Bagaimana Brand Besar Mempertahankan Pelanggan?

Ketika Anda memutuskan untuk membuat bisnis, ibaratnya Anda sedang masuk sekolah untuk pertama kalinya. Di dalam sekolah tersebut, Anda akan bertemu dengan banyak orang yang menjadi pesaing sekaligus teman untuk menggapai peringkat terbaik. Jika Anda tidak kompetitif, maka Anda tidak akan bisa meraih hasil yang maksimal. Begitu halnya dengan bisnis, jika Anda tidak berusaha untuk kompetitif, maka Anda akan tertinggal. Bahkan mungkin Anda akan tinggal kelas atau bangkrut.

Di dalam sekolah, Anda diharuskan melihat atau mencontoh kakak kelas yang mempunyai prestasi tinggi. Di dalam bisnis juga demikian, Anda harus mempunyai contoh atau sandaran. Di luar sana, sudah ada jutaan orang yang telah jatuh bangun dalam membangun bisnis. Ada beberapa yang kuat untuk jatuh bangun beberapa kali, dan ada beberapa yang harus putus asa gulung tikar.

Sebagai pebisnis baru maupun sudah menjalankannya selama bertahun-tahun, tidak ada salahnya untuk belajar kepada para senior atau perusahaan-perusahaan besar. Brand besar seperti McDonalds, Amazon, Starbucks atau yang baru seperti GO-Jek tidak langsung tiba-tiba menjadi “wah” seperti sekarang. Para pendirinya jatuh bangun terlebih dahulu, bahkan pendiri dari Starbucks sekarang sempat dipecat oleh perusahaannya sendiri.

Nah, sekarang kita akan membahas bagaimana brand-brand besar dan terkenal dalam negeri dan dunia bisa mempertahankan pelanggannya, Semoga kisah ini dapat memberikan inspirasi bagi Anda dalam membangun bisnis.

Starbucks yang Memanjakan Pelanggan

  • Kisah Awal Howard Schultz “Menemukan” Format Starbucks

Apakah Anda tahu bahwa kisah dari Starbucks ini sangat dramatis? Howard Schultz pernah dipecat oleh Starbucks karena visi dan misinya tidak sejalan dengan pemilik saat itu. Ketika itu, Schultz masih menjabat sebagai Kepala Marketing yang ditugaskan Starbucks ke Italia untuk belajar bagaimana fenomena kopi di Italia. Hal tersebut membuka pikiran Schultz. Ternyata di Italia, minum kopi adalah budaya. Bagaimana orang Italia menghabiskan satu cangkir kopi bisa sampai berjam-jam. Kenapa bisa demikian? Apakah sang empunya kedai atau restoran ini tidak bangkrut karena banyaknya orang yang nongkrong?

Schultz mempelajar bahwa kopi yang disajikan ini bukan kopi biasa, melainkan kopi dengan kualitas tinggi. harga yang ditawarkan pun tidak murah, bahkan cenderung mahal. Jadi, di Italia, orang betah duduk di kedai kopi untuk menikmati satu gelas kopi berkualitas tinggi telah menjadi hal yang dianggap worth it dengan uang yang dikeluarkan.

Ketika Schultz mengatakan bahwa seharusnya Starbucks meniru format kedai di Italia, para pemilik malah tidak menyetujui. Saat keluar dari Starbucks, Schultz malah membuat kedai kopi sendiri bernama Il Giornale dengan format yang dia inginkan. Hasilnya? Starbucks berada di ambang kebangkrutan dan Schultz sendiri yang menyelamatkan dengan membeli saham Starbucks.

  • Schultz Mempertahankan Format, Bukan Sekadar Menjual Kopi

Pada tahun 1987 setelah Schultz membeli Starbucks, dirinya mengatakan bahwa Starbucks seharusnya bukan sekadar menjual kopi, tetapi juga mempertahankan pelanggan untuk berada di kedai terus menerus tanpa bosan, dan mengulangi kegiatannya tersebut seminggu dua kali atau bahkan lebih.

Cara pertama adalah Starbucks mengubah bentuk dari kedainya. Schultz mengatakan bahwa kedai Starbucks harus terbuka dan ramah lingkungan. Kesan hijau pun harus ada di mana-mana, itulah alasan mengapa corak celemek para pelayan Starbucks berwarna hijau. Warna hijau juga akan membuat rileks orang yang melihatnya. Cara kedua adalah Starbucks menginzinkan orang untuk duduk menghabiskan satu cangkir kopi tanpa mengusirnya. Bahkan beberapa orang mencoba untuk datang ke Starbucks tanpa membeli, dan tidak ada masalah.

Ini adalah salah satu cara agar para pelanggan betah di Starbucks. Schultz mempunyai semboyan bahwa kopi adalah jembatan untuk orang yang ingin bekerja, belajar, membaca buku atau bahkan membahas masalah pekerjaan.

  • Selalu Ada yang Baru Setiap Bulannya

Ini adalah salah satu hal yang harus dilakukan oleh semua brand. Selalu ada yang baru setiap bulannya. Perubahan kecil pun pasti akan membuat pelanggan merasa diperhatikan. Starbucks sering membuat campaign sesuai dengan negara masing-masing. Di Indonesia, misalnya, Starbucks memberikan kopi gratis kepada orang yang telah mencoblos pada saat pemilu. Jika ada hari-hari penting, Starbucks juga tidak segan untuk memberikan promosi.

Pada intinya, semahal apapun kopinya, jika Anda mempunyai pelanggan yang loyal maka bisnis Anda bisa dikatakan telah berkembang. Itu bisa menjadi pegangan Anda, bagaimana caranya membuat bisnis Anda menciptakan hal-hal baru secara konsisten. Entah itu menciptakan promosi baru setiap bulan, dekorasi baru, atau sekadar megubah foto profil media sosial Anda.

R&G Technologies Australia yang Dekat dengan Pelanggan

  • R&G Technologies Australia Jadi Perusahaan Paling Berkembang di Australia

Sekarang kita akan membahas B2B atau business to business. Ciri dari B2B adalah produk yang Anda tawarkan berupa jasa ataupun barang dalam jumlah sangat banyak dan harganya cukup mahal. Misalnya, Anda menawarkan jasa jual sembako dalam jumlah banyak ataupun persewaan mobil untuk perusahaan. Nah, R&G Technologies adalah salah satu perusahaan IT terbesar di Australia yang sudah melayani beberapa klien besar di Australia. Cara R&G Technologies dalam mempertahankan klien ini cukup ampuh, yaitu mereka sangat dekat dengan pelanggan.

  • Setiap Karyawan Mempunyai KPI Khusus

KPI adalah Key Performance Index, jadi setiap tiga tau enam bulan, setiap karyawan diharapkan untuk mengumpulan nilai KPI yang tinggi agar mendapatkan bonus dan jika tidak maka akan ada punishment. KPI yang ada di R&G Technologies ini unik, mereka harus mendapatkan nilai kepuasaan pelanggan yang tinggi. Jadi, setiap bulannya, R&G Technologies memberikan survei kepada seluruh pelanggannya, bagaimana kepuasaan dari pelayanan R&G Technologies. Dari survei tersebut, terlihat segalaya kelemahan dan keunggalan dari produk yang dikeluarkan oleh R&G.

Oleh karena itu, setiap karyawan yang ada di R&G mau tidak mau harus berbicara dengan pelanggannya secara teratur. Jika tidak, maka survei yang ditulis oleh para pelanggan tersebut bisa jelek, dan akhirnya KPI mereka kurang. Cara ini dinilai sangat ampuh untuk membuat para karyawannya bisa lebih dekat dengan para pelanggannya.

  • Anda Juga Bisa Melakukan Hal yang Sama

Jika pelanggan Anda masih sedikit, Anda tidak perlu menerapkan survei atau KPI kepada para karyawan Anda, yang penting adalah Anda tahu bagaimana tingkat kepuasaan pelanggan Anda. Caranya Anda bisa bertanya langsung kepada pelanggan dan mendengar kritik dan saran untuk bisnis. Ingat, pelanggan tetap akan muncul ketika Anda berhasil mengenal dekat para pelanggan tersebut.

TOMS Berawal dari Misi Sosial

  • TOMS, Socialpreneur Nomor Satu di Dunia

Apa gerakan sosial yang mendapatkan banyak sekali keuntungan di dunia? Mungkin jawaban yang paling tepat adalah sepatu TOMS. TOMS adalah perusahaan asal Amerika Serikat yang dimiliki oleh Blake Mycoskie. Saat itu, Blake sedang liburan di Argentina dan duduk di sebuah kafe di sana. Ada beberapa anak kecil lewat dan kebanyakan dari mereka tidak memakai sandal. Hal ini langsung melecut pikiran dari Blake, bagaimana cara membantu anak kecil tersebut. Padahal Blake sendiri tidak mempunyai uang sama sekali.

Di saat bersamaan, Blake melihat bahwa sepatu khas Argentina ini sangat unik, yaitu sepatu kanvas yang dinamakan alpargatas. Blake pun berpikir, kenapa tidak memperkenalkan sepatu alpargatas ini kepada dunia, dan setiap keuntungannya diberikan untuk para anak-anak di Argentina yang tidak mempunyai sepatu.

Blake menjual apartemennya untuk membeli 250 sepatu alparagatos. Misi sosialnya adalah setiap satu sepatu terjual, maka akan dibelikan satu sepatu untuk anak-anak. 250 pasang sepatu langsung habis terjual hanya dalam tempo satu minggu. Beruntung bagi Blake, ternyata koran Los Angeles Times memberitakan hal tersebut, dan Blake mendapatkan pesanan 10 kali lipat. 10 ribu sepatu TOMS pun terjual pada enam bulan pertama. Dan sekarang, TOMS sudah mendistribusikan 60 juta pasang sepatu untuk anak-anak.

  • Anda Harus Memperbaiki Visi dan Misi Bisnis Anda

Apa tujuan Anda untuk mendirikan bisnis ini? Apakah Anda hanya ingin mengeruk keuntungan saja? Tentu itu adalah hal yang lumrah, Anda tidak bisa hidup tanpa uang, bukan? Tetapi coba telaah atau teilit kembali apa alasan Anda untuk mendirikan bisnis ini. Jangan terlalu memaksa untuk memasukkan masalah lingkungan atau masalah sosial yang sedang muncul saat ini. Yang terpenting adalah Anda harus menemukan visi dan misi selain mendapatkan keuntungan. Lihat lingkungan sekitar Anda, apa yang bisa Anda angkat dari situ.

Tesco yang Sangat Memperhatikan Para Pelanggannya

  • Tesco Adalah Salah Satu Supermarket Terbesar di Inggris

Tesco didirikan sejak tahun 1919 dan sekarang menjadi salah satu supermarket terbesar di Inggris. Di dunia, Tesco adalah salah satu pioneer supermarket yang melayani pembayaran sendiri. Jadi Anda bisa memasukkan barcode sendiri dan langsung membayarnya. Tesco sudah melakukannya sejak tahun 1956 daan sekarang sudah ditiru oleh beberapa supermarket besar di dunia. Nah, walaupun Tesco ini menjadi salah satu supermarket yang mempunyai teknologi canggih, bukan berarti Tesco melupakan keterlibatan manusia. Di setiap tokonya, Tesco sudah menyiapkan puluhan customer service yang siap sedia. Tesco juga mempunyai standar sendiri untuk para karyawannya ketika ingin menjadi customer service.

  • Sangat Aktif di Dalam Media Sosial

Salah satu yang paling menarik dari Tesco adalah dirinya sangat aktif di media sosial. Mulai dari Instagram, Twitter sampai Facebook Tesco sangat “gampangan” dalam membalas komentar para pelanggannya. Di Twitter saja, admin sering bercanda kepada para pelanggannya. Memang Tesco mempunyai akun Twitter pengaduan sendiri, tetapi para admin Tesco ini tidak akan membiarkan ada satu mention yang terlewat.

Ini tentu akan membuat para pelanggan mudah percaya kepada Tesco. Tesco seakan memanjakan pelanggan, bahkan lewat media sosial sekalipun. Cara ini juga sukses dilakukan oleh beberapa toko online di Indonesia, seperit Lazada, MatahariMall dan Blibli.

  • Buat Akun Semua Media Sosial

Lalu apa yang bisa Anda ambil dari kisah Tesco diatas? Pertama adalah Anda bisa membuat akun di semua media sosial. Kenapa demikian? Pertama karena media sosial adalah cara marketing yang paling baik dan gratis. Anda tidak perlu susah-susah membuat selebaran ataupun iklan di televisi, cukup memanfaatkan dan memaksimalkan media sosial, Anda akan mendapatkan pelanggan dengan sendirinya.

Jika Anda sudah mendapatkan penghasilan secara tetap, Anda bisa mempertimbangkan untuk fokus ke dalam media sosial. Misalnya Twitter, Anda bisa merekrut satu orang untuk fokus kepada media sosial. Tugasnya cukup mudah, membuat strategi marketing melalui media sosial dan membalas setiap mention yang masuk ke dalam Twitter. Walaupun secanggih apapun teknologi bisnis yang Anda gunakan, mempercayakan orang untuk berkomunikasi kepada para pelanggan Anda adalah hal yang sangat penting.

GO-Jek Gunakan Promosi untuk Mempertahankan dan Mendapatkan Pelanggan

  • GO-Jek Sangat Berjaya di Indonesia

Beberapa waktu lalu GO-Jek berhasil mendapatkan pendanaan sekitar 500 juta dolar atau sekitar 5 triliun rupiah. Dengan pendanaan sebesar itu, GO-Jek dengan mudah menerapkan strategi marketing apapun. Tetapi seperti dijelaskan di awal, GO-Jek tidak mendapatkan hal tersebut dengan mudah. Apakah Anda tahu bahwa GO-Jek pertama kali didirikan pada tahun 2010 dan ketika itu investasinya ditolak dimana-mana? Baru ketika berhasil meyakinkan satu investor, pada tahun 2015 GO-Jek mengeluarkan aplikasi Android dan mendapatkan banyak sekali pelanggan.

  • Promosi

Masih ingat bagaimana promosi GO-Jek di awal, yang hanya memberikan lima ribu ke mana saja? Cara tersebut memang mengandalkan jumlah investasi yang sangat tinggi, tetapi Anda bisa mengambil beberapa keuntungan di sana. GO-Jek tidak hanya mendapatkan pelanggan, tetapi mempertahankan pelanggan. Semakin banyak pengguna GO-Jek yang mengajak orang-orang menggunakan aplikasi (referral), secara tidak langsung banyak sekali orang-orang yang memakai GO-Jek walaupun hanya mencobanya sekali.

Lalu apakah Anda tahu, bahwa sekarang GO-Jek tidak memiliki promosi sama sekali? Untuk menggunakan GO-Jek, Anda tidak lagi membayar 5 ribu, tetapi bisa lebih dari 20 ribu rupiah sekali jalan. Tetapi apakah dengan berhentinya promosi ini para pelanggan berhenti menggunakan jasa mereka? Tidak sama sekali. Kenyataannya, pengguna setia GO-Jek semakin banyak, walaupun ada banyak sekali pesaing di luar sana.

  • Apakah Anda Harus Melakukan Hal yang Sama?

Jika uang yang Anda punyai sekarang kecil, tentu jangan melakukan hal yang sama seperti GO-Jek. Hal itu akan membunuh bisnis Anda dalam waktu dekat. Tetapi Anda bisa melihat bahwa teknik promosi dan referral yang ada di GO-Jek in sangat menarik. Kami akan mencontohkan teknik promosi dan referral untuk bisnis cuci sepatu. Anda bisa membuat promosi cuci sepatu 2 gratis 1, atau diskon 50% jika mengajak orang lain untuk mencuci sepatu. Apapun bisnis Anda sebenarnya bisa dibuat promosinya, semenarik mungkin sesuai dengan kreatifitas Anda.

 

Nah, itulah beberapa kisah yang bisa Anda ambil untuk mempertahankan pelanggan. Cara di atas tentu tidak akan memperlihatkan hasil secara instan atau langsung. Anda mungkin butuh waktu mingguan, bulanan atau bahkan tahunan untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan. Yang terpenting adalah bagaimana Anda bisa fokus untuk mengembangkan bisnis Anda. Satu-satunya keuntungan yang bisa Anda petik adalah sudah ada ratusan pebisnis yang gagal di luar sana. Anda tinggal mempelajari bagaimana bisnis tersebut bisa gagal dan jangan melakukan kesalahan yang sama. Jika Anda masih saja melakukan kesalahan yang sudah ratusan kali dilakukan oleh para pebisnis lain, itu berarti ada yang salah dengan cara bisnis Anda.

4 Akun Instagram untuk Memotivasi Usaha Bisnis Anda

Demi sukses membangun suatu bisnis, Anda memerlukan inspirasi agar mampu menjalankan strategi-strategi khusus. Sayangnya, tidak semua orang dapat dengan mudah mendapatkan inspirasi yang diinginkan. Apabila Anda termasuk di antara yang butuh inspirasi dan saran, Anda dapat memotivasi diri dengan mengintip empat akun Instagram berikut ini. Dari mulai pelaku digital marketing hingga internet publishing, mereka membagi perjalanan bisnis mereka melalui feed Instagram.

1. @HDFMagazine

@HDFMagazine (hdfmagazine.com) merupakan sebuah akun publikasi online dari Trep Media Group. Mayoritas konten dari @HDFMagazine berisi kutipan-kutipan inspirasional dari hasil wawancara mendalam mereka dengan para entrepreneur, yang diterbitkan pada situs online mereka. Pendirinya, yakni Matt Gottesman, juga cukup sering berbagi pengalaman personalnya terkait dengan perjalanan bisnis yang ia lalui. Situs mereka juga membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan musik, seni, travel, dan budaya. Jika Anda meninggalkan komentar pada salah satu postingan, @HDFMagazine akan segera menjawabnya, membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan engagement yang baik. Anda juga bisa mendengarkan podcast mereka melalui akun The Hustle Sold Separately yang ada pada iTunes.

2. @Garyvee

Akun satu ini dikelola oleh Gary Vaynerchuk, seorang pengusaha yang sukses mengembangkan bisnis wine milik keluarganya dari yang semula bernilai US$ 3M menjadi US$ 60M. Vaynerchuk juga dikenal sebagai investor perusahaan-perusahaan digital besar, seperti Facebook, Twitter, Tumblr dan Uber. Melalui akun @Garyvee di Instagram, Vaynerchuk berbagi cerita kehidupan sehari-harinya, tidak lupa tips dan insight tentang media sosial dan digital marketing. Ia juga cukup sering mem-post kutipan-kutipan inspirasional. Demi mengakomodasi berbagai pertanyaan seputar bisnis, media sosial, dan digital marketing, Vaynerchuk menciptakan hashtag bertajuk #AskGaryVee dan menjawabnya secara bergantian. Apabila tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, Anda dapat mengunjungi situs resminya di garyvaynerchuck.com.

3. @AndyFrisella

Andy Frisella, pemilik akun ini, dikenal sebagai orang yang tidak takut menyuruh orang lain untuk berhenti mengeluh dan mulai melakukan sesuatu. Ia adalah CEO dari 1st Phorm, perusahaan suplemen internasional bernilai jutaan dolar. Tidak hanya memberikan berbagai kutipan inspirasional, Frisella juga suka mem-post beberapa foto yang menunjukkan perjuangan dirinya ketika belum sesukses sekarang. Ia memiliki proyek podcast bernama THE MFCEO, di mana ia sering mengundang para entrepreneur dan orang-orang dari dunia kesehatan untuk berbincang dengannya. Frisella bahkan menunjukkan beberapa video snippet dari proses rekaman podcast tersebut melalui Instagram. Penggemar Frisella kerap menyebut @AndyFrisella sebagai akun yang real dan raw.

4. @ArvinsWorld

Sama seperti @AndyFrisella, akun @ArvinsWorld juga dikelola oleh pengusaha suplemen kesehatan, yakni Arvin Lal dari Shredz. Pria satu ini begitu populer di dunia kesehatan, ia bahkan memiliki pengikut di Instagram yang menamakan diri mereka sebagai #ShredzArmy. Hal tersebut tidak begitu mengherankan karena Arvin sering membagi kutipan-kutipan inspirasional yang berasal dari dirinya sendiri. Melalui akun Instagram ini, Arvin berbagi tentang perjalanannya dalam membangun perusahaan suplemen kesehatan tersebut. Terkadang, ia juga memberikan snippet tentang aktivitasnya sebagai pembicara. Jika mem-follow akun @ArvinsWorld, Anda akan menemui beberapa foto behind the scenes dan cerita Arvin bersama rekan-rekannya di kantor Shredz.

 

Perjalanan setiap orang dalam membangun bisnis memang berbeda-beda, namun Anda pasti paham bahwa seluruh perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Hal tersebutlah yang ingin disampaikan oleh para pelaku bisnis melalui akun-akun Instagram mereka di atas. Mereka mengerti bahwa menemukan motivasi yang dapat diterapkan dengan cepat amatlah susah. Semoga akun-akun Instagram tersebut dapat mendorong Anda untuk meneruskan bisnis Anda hingga sukses seperti mereka.

Bagaimana Para Marketer Memaksimalkan Konten Media Sosial?

Perlahan tapi pasti, pebisnis mulai merasakan pentingnya media sosial untuk kemajuan usaha yang mereka dirikan. Berdasarkan Social Media Examiner, 97 persen pebisnis menggunakan media sosial sebagai sarana marketing mereka. Terlebih lagi, 92 persen di antaranya merasa bahwa media sosial juga penting untuk kesuksesan mereka.

Meskipun media sosial dipandang penting untuk menaikkan usaha mereka, para pebisnis pada umumnya masih berusaha untuk mengoptimalkan konten dalam media sosial mereka. Bahkan, dalam penelitian yang sama, 91 persen mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk menentukan strategi bisnis yang paling efektif untuk bisnis mereka.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Software Advice bekerja sama dengan Adobe telah diadakan dengan tujuan untuk memahami strategi apa yang paling sering digunakan oleh para marketer untuk mengoptimisasi konten media sosial mereka.

Selain temuan keduanya, penelitian tersebut juga mengungkapkan 182 fakta yang ditemukan oleh Liz Strauss, founder sekaligus CEO dari SOBCon, yang juga menduduki peringkat ke tujuh dalam daftar orang yang berpengaruh dalam menggunakan kekuatan sosial media versi majalah Forbes pada tahun 2013. Penelitian tersebut menemukan fakta yang cukup menarik, antara lain:

  1. Marketer pada umumnya (84 persen) secara rutin memposting ke paling sedikit tiga jaringan media sosial, dengan 70 persen di antaranya memposting konten minimal sekali dalam sehari.
  2. Marketer kebanyakan memanfaatkan visual konten, hashtag, dan username sebagai sebagai taktik penting untuk mengoptimalkan konten media sosial mereka.
  3. Lebih dari setengah dari keseluruhan narasumber (57 persen) menggunakan software untuk mengatur jadwal posting konten mereka dan merasakan bahwa software tersebut memudahkan mereka mengoptimasi konten sosial media mereka.

Kebanyakan Marketer Mengunakan Tiga atau Lebih Jejaring Media Sosial

Dari semua marketer yang menjadi narasumber survey tersebut, mayoritas (84 persen) mengatakan bahwa mereka aktif memposting konten untuk tiga jenis media sosial atau lebih, dengan media yang paling banyak digunakan antara lain Facebook, Twitter, dan/atau LinkedIn.

Secara total, sebanyak 61 persen menggunakan paling sedikit empat jenis media sosial; 20 persen menggunakan paling sedikit enam media sosial, dan yang paling mencengangkan, 3 persen di antaranya menggunakan 11 media sosial atau lebih.

Hasil tersebut menyisakan 14 persen dari marketer yang menggunakan hanya dua media sosial saja, dan 2 persen lain yang menggunakan satu media sosial secara rutin.

Menurut Strauss, dengan banyaknya marketer yang memposting konten mereka menggunakan bermacam-macam media sosial, para pebisnis yang hanya aktif menggunakan tiga jenis media sosial atau kurang akan sangat merugi. Pasalnya, banyak marketer pesaing yang menggunakan situs media sosial lebih dari 11 jenis, yang artinya apabila Anda hanya mengandalkan promosi konten melalui Facebook dan Twitter, hasilnya bisa jadi kurang maksimal.

Meski demikian, kata Strauss, banyak juga pengguna jejaring media sosial dengan cara yang kurang efektif. Misalnya, memposting konten secara acak, tanpa tujuan, dan bahkan tanpa memahami apa yang dapat dilakukan dengan masing-masing media sosial, mengingat setiap media sosial memiliki fungsi dan manfaat yang berbeda.

Kesimpulannya, ada perbedaan hasil yang mendasar antara memposting sebanyak-banyaknya dengan memposting secara strategis. Sebuah strategi marketing media sosial yang efektif tidak hanya melibatkan banyaknya konten yang diposting, tetapi juga konten yang tepat.

Kebanyakan Marketer Memposting Secara Rutin dan Merencanakan Konten untuk Selanjutnya

Kebanyakan marketer (70 persen) mengungkapkan bahwa mereka memposting konten di media sosial paling sedikit sekali dalam sehari, dengan 19 persen mengatakan bahwa mereka memposting lebih dari tiga kali dalam sehari. Berbanding terbalik, hanya 16 persen yang memposting lebih sedikit dari sekali dalam sehari, dan 14 persen lainnya tidak memiliki jadwal tertentu untuk melakukan posting.

Fakta bahwa banyak pebisnis yang memposting secara rutin dan konsisten ini bisa dibilang sangat mengesankan, mengingat banyaknya konten yang diposting di berbagai media sosial dengan guideline yang berbeda-beda, misalnya Twitter dengan maksimal 140 karakter yang berbeda dengan Facebook yang bebas menentukan berapa saja karakter yang digunakan dalam setiap postingan.

Ketika ditanya tentang seberapa panjang rencana postingan yang dilakukan oleh para pebisnis dalam setiap konten di media sosial, 41 persen menjawab “untuk beberapa hari hingga seminggu”. Jawaban ini merupakan jawaban paling populer mengenai durasi rencana posting konten. Total sebanyak 65 persen menjadwalkan konten media sosial mereka minimal untuk sehari kedepan, dengan 12 persen di antaranya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana yang pasti untuk menjadwalkan postingan dalam kurun waktu yang terencana.

Secara keseluruhan, data tersebut mengungkapkan bahwa banyak marketer membuat rencana sehingga konten media sosial dapat secara konsisten terbuat dan terposting dengan baik. Sebagai kesimpulan, pebisnis yang gagal memposting konten dengan konsisten akan kesulitan untuk membangun brand yang baik serta menaikkan engagement dari audiens, apalagi bila dihadapkan dengan kompetitor yang mengadopsi strategi konten media sosial yang lebih terencana.

Konten Visual dan Hashtag Adalah Taktik yang Paling Penting

Dari tujuh taktik yang berbeda, (antara lain konten visual, penggunaan hashtag, penargetan kelompok tertentu, pemanfaatan respon media sosial, optimisasi ukuran gambar untuk tiap jaringan, penggunaan video, dan pembatasan jumlah karakter) narasumber paling sering mengatakan bahwa konten visual dan hashtag merupakan elemen krusial untuk optimisasi media sosial. Sebanyak 82 persen narasumber mengatakan “penting” dan “sangat penting” menggunakan konten visual, sedangkan hashtag menempati 67 persen. Bahkan taktik yang bisa dibilang vital (misalnya video) masih dianggap hanya sebagai konten yang “cukup penting” dengan 68 persen mengatakan demikian.

Fakta bahwa secara mayoritas marketer melihat tujuh taktik tersebut sebagai sesuatu yang penting menunjukkan bahwa kebanyakan dari mereka percaya bahwa dalam mengoptimisasikan media sosial mereka membutuhkan pendekatan multifacet alias pendekatan yang beragam.

Meski demikian, Strauss beranggapan bahwa prioritas mereka membutuhkan banyak penyesuaian. Contohnya, memprioritaskan konten visual dan hashtag bisa saja memberikan dampak sebaliknya, bahkan memperlihatkan kekurangan akan pemahaman dasar-dasar strategi media sosial.

Contohnya, sederhana saja. Semua orang pasti tahu bahwa konten visual meningkatkan engagement yang baik. Namun, gambar yang seperti apa yang akan diberikan bila seorang pebisnis tidak mengerti siapa audiens mereka? Apabila konten visual Anda tidak sesuai dengan target audiens, maka konten tersebut bisa menjadi sia-sia saja.

Strauss juga percaya bahwa marketer harus lebih memprioritaskan pemanfatan respon media sosial (call to action). Mudahnya, jika seseorang tidak bertanya “kenapa tidak mengunjungi situs saya?” orang-orang mungkin tidak akan sulit-sulit mencari tahu tentang website orang tersebut. Respon yang baik dari audiens adalah yang paling utama.

Meski demikian, Strauss berpendapat, taktik tersebut akan benar-benar bekerja ketika seorang pebisnis mengetahui apa yang dia inginkan serta apa yang pebisnis tersebut inginkan dari audiens mereka. Intinya, pemilihan gambar dan CTA harus benar-benar dipilih dengan baik dan seksama untuk memunculkan respon yang spesifik dari audiens.

Contoh nyatanya adalah ketika Oracle ingin mempublikasikan event konferensi di South by Southwest Interactive bersama Chevrolet. Mereka menggunakan hashtag #sxswi untuk membagikan gambar promosi bagi para pengunjung. Selain itu, mereka juga memasukkan username @Chevrolet untuk berbagi dengan follower partner mereka, bersamaan dengan kalimat CTA yang menyarankan pengguna untuk mem-follow hashtag #IdeaRally dan ikut berdiskusi bersama via Twitter.

Karena tweet ini sangat relevan dengan pengunjung SXSWI, para pengguna akan dengan mudahnya merespon CTA yang diberikan dan berbagi tweet ini dengan follower mereka, yang nantinya juga akan tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Kebanyakan Melakukan Tes Sharing dan CTR untuk Mengoptimalkan Waktu Posting

Ketika ditanya tentang taktik yang mereka gunakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam posting di media sosial, hampir semuanya menjawabnya dengan jawaban yang sama, metode trial and error. Sebanyak 87 persen narasumber mengatakan telah melakukan tes untuk mengetahui sharing rates dan click-through rates (CTR) konten mereka di waktu dan hari yang berbeda dalam satu minggu. Tujuannya adalah untuk memahami kapan audiens potensial mereka merespon dengan baik.

Secara keseluruhan, narasumber menganggap bahwa share rate dan CTR hampir sama penting, dengan persentasi 35 versus 33 persen secara berturut-turut. Banyak juga yang merasa bahwa sangat penting (31 persen) dan/atau penting (33 persen) untuk menggunakan bantuan software optimisasi media sosial untuk menentukan waktu yang tepat.

Kesimpulannya, data ini menujukkan bahwa marketer merasa bahwa sangat penting untuk melakukan tes strategi dan monitoring media sosial untuk membuat keputusan mengenai kapan waktu yang tepat untuk memposting konten ke media sosial mereka berdasarkan data yang dihimpun serta berdasarkan beberapa indikator, ketimbang fokus kepada satu sumber saja.

Sangat sedikit responden yang merasakan bahwa sangat penting untuk membaca tren pasar dalam memahami waktu yang tepat untuk melakukan posting. Hal ini bisa dibilang masuk akal karena waktu posting yang optimal berbeda-beda tergandung pada beberapa faktor seperti jenis industri, besarnya bisnis, serta letak geografis.

Marketer Sukses dalam Menaikkan Followers dan Pengenalan Brand

Penelitian tersebut juga bertanya kepada narasumber tentang apa tujuan yang ingin mereka dapatkan melalui media sosial dan seberapa sukses mereka dalam mencapai tujuan tersebut. Sebagai respon, kebanyakan mengatakan bahwa mereka paling sedikit mengatakan “cukup sukses” ketika bertujuan untuk menaikkan follower (74 persen) dan mengenalkan brand (77 persen).

Hal ini membuat mereka fokus kepada usaha perusahaan untuk menaikkan audiens online dan mempersiapkan audiens untuk membuat mereka lebih reseptif terhadap usaha lanjutan para pebisnis, contohnya email marketing.

Faktanya, ketika ditanya mengenai usaha mereka untuk membangun hubungan baik dengan media sosial, 29 persen mengatakan sukses sedangkan 19 lainnya mengatakan kurang sukses.

Meski demikian, sisa 29 persen marketer yang disurvey mengatakan bahwa mereka sukses secara minimal atau tidak berhasil sama sekali. Sebagai tambahan, 32 persen jungkir balik untuk menjaga loyalitas para pelanggan, 39 persen berusaha membuat leads, dan 51 persen berusaha keras mengarahkan audiens ke penjualan langsung.

Menurut Strauss, hal ini juga memancing para pebisnis untuk menggunakan taktik media sosial yang lebih spesifik dan meraih tujuan mereka tanpa perlu banyak proses. Meski demikian, mereka masih berusaha untuk mengintegrasikan taktik mereka hingga menjadi strategi yang sempurna dan cocok bagi industri mereka secara nyata dan terukur.

Banyak Marketer Menggunakan Software untuk Mengatur Konten Mereka

Lebih dari setengah responden (57 persen) mengungkapkan bahwa perusahaan mereka menggunakan layanan software untuk mengotomatisasi posting konten untuk akun media sosial mereka. Bila dilihat dari banyaknya tools yang muncul dalam beberapa tahun belakangan, para marketer mulai sadar akan pentingnya menggunakan software sebagai bentuk manajemen media sosial mereka sehingga ingin mengadopsi tools tersebut demi mencapai tujuan mereka.

Meski demikian, 43 persen lainnya masih melakukan manajemen media sosial dengan cara manual. Menurut Strauss, hal ini akan sangat merugikan mereka bila dibandingkan dengan pebisnis yang menggunakan tools dalam sosial media mereka. Pasalnya, penggunaan software sebagai alat bantu manajemen media sosial mampu memudahkan pebisnis untuk melihat strategi mana yang berhasil dan mana yang tidak. Bila mereka tidak punya software untuk itu, artinya sama saja dengan mengalah.

Tambah Strauss, bila seorang pebisnis tidak menentukan tujuan untuk penggunaan media sosial mereka, tentu pebisnis tersebut tidak akan tahu apakah dia meraih tujuan itu atau tidak. Lebih lagi, ketika pebisnis hanya mengikuti intuisi tanpa tahu apa yang efektif atau tidak, bisa saja dia melakukan kesalahan yang fatal. Dan meskipun intuisi pebisnis tersebut benar, hal tersebut tidak akan membantu meyakinkan audiens untuk membeli produk mereka.

Sebagai kesimpulan, perusahaan yang tidak menggunakan software untuk memposting dan meningkatkan pengetahuan tentang apa yang orang katakan tentang produk mereka, kemungkinan besar akan dirugikan dan kalah, mengingat banyaknya kompetitor yang menggunakan software untuk membantu mengatur posting konten mereka.

Kebanyakan Marketer Mengalami Kesulitan Ketika Mengoptimalkan Konten Media Sosial

Ketika para responden ditanya tentang bagaimana sulitnya ketika mengoptimalkan konten dari berbagai jenis jejaring sosial, respon mereka cukup bervariasi. Meski demikian, lebih dari setengah responden (55 persen) menganggap hal tersebut “sedikit sulit” dengan 10 persen di antaranya mengatakan “sangat sulit”.

Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa marketer sulit untuk melakukan hal tersebut, meskipun mereka memahami bagaimana pentingnya strategi konten media sosial seperti konten visual, penargetan audiens, dan waktu yang tepat untuk memposting konten.

Sebagai tambahan, baik bisnis kecil (memiliki karyawan kurang dari 100) maupun bisnis besar (memiliki karyawan lebih dari 100) rata-rata memiliki pandangan yang relatif seimbang. Tingkat kesulitannya bervariasi, setengah mengatakan ini sulit, setengah lagi mengungkapkan ini mudah. Intinya, baik perusahaan kecil maupun besar memiliki peluang kesuksesan yang bervariasi dalam usaha mereka menggunakan media sosial sebagai alat marketing.

Penyebab utama yang logis dalam temuan ini adalah penggunaan software untuk memaksimalkan konten media sosial mereka. Pebisnis yang menganggap ini mudah memiliki software yang mengatur konten mereka secara otomatis, sedangkan pebisnis yang mengganggap ini sulit adalah pebisnis yang tidak memiliki software tersebut.

Overview

Melakukan tes berkali-kali adalah cara yang tepat untuk mencari konten yang tepat untuk audiens Anda. Tes tersebut juga mampu mendeteksi kapan waktu yang tepat untuk memposting konten Anda di media sosial. Untuk mempermudah pekerjaan Anda, ada baiknya untuk menggunakan layanan software media sosial sehingga Anda dapat fokus melakukan pekerjaan yang lain.

Dalam memaksimalkan konten media sosial memang susah-susah gampang. Namun, tidak berarti Anda harus bingung bagaimana melakukannya. Intinya, bagaimana Anda memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk memudahkan Anda meraih tujuan, baik itu menaikkan traffic media sosial bisnis Anda atau meningkatkan target penjualan. Selamat berbisnis!

 

Kisah Amancio Ortega, Sang Pendiri Zara yang Ada di Peringkat 2 Dunia Orang Terkaya

Anda mungkin sudah tidak asing mendengar nama Zara. Ia merupakan salah satu merek fashion paling ternama di dunia. Namun, sedikit yang mengetahui bahwa mastermind di balik merek tersebut adalah seorang pria bernama Amancio Ortega. Ia memang termasuk orang yang cukup misterius. Pria kelahiran 28 maret 1936 tersebut bahkan sangat jarang tampil di muka umum dan sering menolak permintaan wawancara. Meski begitu, ia tidak pernah berhenti membangun kerajaan bisnis fashion-nya hingga kini berhasil menjadi orang terkaya di Spanyol.

Berasal dari Keluarga Kurang Mampu

Kesuksesan yang dirasakan Ortega kini tidak diraihnya secara mudah. Berasal dari keluarga yang kurang mampu, anak bungsu dari empat bersaudara ini lahir di Busdongo de Arbas, sebuah dusun di Spanyol yang populasinya hanya mencapai 60 orang. Profesi ayahnya sebagai pekerja kereta api membuat Ortega dan keluarganya harus pindah ke sebuah rumah petak yang berbatasan dengan rel kereta api di La Coruña. Sedangkan, ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Sejak berusia 13 tahun, Ortega tidak lagi mendapatkan pendidikan formal. Karena hidupnya serba kekurangan, ia memutuskan untuk berhenti sekolah demi dapat bekerja membantu kedua orang tuanya. Perhatiannya dengan dunia fashion mulai muncul ketika ia dan ibunya berhenti di suatu toko lokal. Sang ibu memohon kepada penjual agar diizinkan untuk berhutang, namun tidak diberikan. Saat itu, Ortega benar-benar merasa terhina dan bertekad untuk mengubah nasib diri dan keluarganya.

Awalnya Hanya Seorang Pelayan Toko

Setelah berhenti sekolah, Ortega bekerja sebagai seorang pelayan toko untuk pembuat baju lokal bernama Gala. Kinerjanya yang baik membuat ia diangkat menjadi seorang asisten penjahit. Dari situlah ia mulai belajar menjahit pakaian. Sebisa mungkin, Ortega menyerap seluruh pelajaran yang bisa ia ambil, mulai dari proses produksi, distribusi garmen, dijual di toko. Ia pun jadi paham betapa pentingnya memberikan pakaian pada konsumen secara langsung kepada konsumen.

Setelah menikah dengan istri pertamanya, Mera, pada tahun 1966, Ortega mulai menjahit pakaian sendiri di ruang tamu rumahnya. Secara perlahan, ia mempekerjakan orang lain untuk menjahit seluruh desainnya dan menjualnya dengan harga lebih murah dari kebanyakan pakaian di Spanyol. Akhirnya, pada tahun 1975, Ortega dan Mera berhasil membuka toko Zara pertama mereka di Spanyol. Pemilihan lokasi yang tepat membuat bisnis Zara berkembang pesat. Pada tahun 1989, tercatat ada hampir 100 toko Zara yang berhasil dibuka oleh Ortega di Spanyol.

Disiplin Menerapkan Strategi Andalan

Pesatnya perkembangan Zara tidak lepas dari berbagai strategi jenius yang diaplikasikan oleh Ortega. Ia selalu memastikan bahwa produk-produk fashion yang dijualnya di Zara benar-benar dibutuhkan oleh pelanggan. Oleh sebab itu, sebelum memproduksi suatu pakaian, ia akan terlebih dahulu melakukan riset mendalam. Ortega juga mengikuti seluruh perkembangan dunia fashion agar dapat memberikan produk-produknya secara cepat.

Selain itu, Ortega juga menerapkan aturan yang harus dilakukan seluruh pegawainya, yakni mengganti tampilan baju yang menjadi display pada manekin toko sebanyak dua kali dalam seminggu. Ia juga memastikan agar seluruh pesanan baju pelanggannya dapat selesai hanya dalam waktu dua hari. Strategi-strategi Ortega tersebutlah yang membuat para pelanggan memiliki loyalitas dan kepercayaan yang tinggi terhadap merek Zara.

Miliarder yang Sederhana dan Rendah Hati

Segala jerih payah yang dilakukan Ortega sejak remaja pun membuahkan hasil memuaskan. Menurut majalah Forbes, kekaayaan Ortega pada tahun 2013 mencapai angka $57 miliar atau sekitar 754,6 triliun rupiah, membuatnya masuk pada jajaran orang terkaya di dunia. Meski begitu, ia dikenal sebagai orang yang sangat sederhana. Ia selalu berusaha untuk menciptakan komunikasi yang baik dengan seluruh pegawainya dari berbagai lapisan.

Saat mengunjungi acara pembukaan gerai Zara di Manhattan, Ortega bahkan pernah menangis karena terharu. Ia tidak percaya bahwa ada banyak orang yang mendatangi tokonya hingga rela berdesak-desakan. Saking terharunya, Ortega sampai harus mengurung diri di kamar mandi untuk menyembunyikan tangisannya. Ia membayangkan betapa bangganya kedua orang tuanya jika mereka masih hidup dan dapat menyaksikan kesuksesannya di dunia fashion.

 

Kini, Ortega tengah menikmati hidupnya bersama istri keduanya, Flora Perez Marcote, yang dinikahinya pada tahun 2001 setelah bercerai dari Mera pada tahun 1986. Ortega dan Marcote dikabarkan tinggal sebuah apartemen di La Coruna, Spanyol. Ia juga memiliki berbagai aset mewah lain seperti The Epic Residences & Hotel di Miami, Florida, dan pesawat jet pribadi The Global Express BD-700. Namun, Ortega jarang menikmati waktu liburan karena lebih menghabiskan waktu untuk bekerja.

Jeff “Amazon” Bezos, Dari Toko Buku Online ke E-Commerce

Berawal dari penjualan buku, Amazon.com kini telah berkembang menjadi perusahaan online terbesar di dunia dalam bidang perdagangan elektronik. Orang di balik kesuksesan tersebut adalah Jeffrey Preston Bezzos, atau yang lebih akrab disapa dengan nama Jeff Bezos. Ia dikenal sebagai sosok pria yang tangguh dan cerdas, tidak mengherankan jika kini ia masuk pada jajaran orang terkaya di dunia melalui bisnis Amazon.com miliknya.

Tertarik Dunia Teknik Sejak Kecil

Ketertarikan Jeff terhadap dunia teknik ternyata telah muncul sejak ia masih kecil. Jeff bahkan pernah membedah tempat tidurnya sendiri menggunakan obeng. Seiring dengan berjalannya waktu, ketertarikannya menjadi lebih fokus pada bidang sains dan elektro. Saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, pria kelahiran 12 Januari 1964 tersebut membuat alarm listrik sederhana yang dipasang di rumahnya sendiri. Alarm tersebut digunakan untuk mengawasi adik-adiknya agar tidak keluar rumah.

Minat dan bakatnya tersebut masih terus berlanjut hingga ke jenjang SMA. Jeff pernah mengikuti sebuah pelatihan sains di Universitas Floridan dan berhasil mendapatkan penghargaan Silver Knight Awards. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Princeton University. Awalnya, Jeff mendaftar ke jurusan Fisika, namun ia memutuskan untuk menyalurkan kecintaannya pada dunia komputer dengan pindah jurusan ke Computer Science and Electrical Engineering.

Potensi Ritel Buku Amerika Serikat

Karir Jeff dimulai dengan bekerja di Wall Street. Ia juga beberapa kali pernah menjadi pegawai di beberapa perusahaan besar lain seperti Fitel, Banker Trust, dan DE Shaw Company, sebelum akhirnya tidak bisa membendung keinginan untuk mendirikan usaha sendiri. Pada tahun 1994, Jeff mulai memperhatikan industri ritel buku di Amerika Serikat. Ia merasa bahwa saat itu perusahaan percetakan dan ritel buku tidak dapat memberikan katalog lengkap dari seluruh buku yang mereka miliki.

Dari situlah Jeff memiliki ide untuk membuat sebuah website sebagai tempat perkenalan seluruh produk buku. Ide tersebut didukung dengan jumlah pengguna internet yang meningkat hingga 2.300% per tahun. Melihat kesempatan emas untuk, Jeff pun menghadiri Konvensi Booksellers Amerika untuk belajar tentang segala hal yang terkait dengan bisnis buku. Setelah itu, Jeff memutuskan untuk pindah ke Seattle agar dapat memiliki akses lebih mudah ke tempat grosir buku.

Dibangun di Garasi Rumah

Pendirian Amazon.com dimulai di garasi rumah Jeff yang terdiri dari dua kamar tidur. Ketika tes sites telah selesai dibangun dan berjalan, Jeff meminta 300 orang untuk mengujinya. Kode dites pada berbagai platform komputer yang berbeda. Akhirnya, pada tanggal 16 Juli 1995, Jeff berhasil meluncurkan situs website Amazon.com untuk diakses di seluruh dunia. Situs tersebut pun dengan cepat dikenal oleh banyak orang karena pemasarannya yang dilakukan melalui jaringan internet.

Keberhasilan Jeff dalam mendirikan Amazon.com tidak terlepas dari peran orang tuanya yang ikut memberikan dana sebesar $300.000 sebagai modal usaha. Tidak ingin ditinggalkan oleh para pelanggan, Jeff pun selalu melakukan berbagai inovasi terhadap situsnya tersebut. Kini, ia tidak hanya menjual buku, namun juga elektronik, CD musik, DVD, dan masih banyak lagi. Meski begitu, produk buku dan ilmu pengetahuan masih mendominasi aktivitas jual-beli Amazon.com.

Kompetisi Kerja Bertensi Tinggi

Kerja keras yang dilakukan oleh Jeff dan kawan-kawan ternyata pernah mendapat banyak kritik tajam. Pada tahun 1997, Jeff menulis surat kepada para pemegang saham yang berisi, “Anda dapat bekerja dalam waktu lama, bekerja keras, atau bekerja secara cerdas, tetapi di Amazon.com, Anda tidak dapat memilih dua dari ketiganya.” Surat tersebut menyiratkan bawah budaya kerja yang diterapkan Jeff di Amazon.com memang sangat keras.

Jeff juga mengaplikasikan sistem feedback yang memungkinkan para pegawainya di Amazon.com untuk melihat peringkat satu sama lain. Setiap tahunnya, pegawai yang menduduki peringkat paling rendah tidak diperkenankan untuk bekerja lagi di Amazon.com. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika para pegawai Jeff memiliki tingkat kompetensi yang tinggi dan begitu serius. Hal tersebut membuat mereka harus selalu memberikan kinerja terbaik mereka.

 

Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, tidak berlebihan jika kita menyebut Jeff Bezos sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia. Majalah Forbes bahkan menempatkan Jeff sebagai orang terkaya ke-15 di dunia, dengan nilai kekayaan mencapai $47.2. Sedangkan, dalam bidang teknologi, Jeff dinobatkan sebagai orang terkaya ke-3 setelah Bill Gates dan Larry Ellison.

Page 1 of 3
1 2 3