seorang ahli web design sekaligus founder dari situs TheUserIsDrunk.com pernah berkata, “Your website should be so simple, a drunk person could use it.” Meskipun terdengar nyeleneh, perkataan tersebut ada benarnya juga dan bisa Anda terapkan ketika mendesain website.

8.  Bermain dengan Subject E-mail

E-mail mungkin bukan merupakan elemen pada website, namun e-mail lah yang akan menjadi salah satu jembatan komunikasi di antara Anda dan pelanggan. Sama halnya dengan landing page, e-mail juga memiliki headline berupa subject. David Ogilvy, pakar dalam bidang periklanan, pernah menyebut bahwa dengan menulis subject e-mail, Anda sudah memberikan 80% investasi marketing.

Tentu ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk menulis subject e-mail yang menarik, namun apabila ada satu tips yang wajib dicoba, maka hal tersebut adalah memberikan sentuhan personal. HubSpot mengatakan bahwa cara ini telah terbukti mampu menaikkan rate pelanggan yang benar-benar membuka e-mail dan membacanya. Cara lain yang bisa Anda coba adalah dengan menyertakan emoji. Setiap brand memiliki target audiens berbeda dan cara yang diterapkan mungkin tidak akan sama. Oleh sebab itu, teruslah melakukan tes agar e-mail yang Anda kirimkan tidak dianggap sebagai spam dan langsung dihapus tanpa dibaca dulu.

Anda sudah mencoba berbagai cara di atas sebagai strategi CRO, lalu apa yang harus dilakukan? Tentu saja melakukan analisis analitik terhadap hasil yang didapat. Anda bisa menggunakan Google Analytics yang memiliki berbagai data dan perangkat terkait denga CRO. Tidak hanya bisa melakukan track terhadap konversi di dalam software, tetapi juga seluruh data yang mengarah pada konversi. Menariknya lagi, Google Analytics juga memungkinkan Anda untuk men-track data yang tidak mengarah pada konversi, sehingga Anda bisa menentukan elemen apa saja yang perlu diubah.

 

Itulah beberapa strategi CRO yang bisa Anda lakukan untuk inbound marketing. Mengoptimalkan website untuk konversi merupakan sebuah proses berkelanjutan yang mencangkup seluruh aktivitas di atas dan hal-hal lain. Jika menemui kesulitan untuk memulainya, Anda bisa mengidentifikasi objective atau target yang ingin dicapai dan jumlah budget yang dimiliki. Hal terpenting adalah Anda memulainya saat ini juga. Semakin cepat Anda mengaplikasikan CRO pada website Anda, semakin cepat pula Anda akan menuai hasil sesuai dengan target yang diinginkan. Good luck!

Fenomena Pokemon Go dan Peluang Marketing yang Bisa Dimanfaatkan

Masih ingat dengan serial animasi Pokémon yang rutin tayang di layar kaca? Kini, Anda bisa mengikuti jejak Satoshi atau Ash untuk ikut menangkap Pokémon di dunia nyata! Selama beberapa hari belakangan ini, dunia sedang menggandrungi aplikasi Pokémon Go dari perusahaan Niantic. Pada dasarnya, Pokémon Go merupakan sebuah permainan berbasis augmented reality dengan menampilkan layout peta ala Google Map, yang mengharuskan pemainnya untuk benar-benar bergerak ke tempat-tempat tertentu demi bisa menangkap Pokémon.

Mungkin karena keseruan yang ditawarkan, atau mungkin juga adanya unsur nostalgia masa kecil, Pokémon Go ini benar-benar populer. Coba kunjungi tempat-tempat terkenal di kota tempat tinggal Anda, jangan heran jika menemui banyak orang dengan smartphone di tangan, sibuk mondar-mandir mencari Pokémon. Para pelaku bisnis pun memanfaatkan momentum Pokémon Go ini untuk meningkatkan strategi marketing mereka. Apa saja yang bisa Anda lakukan?

Cari Tahu Jika Lokasi Anda Merupakan PokeStop

Salah satu hal yang membuat Pokémon Go berbeda dari kebanyakan game lain adalah tuntutan untuk bergerak, tidak hanya membuat pemainnya mengurung diri di dalam kamar. Avatar pemain di dalam aplikasi akan ikut menjelajah bersama Anda untuk menangkap Pokémon, mengumpulkan rewards dari PokéStop, dan melawan pemain lain di Gyms. Mencari tahu apakah lokasi Anda merupakan PokéStop merupakan langkah pertama yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan peluang marketing, mengingat bahwa PokéStop mengacu pada tempat Pokémon berada.

Peta yang diciptakan Niantic pada permainan Pokémon Go tidak memiliki daftar resmi berisi PokéStop yang bisa dikunjungi pemain. Itulah mengapa para pemain benar-benar harus berkeliling untuk menemukan PokéStop. Ambil foto Pokémon yang Anda temukan di tempat bisnis dan post di media sosial untuk menarik perhatian.

Konten tentang Pokémon

Cara satu ini paling tepat diaplikasikan kepada pelanggan yang sudah melakukan subscribe ke website Anda. Daripada memberikan e-mail marketing yang terkesan hard selling, Anda bisa memanfaatkan Pokémon Go untuk menyediakan konten menarik. Misalnya, bagi yang memiliki bisnis pada bidang technology security, Anda bisa memberikan konten tentang cara menjaga Pokémon agar terhindar dari virtual fraud. Ingatlah bawah marketing tidak hanya tentang berjualan, namun juga membangun koneksi dengan pelanggan. Menciptakan konten-konten tentang Pokémon Go akan membuat Anda dikenal sebagai brand yang relevan dan up-to-date.

Manfaatkan Fitur Lure

Pada permainan Pokémon Go, terdapat sebuah fitur bernama Lure Module, yang berfungsi untuk menarik sebanyak mungkin Pokémon ke suatu PokéStop dalam jangka waktu tiga puluh menit. Anda bisa menyediakan Lure Module tersebut untuk menarik lebih banyak pelanggan.

Caranya cukup mudah, yakni dengan menekan Pokéball merah di bagian bawah aplikasi, lalu pilih tombol “shop”. Lakukan scroll ke bawah dan pilih ikon berbentuk kotak berwarna ungu untuk membeli Lure. Anda akan langsung dialihkan ke sistem pembayaran app store. Begitu selesai melakukan pembayaran dan kembali ke aplikasi Pokémon Go, tekan Pokéball lagi, lalu pilih “items”. Tekan Lure berwarna ungu untuk mengaktifkannya. Dengan adanya Lure Module, setidaknya pelanggan bisnis akan “singgah” selama tiga puluh menit di tempat bisnis Anda. 

Ikut Serta dalam Jokes

It’s not quite a world phenomenon until you make memes out of it. Anda mungkin sudah cukup banyak melihat berbagai postingan yang terkait dengan Pokémon Go di media sosial. Para pemain senang berbagi inside jokes tentang aplikasi permainan satu ini. Jadi, selalu pasang mata dan telinga, cari tahu hal-hal yang sedang populer, lalu gunakan informasi tersebut untuk menciptakan konten yang lucu dan menarik. Tingkat shares dan engagement yang akan didapat pasti cepat meningkat karena para pengguna Pokémon Go merasa terwakilkan dengan berbagai kondisi yang coba diceritakan melaui jokes tersebut.

 

Menakjubkan bagaimana Pokémon Go bisa membuat orang-orang seolah bersatu untuk menangkap Pokémon. Tidak sedikit juga orang yang mendapat kenalan baru ketika sedang berkeliling memainkan Pokémon Go. Sebagai pelaku bisnis, memang sudah seharusnya Anda memanfaatkan momentum ini untuk menciptakan strategi bisnis menarik. Siapa tahu ada banyak pemain Pokémon Go yang nantinya menjadi pelanggan loyal Anda. Selamat berburu Pokémon dan pelanggan!

Page 1 of 5
1 2 3 5