Panduan Engagement Melalui Instagram

Pada industri media sosial untuk bidang fotografi, tidak diragukan lagi bahwa Instagram menempati posisi pertama. Dengan jumlah pengguna mencapai lebih dari dua miliar di seluruh dunia, setidaknya ada 70 juta foto yang di-upload per harinya. Intinya, Instagram memang merupakan platform yang menawarkan potensi tinggi bagi Anda dan marketers lain untuk melakukan engagement.

Sejak diakuisisi oleh Facebook, Instagram pun memiliki sistem pengelolaan feed yang berdasarkan algoritma. Artinya, foto-foto yang ditampilkan pada feed Instagram didasarkan pada hal-hal yang dinilai lebih menarik perhatian pengguna. Sayangnya, banyak pengguna Instagram yang kurang setuju dengan keputusan tersebut. Di sisi lain, Anda bisa memanfaatkan hal ini untuk melakukan engagement. Apabila Anda mampu menciptakan konten-konten yang mampu membuat pengguna Instagram berinteraksi dengan Anda (memberi komentar atau like), maka kemungkinan besar konten Anda akan sering muncul pada feed Instagram mereka.

Itulah mengapa membangun engagement melalui Instagram menjadi lebih menantang daripada sebelumnya. Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda gunakan untuk membangun engagement melalui Instagram, bahkan dengan sistem algoritma mereka yang cenderung tricky.

Foto Eye Cathing

Instagram merupakan sebuah platform media sosial dalam bidang fotografi, jadi sudah sangat jelas bahwa foto memegang peranan paling penting. Sayangnya, jika melihat barisan foto pada bagian explore, Anda masih akan menemukan foto-foto yang blur atau tidak terlihat jelas. Coba posisikan diri Anda sebagai pengguna, Anda pasti akan merasa tidak puas saat melihat foto tersebut, bukan? Oleh sebab itu, ketika mem-post foto apapun pada Instagram, pastikan kualitasnya bagus, baik dari segi pencahayaan, proposisi, warna, dan lain sebagainya. Apabila perlu, gunakan kamera profesional untuk mengambil foto agar hasilnya benar-benar jernih.

Masalahnya, ketika pengguna Instagram mengunjungi akun profil Anda dan melakukan scroll, kemungkinan besar mereka tidak akan meluangkan waktu untuk menganalisis setiap foto dan membaca caption yang Anda tulis. Tetapi, jika foto Anda berhasil menangkap perhatian mereka, tanpa diminta pun mereka akan membuka foto-foto tersebut dan melakukan interaksi. Gunakan warna-warna terang, pengaturan kontras yang tinggi, teks berukuran besar, atau elemen apapun yang akan menimbulkan kesan eye-catching pada foto Anda.

Bereksperimen dengan Caption

Ya, Instagram memang merupakan sebuah aplikasi photo sharing, tapi bukan berarti Anda tidak dapat memanfaatkannya untuk membangun engagement melalui kata-kata. Setelah berhasil menangkap perhatian pengguna melalui foto yang eye-catching, “ikat” perhatian tersebut dengan storytelling pada caption. Instagram mengatur sistem caption mereka untuk menampung teks hingga 2.000 karakter.

Jangan pernah menyepelekan efek dari kata-kata yang Anda gunakan. Kampanye digital marketing bisa sukses karena didukung oleh kombinasi foto dan kata-kata yang powerful. Meski storytelling dapat menjadi pilihan tepat untuk ditulis pada caption, terkadang caption yang singkat juga mampu memberi efek yang sama. Agar bisa menentukan caption seperti apa yang mampu menarik banyak interaksi, Anda perlu melakukan eksperimen dengan penulisan caption.

Selain itu, jangan lupa untuk menyebutkan link pada bio Anda. Instagram tidak mendukung penggunaan link yang bisa langsung men-direct pengguna ke website Anda, namun Anda bisa mengubah link pada bio sesering mungkin. Misalnya, Anda mem-post foto bergambar buah-buahan, dengan caption yang menyebutkan tentang bagaimana buah pisang mampu menambah energi dengan cepat. Lalu, ajak pengguna meng-klik link pada bio Anda untuk melihat buah-buahan lain yang memiliki fungsi seperti pisang.

Terapkan Strategi Call-to-Action

Strategi call-to-action tidak hanya bisa diterapkan pada website, namun juga Instagram. Call-to-action akan membantu Anda untuk meminta followers melakukan hal tertentu yang Anda inginkan. Melalui Instagram, Anda memiliki beberapa alternatif strategi call-to-action yang cukup kreatif untuk dilakukan. Anda bisa meletakkan call-to-action pada caption, seperti meminta followers untuk meng-klik link pada bio seperti yang telah disebutkan pada poin sebelumnya.

Sebagai opsi lain, Anda juga bisa meletakkan call-to-action pada gambar yang di-post. Jika memilih cara ini, Anda memiliki kesempatan untuk membuat desain tipografi menarik. Coba pula mem-posting foto produk-produk Anda dan minta followers untuk melakukan double tap pada produk favorit mereka. Setiap double tap akan berujung pada satu like. 

Ajak Followers untuk Tag Teman

Tips satu ini dapat dibilang merupakan contoh strategi lain dari call-to-action. Meminta followers untuk men-tag teman-teman mereka pada kolom komentar dapat menjadi cara oke untuk membangun engagement. Sebagai contoh, Anda mem-posting foto untuk mempromosikan event yang akan Anda selenggarakan. Anda bisa meminta followers untuk men-tag seorang teman yang menurut mereka akan tertarik untuk menghadiri. Melalui cara ini, bukan hanya engagement yang meningkat, namun juga membuat postingan Anda dilihat oleh target audiens baru.

Cantumkan Hashtag Relevan

Masih berhubungan dengan caption, usahakan untuk selalu mencantumkan hashtag dalam caption foto pada Instagram. Hashtag merupakan salah satu cara terbaik untuk membuat Anda menjadi lebih stand out. Fitur ini bahkan menjadi satu-satunya cara yang bisa Anda gunakan untuk membuat foto-foto Anda “ditemukan” di Instagram. Hashtag membantu pengguna untuk menemukan konten-konten menarik dengan cara mengetikkan hashtag tertentu pada kolom search. Terlebih, berdasarkan hasil riset yang dilansir dari situs Neilpatel.com, konten yang memiliki hashtag mampu melakukan engagement dua kali lebih tinggi daripada konten yang tidak memiliki hashtag.

Meski begitu, hashtag tidak dapat digunakan secara sembarangan. Pastikan bahwa seluruh hashtag yang Anda cantumkan pada caption benar-benar relevan dengan foto yang di-post. Simak beberapa masukan berikut:

  1. Identifikasi hashtag yang relevan dengan industri bisnis Anda.
  2. Usahakan untuk memberikan hashtag sedeskriptif mungkin. Jika ada hal tertentu yang menonjol dari foto yang di-posting, sebutkan hal tersebut menggunakan
  3. Sesekali, Anda bisa menggunakan hashtag yang bersifat cenderung abstrak seperti #beautiful, #fashion, atau #lifestyle.
  4. Cantumkan 5-10 hashtag pada setiap foto, tapi jika Anda merupakan pemain baru di Instagram, Anda bisa mencantumkan lebih banyak hashtag untuk meluaskan jangkauan. Pastikan hashtag-hashtag tersebut tidak menimbulkan kesan

Beri Pertanyaan Menarik

Anda bisa membangun engagement pada Instagram melalui pertanyaan-pertanyaan yang Anda ajukan kepada followers. Tulis pertanyaan pada caption atau letakkan pada gambar yang Anda posting. Memberikan pertanyaan akan memancing followers untuk melakukan interaksi dengan memberikan jawaban pada kolom komentar. Hal ini tentu akan meningkatkan engagement sekaligus memberi kesempatan pada Anda untuk mengobrol secara lebih personal dengan followers Anda. Sistem algoritma pun akan menyadari hal tersebut dan kemungkinan bagi Anda untuk sering muncul pada feed Instagram akan lebih tinggi. 

Konsisten dengan Gaya Foto

Setiap pengguna Instagram sepertinya memiliki akun favorit mereka masing-masing. Kemungkinan besar Anda pun juga begitu. Apa yang membuat Anda tertarik dengan akun Instagram favorit Anda? Foto yang di-posting tentu menjadi faktor utamanya. Biasanya, akun-akun ini secara konsisten menerapkan skema warna, efek, atau elemen-elemen desain tertentu pada foto-fotonya, sehingga ketika Anda men-scroll feed profil mereka, akan menciptakan kesan “aesthetic” tertentu yang membuat Anda betah memperhatikannya.

Terapkan hal tersebut sebagai strategi untuk meningkatkan engagement pada Instagram Anda. Bukan berarti setiap postingan harus terlihat benar-benar sama, namun setidaknya harus ada beberapa elemen sama yang menghubungkan seluruh foto-foto Anda. Jika konten Instagram Anda memiliki gaya yang tidak seragam, followers Anda bisa-bisa merasa bingung. Selain itu, karena tidak adanya ciri khas, mereka juga tidak akan mengenali postingan Anda ketika melakukan scrolling pada feed Instagram.

Interaksi dengan Akun Instagram Lain

Jika ingin membangun engagement dengan target audiens di Instagram, Anda juga harus melakukan engagement dengan akun-akun lain. Hal ini termasuk mem-follow akun-akun lain di industri bisnis Anda atau beberapa akun dari target audiens. Jangan ragu untuk memberi like dan komentar pada postingan mereka. Dengan melakukan hal ini, Anda tidak hanya membangun koneksi dengan pengguna lain, namun sekaligus meningkatkan peluang bahwa mereka juga akan berinteraksi dengan konten-konten Anda. Semua harus dimulai dari diri sendiri dulu, bukan?

Respon Komentar Secepat Mungkin

Komentar merupakan salah satu bentuk interaksi yang bisa meningkatkan engagement pada Instagram. Pada awalnya, Anda mungkin akan merasa sedikit kagok untuk membalas setiap komentar yang masuk pada postingan Anda. Jadikan hal tersebut sebagai latihan untuk memberikan respon yang tepat, terutama jika mereka meninggalkan pertanyaan pada kolom komentar Anda. Merespon setiap komentar yang masuk memberi pesan pada followes bahwa Anda memperhatikan mereka dan bersedia untuk melakukan interaksi melalui Instagram. Jika Anda tidak menghiraukan setiap komentar, kemungkinan besar orang-orang tidak akan mau melakukan hal yang sama. Kesmepatan untuk meningkatkan engagement pun hilang.

Promosi Akun Instagram pada Platform Lain

Sebagai seorang digital marketer, kemungkinan besar Anda tidak hanya hadir di Instagram, namun juga media sosial lain. Sudahkan Anda memberi tahu para followers tentang akun Instagram Anda? Begitu Anda memiliki beberapa konten yang sudah di-post ke Instagram, segera share konten-konten tersebut ke berbagai platform media sosial lain. Hal ini dapat menjadi cara yang bagus untuk meningkatkan jumlah follower dan memotivasi target audiens baru untuk menemukan konten Instagram Anda.

Kabar baiknya lagi, Instagram menerapkan sistem promosi silang dengan media sosial lain seperti Facebook, Twitter, Tumblr, dan Flickr. Setiap platform memiliki button yang bisa Anda temukan pada Instagram setiap kali Anda melakukan posting foto atau video. Meski begitu, jangan batasi diri Anda hanya pada keempat media sosial tersebut. Anda masih bisa melakukan engagement secara virtual melalui platform lain untuk “menggiring” mereka agar mengunjungi Instagram Anda. Gunakan Periscope atau Snapchat untuk memberi tahu para penonton bahwa Anda memiliki konten-konten menarik di Instagram dan mereka tidak boleh melewatkannya.

Beri Lokasi pada Postingan

Instagram memiliki fitur Geotags yang memungkinkan Anda untuk mencantumkan lokasi pada setiap postingan foto Anda. Hal ini mampu membuat konten Anda lebih mudah ditemukan orang, terutama bagi Anda yang menggunakan Instagram untuk mempromosikan bisnis lokal. Misalnya, Anda mem-post foto dan men-tag foto tersebut pada lokasi A. Apabila ada pengguna Instagram tertarik melihat postingan yang diambil di lokasi A, mereka bisa melakukan pencarian dari Geotags tersebut. Dengan kata lain, Anda bisa menggunakan fitur tersebut untuk menjangkau pengguna potensial yang akan berinteraksi dengan konten Anda.

Posting pada Waktu yang Tepat

Timing is everything, dan hal itulah yang harus Anda terapkan ketika melakukan posting pada Instagram maupun media sosial lain. Jika Anda ingin agar orang-orang melakukan engagement dengan Anda, maka mereka harus melihat konten Anda terlebih dahulu. Banyak orang yang menggunakan media sosial pada jam-jam tertentu agar bisa mendapatkan lebih banyak traffic. Tentunya setiap media sosial memiliki karakter dan waktu posting yang berbeda.

Berdasarkan data yang dilansir dari Huffington Post, riset yang dilakukan oleh Latergramme menyebutkan bahwa waktu terbaik untuk menarik perhatian pengguna Instagram terhadap konten yang Anda post adalah pukul 02.00 dan 17.00. Sementara itu, Anda tidak disarankan untuk melakukan posting pada pukul 09.00 dan 18.00 karena tingkat engagement yang rendah. Selain itu, jika Anda melakukan schedule untuk mem-posting satu foto dalam waktu seminggu, maka Rabu adalah hari yang paling tepat.

Mem-posting foto pada pukul 17.00 ternyata berhubungan dengan jam pulang kantor. Biasanya, setelah seluruh pekerjaan selesai pada pukul 17.00, orang-orang akan beristirahat sejenak sebelum pulang ke rumah dan mengakses Instagram untuk mengisi waktu. Meski begitu, perlu diingat bahwa setiap target audiens memiliki karakter yang unik dan berbeda. Walau bersifat umum, pengaturan waktu posting tersebut bisa saja kurang cocok diterapkan pada target audiens Anda. Untuk itu, Anda disarankan untuk bereksperimen dengan mem-poting foto pada waktu berbeda dan identifikasi kapan Anda mendapatkan likes atau komentar dengan jumlah paling banyak.

Manfaatkan Fitur Instagram Stories

Baru-baru ini, Instagram meluncurkan fitur baru bernama Instagram Stories. Bagi yang sudah pernah menggunakan Snapchat sebelumnya, Anda pasti tidak akan merasa asing dengan sistem kerja Instagram Stories ini. Pada dasarnya, Instagram Stories memungkinkan Anda untuk mem-posting foto dan video yang akan nantinya akan terhapus dengan sendirinya setelah 24 jam. Jadi, foto dan video tersebut tidak akan masuk pada feed akun profile Instagram Anda.

Tidak sedikit orang yang memprotes hadirnya Instagram Stories tersebut, terutama para pengguna setia Snapchat. Namun, siapa sangka bahwa fitur terbaru Instagram ini justru bisa digunakan sebagai sarana baru untuk melakukan digital marketing? Orang-orang yang merasa keberatan untuk men-download Snapchat bisa menikmati fitur serupa melalui Instagram mereka.

Terlebih, konten digital marketing yang Anda post di Snapchat harus dipromosikan secara rajin kecuali Anda tidak ingin ada orang yang melihatnya. Tidak begitu halnya dengan Instagram, yang memiliki fitur hashtag, geotags, dan bagian Discover untuk meningkatkan peluang konten Anda ditemukan audiens baru. Lagi pula, dengan ikut menggunakan Instagram Stories, Anda bisa dikenal sebagai brand yang up-to-date dan tidak tertutup untuk mencoba hal-hal baru.

 

Itulah beberapa tips yang bisa Anda coba untuk membangun engagement dengan target audiens melalui Instagram. Setelah menerapkannya, jangan lupa untuk terus mengawasi perkembangan engagement dari waktu ke waktu. Anda akan menemukan tipe konten apa saja yang mendapat lebih banyak engagement. Atau jika mencoba melakukan posting pada waktu berbeda, Anda bisa menemukan waktu posting yang memberi performa terbaik bagi bisnis Anda. Selain itu, konsistenlah dalam mem-posting konten di Instagram untuk meningkatkan brand awareness dan menciptakan image yang positif di mata pengguna Instagram. Selamat bersenang-senang menggunakan Instagram!