4 Cara Memanfaatkan Facebook untuk Marketing eCommerce

Bagi mayoritas merek eCommerce, Facebook masih menjadi platform media sosial utama yang digunakan untuk meningkatkan traffic dan jumlah pelanggan. Sekarang mungkin Anda telah memiliki sebuah halaman Facebook khusus brand Anda dan secara rutin membagi konten kepada followers di sana. Namun, apakah Anda telah benar-benar memanfaatkan Facebook dengan baik? Yakinkah Anda bahwa marketing yang Anda lakukan tidak mengganggu pelanggan Anda dan berhasil meningkatkan penjualan?

1. Mencantumkan Gambar

Untuk meningkatkan traffic dan penjualan melalui Facebook, Anda harus menciptakan engagement dan membangun audiens terlebih dahulu. Engagement tersebut dapat Anda lakukan dengan cara mem-post gambar pada halaman Facebook brand Anda. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh HubSpot, gambar mampu menjaring komentar 104% lebih banyak dari postingan biasa yang hanya berupa tulisan. Likes Anda juga akan meningkat hingga 53%.

Lalu, jenis gambar apa yang harus Anda post pada Facebook?

Saat mem-post foto produk, usahakan untuk mencantumkan tulisan yang menambah konteks pada foto tersebut, misalnya seperti “New”, “Back in Stock”, atau “Summer 2016 Collection”. Anda juga dapat menghilangkan kesan membosankan pada foto produk dengan melakukan collage pada beberapa foto sekaligus. Cantumkan beberapa produk yang menurut Anda cocok dipadukan bersama. Gambar pada Facebook Anda pasti akan tampak lebih menarik.

2. Menjual “Lifestyle” Terkait Produk

Tips satu ini sangat cocok diterapkan oleh para pelaku bisnis retail. Ketika mencantumkan gambar pada Facebook, Anda tidak hanya menjual produk, namun juga lifestyle yang terkait dengan produk Anda tersebut. Post gambar seseorang sedang menggunakan produk Anda pada situasi yang terkait dengan brand dan target demografis Anda. Anda juga bisa mengelilingi produk Anda dengan produk-produk lain yang non kompetitif namun masih “on brand”.

Sebagai contoh, Anda dapat belajar dari Poler Stuff, sebuah brand penghasil peralatan outdoor dan olahraga. Pada sebuah gambar yang di-post di halaman Facebook, mereka menampilkan foto seorang traveller solo yang sedang mengendarai sepeda untuk mempromosikan gaya hidup outdoor saat weekend. Foto tersebut diambil dari belakang, memperlihatkan produk-produk Poler Stuff yang dikenakan oleh orang tersebut. Tidak ketinggalan sebuah caption yang berbunyi “Get out there this weekend. No excuses”.

3. Mengadakan Kontes atau Giveaway

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh marketingland.com menunjukkan bahwa 42% orang menekan tombol “like” pada halaman Facebook suatu brand untuk mendapatkan kupon atau diskon. Anda dapat memanfaatkan hal tersebut untuk menerapkan strategi serupa, yakni dengan mengadakan kontes atau giveaway. Tidak hanya melakukan proses engagement, kedua cara tersebut dapat menarik pelanggan baru untuk berkunjung ke halaman Facebook Anda.

Salah satu brand yang berhasil melakukan strategi ini adalah Diamon Candles. Mereka meminta para fans di halaman Facebook untuk menekan tombol “like”, melakukan “share”, dan “pin” agar mendapatkan kesempatan memenangkan salah satu produk mereka. Hasilnya, mereka berhasil mendapatkan 3,269 likes dan 2.627 shares pada postingan giveaway tersebut.

4. Menawarkan Diskon dalam Waktu Tertentu

Apa tujuan Anda melakukan marketing melalui Facebook? Tentu pada akhirnya semua akan berujung pada penjualan, bukan? Menawarkan diskon dapat menjadi cara yang efektif untuk membuat orang-orang segera melakukan pembelian, namun berilah batasan waktu pada diskon tersebut. Memberi jangka waktu tertentu pada diskon dapat meningkatkan esensi “kelangkaan” pada produk yang Anda jual, yang terbukti mampu menjadi pemicu kuat untuk melakukan pembelian.

Jika tertarik untuk menerapkannya, Anda dapat belajar dari Bonobos, sebuah brand pakaian pria. Mereka menawarkan diskon yang hanya berlaku pada jangka waktu tertentu dan memasang batas minimum pembelian. Batas minimum pembelian dapat menjadi cara cerdas untuk memberi tawaran menarik pada pelanggan tanpa harus memberikan terlalu banyak potongan,

 

Ketika menggunakan Facebook, perhatikan keseimbangan antara menciptakan konten yang memikat pelanggan sekaligus mendorong mereka untuk memperhatikan produk Anda. Menawarkan penawaran menarik seperti diskon dan giveaway mampu menjembatani adanya gap di antara dua tujuan tersebut. Selamat mencoba dan semoga berhasil!

5 Cara Mendapatkan Leads Melalui Instagram

Dewasa ini, mendapatkan leads bisa menggunakan banyak cara. Salah satu cara yang dapat Anda lakukan adalah dengan menggunakan sosial media. Salah satu sosial media yang akhir-akhir ini sedang naik daun adalah Instagram. Namun, banyak orang yang ragu menggunakan Instagram sebagai sarana pengumpul leads yang baik. Alasannya, Instagram dianggap sebagai sosial media yang tidak efektif.

Sebenarnya ada cara-cara yang tepat dalam menggunakan Instagram untuk mendapatkan leads. Berikut ini adalah beberapa cara yang terbukti efektif mendapatkan leads melalui Instagram.

1. Gunakan Hashtag yang Relevan

Kesalahan terbesar dalam menggunakan Instagram untuk mendapatkan leads adalah karena hashtag yang kurang relevan. Beberapa bahkan tidak menggunakan hashtag sama sekali atau malah menggunakan hashtag yang kurang relevan.

Bayangkan hashtag sebagai sebuah keywords. Cari kata-kata yang memiliki banyak variasi dan pastikan hashtag tersebut mudah dicari. Buat beberapa hashtag yang banyak digunakan sehingga dapat terlihat, dan sisanya hashtag yang jarang digunakan untuk mempertahankan post Anda tetap di atas. Tambahkan beberapa hashtag sebagai variasi. Selain itu, gunakan kata-kata yang menarik dan sedang tren. Sebagai contoh, orang akan lebih suka menggunakan #foodporn ketimbang #lunch atau #makansiang.

2. Pastikan Link yang Anda Berikan Tepat

Banyak orang yang membuang sia-sia kesempatan untuk menggiring orang ke website utama mereka, terutama di profil akun. Kebanyakan orang memasang link homepage di profil akun tersebut. Hal ini merupakan kesalahan besar, karena orang akan bingung dan tidak paham harus berbuat apa dengan link tersebut.

Oleh karena itu, tujukan langsung link pada akun profil ke bagian “About”, halaman toko, atau langsung ke blog post. Akan lebih menarik lagi apabila Anda membuat satu landing page khusus dimana terdapat info bahwa Instagrammers akan mendapatkan penawaran khusus untuk produk Anda.

3. Berceritalah Menggunakan Gambar

Konten yang menjadi daya tarik utama dalam Instagram tidak lain adalah gambar. Oleh karena itu, pancing orang-orang dengan menggunakan cerita yang menarik tentang brand Anda. Apa yang Anda tawarkan? Apa yang jadi daya tarik produk Anda? Bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan mereka? Itulah yang seharusnya Anda ceritakan dalam konten yang Anda post.

Selalu berikan gambar yang baru untuk setiap postingan baru. Jangan lupa, esensi seni serta fotografi yang menarik. Serta, berikan caption yang menarik sehingga orang yang melihatnya ingin mengetahui cerita dalam konten Anda lebih dalam.

4. Pahami Follower Anda

Metode ini bertujuan untuk melihat apa yang diinginkan oleh follower Anda. Cari tahu apa yang disukai dan apa yang tidak, kemudian perbaiki. Jika perlu, ubah secara drastis untuk mencari tahu apa yang tepat untuk target Anda.

Cari tahu siapa yang mereka follow dan siapa yang mem-follow mereka. Bila Anda telah tahu akun siapa yang paling banyak follower Anda ikuti, cari tahu apakah akun tersebut dapat Anda hubungi dan minta akun tersebut untuk mem-follow brand Anda. Dengan demikian, brand Anda jadi lebih terpercaya.

5. Jangan Gengsi untuk Promosi Diskon

Bila memang tujuan Anda menjual produk, katakan secara lantang. Rayulah pelanggan Anda sesekali dengan sale eksklusif menggunakan kode promo yang diberikan melalui akun Instagram Anda. Upload gambar yang mencolok dengan copy yang besar dan mudah dibaca. Hal ini biasanya sangat efektif menjaring banyak pelanggan dari Instagram.

 

Pada dasarnya, Instagram tidak membutuhkan banyak energi dibandingkan dengan sosial media lainnya. Selama Anda tahu bagaimana strategi dan taktiknya, tidak mungkin rasanya Anda akan kehilangan leads dari Instagram. Selamat mencoba!

Menaikkan Brand Awareness dalam Waktu Singkat

Memulai suatu usaha dari awal jelas merupakan hal yang baru bagi kebanyakan orang, dan mungkin juga Anda salah satunya. Melihat pebisnis-pebisnis lain yang telah sukses dengan produk mereka menjadi inspirasi tersendiri bagi diri Anda. Ada rasa percaya diri yang tumbuh ketika melihat mereka yang telah sukses dengan produk mereka.

Apakah Anda pernah berpikir tentang bagaimana mereka dapat mengenalkan produk mereka hingga sukses sampai sekarang? Bagaimana cara mereka menaikkan brand awareness mereka? Apakah hanya karena brand tersebut tiba-tiba muncul dan kemudian bisa jadi terkenal begitu saja?

Bila berbicara tentang brand awareness, tidak mungkin rasanya sebuah produk baru tiba-tiba terkenal begitu saja tanpa adanya usaha keras. Pasti ada langkah-langkah khusus untuk menaikkan brand awareness mereka. Namun tentunya, hal tersebut akan sangat memakan waktu.

Meski demikian, bukan tidak mungkin menaikkan brand awareness dapat Anda lakukan dalam waktu yang cukup singkat. Yang Anda butuhkan adalah sesuatu yang baru, yang berbeda, sehingga orang-orang dapat mengenal produk Anda. Intinya, kreatifitas adalah hal yang sangat penting untuk menaikkan brand awareness dalam waktu singkat.

Kali ini akan dibahas beberapa ide sukses untuk menaikkan brand awareness dari brand-brand ternama di dunia, mulai dari Uniqlo hingga Hubspot. Beberapa pelajaran penting juga akan Anda pelajari dari ide-ide tersebut.

Ide Menaikkan Brand Awareness dari Brand Ternama Dunia

Menaikkan brand awareness dapat dimulai dari ide yang matang dan sempurna. Sebagai inspirasi untuk Anda, berikut ini beberapa ide menaikkan brand awareness dari berbagai brand-brand ternama di dunia yang sukses membawa mereka mendapatkan respon yang baik dari pembeli dalam jangka waktu yang tidak lama.

Uniqlo

Uniqlo merupakan perusahaan asal Jepang yang menyediakan pakaian kasual untuk segala jenis usia. Di tahun 2006, tak banyak orang yang tertarik bahkan mengenal produk ini. Hingga di sekitar tahun 2009, brand mereka mulai dilirik banyak orang.

Cara yang digunakan oleh Uniqlo, seperti namanya, cukup unik. Mereka bekerja sama dengan brand lain untuk mengenalkan brand mereka. Uniqlo mensponsori tiket gratis untuk masuk ke Museum of Modern Art setiap hari Jumat dari jam 4 sore hingga 8 sore. Cara ini mampu mengenalkan nama brand mereka ke orang-orang baru yang mungkin tidak pernah mereka jangkau sebelumnya sehingga memberikan efek positif. Orang-orang yang mendapatkan tiket gratis akhirnya membicarakan hal ini dari mulut ke mulut. Akibatnya, nama Uniqlo makin dikenal dan pengunjung museum juga semakin banyak.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa dengan bekerja sama dengan brand lain yang telah terkenal sebelumnya akan membantu Anda mendapatkan kesan dan reputasi yang baik. Brand Anda akan terangkat selama Anda juga tidak merugikan brand yang Anda tumpangi. Akan lebih baik apabila kerjasama tersebut sama-sama saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Dropbox

Dropbox merupakan layanan penyimpanan data gratis yang dapat digunakan sebagai penyimpanan dokumen, foto, hingga video serta mampu membagikan file Anda kepada orang-orang lain. Produk ini kurang banyak dikenal hingga tahun 2008 lalu. Sejak saat itu, Dropbox mulai banyak dipergunakan hingga sekarang.

Dropbox menggunakan metode “ajak teman” untuk memperkenalkan produk mereka. Dropbox mempermudah penggunanya untuk mengajak teman mereka menggunakan Dropbox melalui email, media sosial, atau metode berbagi lain yang disukai oleh penggunanya. Pengguna yang mereferensikan temannya untuk menggunakan Dropbox akan mendapatkan kapasitas penyimpanan yang lebih banyak tergantung dari banyaknya sign up yang didapat oleh pengguna tersebut. Cara ini mampu menaikkan angka pengguna baru Dropbox hingga 60 persen.

Perhatikan bagaimana produk Anda dapat mempromosikan dirinya sendiri. Seperti yang kita tahu, Dropbox mampu menaikkan banyak sign up karena orang-orang ingin mendapatkan kapasitas penyimpanan yang lebih. Pertanyaan besarnya adalah, apa upah yang dapat Anda berikan ke pengguna agar mereka mengajak temannya untuk membeli produk Anda? Hal tersebutlah yang paling penting untuk menarik pengguna.

Evernote

Sebuah tool untuk mencatat hal-hal yang penting ketika sedang jauh dari ponsel adalah daya jual dari Evernote. Akhir-akhir ini makin banyak orang yang tahu dan menggunakan Evernote sebagai asisten pribadi mereka. Awal tahun 2013 adalah angka puncak dimana Evernote mengalami pelonjakan pengguna.

Sebelum merilisnya ke pasaran, Evernote memilih untuk merilis versi closed beta pada mulanya. Versi ini bertahan hingga 4 bulan. Dalam kurun waktu tersebut, banyak orang yang mendaftar untuk mendapatkan produk tersebut. Setiap orang yang ingin menggunakan fitur mereka harus men-share informasi tentang Evernote. Otomatis, Evernote menjadi bahan perbincangan banyak orang kala itu. Hebatnya, hanya dalam kurun waktu tersebut, Evernote berhasil menarik perhatian hingga 125.000 sign up.

Dari sini dapat dilihat bagaimana Evernote berhasil menggaungkan namanya dengan bermodalkan eksklusifitas produk mereka. Selain itu, kewajiban calon pengguna untuk sharing informasi tentang Evernote kepada rekan-rekan mereka bisa dibilang efektif menaikkan brand awareness tentang produk tersebut tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

Buffer

Mungkin Anda tidak terlalu sering mendengar nama ini, namun pebisnis yang tergantung pada media sosial sebagai alat marketing mereka pasti sangat familiar. Buffer merupakan publishing tool untuk beragam media sosial. Layanan mereka mempermudah seseorang untuk mengatur waktu posting di media sosial serta mengetahui bagaimana perkembangan akun media sosial mereka.

Buffer menggunakan metode guest blogging untuk menaikkan pengguna layanan mereka. Dengan hanya menulis 150 guest posts, mereka berhasil menaikkan pengguna dari nol hingga lebih dari 100.000 pengguna dalam kurun waktu 9 bulan.

Awalnya, mereka memulai usaha hanya dengan situs kecil dan menaikkan user mereka dengan memposting hal-hal yang paling populer di industri mereka. Buffer baru mendapatkan ketenaran ketika membuat banyak konten yang bermutu, meskipun tidak diposting di website mereka. Meski demikian, konten tersebut mampu menaikkan pengguna hingga 70 persen dari pengguna yang mendaftar setiap harinya.

Perkembangan yang terjadi pada Buffer tidak lain karena mereka memanfaatkan konten blogging yang berkualitas. Ketika Anda menyediakan konten blogging yang berkualitas, Anda akan dengan sendirinya membangun audiens yang tertarik dengan produk Anda. Ketika mereka tahu, suka, dan percaya pada Anda, barulah Anda dapat menawarkan produk atau layanan Anda kepada mereka.

KISSMetrics

Anda yang bergerak di dunia digital marketing mungkin sering mendengar website ini. KISSMetric merupakan layanan solusi web analytic yang membantu Anda menaikkan jumlah pelanggan dan tingkat retensi atau pembelian kembali. Layanan ini mulai diperbincangkan oleh khalayak ramai ketika menginjak tahun 2010.

Metode yang dilakukan oleh KISSMetric sungguh menarik. Mereka membuat infografik yang memberikan banyak informasi menarik dan penting. Mulanya, hanya dengan membuat 47 infografik saja, KISSMetric mampu mendapatkan 2.512.596 pengunjung, 41.142 backlinks, dan 3.741 unique referring domain. Menurut mereka, infografik adalah salah satu penyebab utama meningkatnya pembaca blog mereka dari nol ke 350.000 orang dalam sebulan hanya dengan kurun waktu 24 bulan.

Bila kita melihat dari kasus ini, infografik memang benar-benar efektif untuk KISSMetric. Namun, bukan itu intinya, melainkan bagaimana Anda bereksperimen dengan format yang paling sesuai dengan audiens Anda, yang mungkin saja memiliki tendensi akan format yang berbeda.

Qualaroo

Seberapa sering Anda menemukan pop-up survey di website yang Anda kunjungi? Kemungkinan besar, pop-up survey tersebut adalah buatan Qualaroo. Layanan Qualaroo utamanya adalah membuat pop-up survey yang akan membantu Anda mengetahui bagaimana pengalaman pengguna ketika menggunakan website Anda.

Qualaroo memiliki fitur ‘Powered by Qualaroo [?]’ yang muncul di seluruh website para penggunanya, kecuali bila pengguna tersebut melakukan upgrade dan membayar akun mereka. Tanda tanya yang muncul di pop-up mereka merupakan sebuah tombol yang dapat di klik. Tombol tersebut akan mengarahkan seseorang langsung ke halaman sign up untuk akun free trial dari Qualaroo.

Strategi yang digunakan oleh Qualaroo disebut sebagai conversion optimization. Strategi ini mengandalkan produk gratis Anda sebagai sarana menaikkan brand awareness bagi orang-orang yang tertarik. Para pengguna yang telah merasakan free trial nantinya akan merasa ingin sesuatu yang eksklusif, dimana satu-satunya cara adalah dengan membayar layanan produk Anda.

Uber

Mungkin Anda telah mengenal aplikasi transportasi ini dengan baik. Uber merupakan layanan aplikasi mobile yang menghubungkan Anda dengan sopir dalam waktu yang singkat. Ribuan bahkan jutaan sopir Uber siap datang memenuhi panggilan Anda pada saat yang dibutuhkan.

Di awal berdirinya, Uber menawarkan layanan antar jemput gratis kepada para undangan dari event-event teknologi lokal serta event venture capital. Mereka paham bahwa orang-orang tersebut akan dengan senang hari berbagi pengalaman kepada media massa dan audiens media sosial mereka. Hal tersebut secara langsung menaikkan pamor Uber di depan target audiens mereka.

Sebuah strategi penting dilakukan oleh Uber disini. Uber menawarkan pengalaman yang menarik mengenai layanan mereka kepada pelanggan ideal mereka secara gratis. Tunjuk target audiens Anda dan berikan pengalaman tersebut sebaik-baiknya. Mereka akan dengan senang hati berbagi dengan rekan-rekannya tentang pengalaman ini. Poin bonus apabila ternyata mereka memiliki jaringan pertemanan yang cukup besar sehingga mereka dapat berbagi pengalaman tersebut dengan orang yang tepat dan tentunya banyak.

Yelp

Jika Anda termasuk orang yang senang mengikuti tren serta gaya hidup ala hipster, mungkin Anda akan langsung mengenali layanan Yelp ini. Pasalnya, Yelp memberikan layanan berupa review pengguna serta rekomendasi untuk restoran, tempat belanja, tempat hiburan, dan lain sebagainya. Popularitas Yelp sendiri mulai merangkak naik sejak tahun 2007 dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan sekarang.

Cara Yelp dalam menaikkan brand awareness adalah dengan menggunakan sisi sosial penggunanya. Orang yang mereview Yelp wajib mengisi profil diri mereka. Hal ini membuat review yang dibuatnya lebih dapat dipercaya dan reviewer juga merasa bahwa mereka merupakan salah satu anggota dari komunitas mereka dan ingin menaikkan reputasi mereka menggunakan situs ini. Setiap anggota dapat berinteraksi satu sama lain dengan cara berteman, online chat, atau event kopi darat. Hingga saat ini, Yelp berhasil mengumpulkan lebih dari 47 juta review di website mereka.

Buat pelanggan Anda dapat bersosialisasi dengan lebih personal dengan produk Anda. Bangun komunitas yang membuat pelanggan Anda mampu berkomunikasi satu sama lain. Biarkan mereka saling bertukar pengalaman serta berinteraksi tentang ketertarikan yang sama.

Upworthy

Mungkin Anda sering mendapatkan konten-konten yang viral dari website ini. Seperti yang kita tahu, Upworthy merupakan website yang mengumpulkan konten-konten viral dari seluruh dunia.

Di Upworthy, kurator akan menyiapkan 25 headline untuk setiap konten. Mereka kemudian memilih 4 headline yang disukai, kemudian managing editor memilih dua, yang mana nanti akan diuji coba. Dengan cara ini, Upworthy mampu meningkatkan 9 juta unique visitor per bulan dalam kurun waktu hanya sembilan bulan saja.

Cara yang digunakan oleh Upworthy merupakan cara yang paling sering digunakan oleh media-media online saat ini. Intinya, berikan headline yang benar-benar menarik perhatian seseorang untuk melihat konten Anda. Dengan demikian, konten Anda mampu dijangkau oleh banyak mata secara maksimal, dan tentunya meningkatkan brand awareness Anda sendiri.

Hotmail

Layanan Hotmail merupakan salah satu dari sekian layanan gratis dari perusahaan besar asal Amerika Serikat, Microsoft. Hotmail menyediakan layanan email gratis untuk penggunanya.

Hotmail menaikkan subscriber mereka dari nol ke 12 juta pengguna dalam 18 bulan hanya dengan menambahkan satu tagline di bagian bawah semua email berbasis Hotmail bertuliskan “P.S. I love you – Get your free e-mail at Hotmail”. Tagline tersebut diberikan link yang mengarahkan orang langsung ke landing page dimana mereka dapat sign up akun gratis dari Hotmail secara mudah dan cepat.

Optimalkan semua asset pribadi dari brand Anda, email signature misalnya, untuk memudahkan penerimanya menyebarkan nama brand Anda, atau sign up untuk trial gratis. Cara-cara kecil seperti inilah yang sering diabaikan oleh pebisnis dalam menyebarkan brand mereka.

HubSpot

Mungkin Anda kurang mengenali HubSpot sebagai suatu brand terkenal. Namun, HubSpot sendiri memiliki kekuatan inbound marketing yang terkenal. Mereka menyediakan platform inbound marketing yang membantu perusahaan menarik visitor, mengubahnya jadi leads, dan menutupnya sebagai penjualan.

Hubspot menawarkan layanan Website Grader, dimana pengunjung dapat memasukkan website mereka, URL, dan menerima saran secara otomatis dimana mereka dapat meningkatkan kualitas marketing mereka. Dalam minggu pertama saja, layanan ini digunakan lebih dari 140.000 perusahaan. Hingga saat ini, layanan tersebut telah menilai lebih dari 4 juta website dari seluruh dunia.

Buatlah sebuah terobosan yang benar-benar “di luar kotak”, seperti membuat sebuah alat gratis yang sekiranya dianggap penting oleh para pelanggan. Dengan demikian, audiens akan tertarik dengan alat tersebut, kemudian merembet ke produk atau layanan yang Anda tawarkan.

 

Seperti yang Anda lihat, menaikkan brand awareness dengan cepat dan efektif bukanlah suatu hal yang mustahil. Masih ada banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk mengenalkan produk Anda kepada banyak khalayak ramai. Intinya adalah bagaimana Anda mengaplikasikan ide cemerlang Anda sehingga dapat diterima orang banyak, meskipun ide yang bagus tak selalu berhasil dalam dunia bisnis.

Cara-cara konvensional seperti memberikan sample gratis atau mungkin testimonial dari pelanggan-pelanggan Anda juga patut dicoba. Mungkin bagi sebagian orang, cara tersebut dianggap kuno. Namun, jangan salah, mungkin saja cara tersebut dapat memberikan efek yang baik untuk bisnis Anda.

Satu hal lagi, jangan takut melakukan kesalahan. Melakukan kesalahan memang sangat mengecewakan bagi kebanyakan orang. Namun, dari kesalahan jugalah kita dapat mempelajari apa dan bagaimana cara orang mengenali dan menyukai produk Anda.

5 Cara Membuat Pelanggan eCommerce Merasa Aman Berbelanja

Apa yang membuat pelanggan e-commerce yakin untuk berbelanja di toko online Anda? Tentu saja ketika mereka merasa aman untuk berbelanja di toko online Anda. Semakin toko online Anda terpercaya, maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak orang yang berbelanja di toko online Anda. Namun, apakah Anda tahu bagaimana cara membuat pelanggan e-commerce Anda merasa aman berbelanja? Berikut ini adalah cara yang dapat Anda lakukan untuk membuat pelanggan merasa aman dan nyaman untuk berbelanja di toko online Anda.

1. Sertifikasi Keamanan Website

Banyak pelanggan takut untuk berbelanja online karena mereka takut dengan potensi pencurian finansial dan identitas mereka. Secure Sockets Layer atau biasa disingkat SSL adalah cara jitu untuk mengamankan data pribadi pelanggan. SSL akan mengenkripsi informasi mereka ketika akan melakukan pembelian. Website yang telah bersertifikasi biasanya diawali dengan “https” dengan huruf “s” singkatan dari “secure” atau aman.

2. Prosedur Otentifikasi

Pelanggan Anda selalu ingin agar data pribadi mereka aman, termasuk ketika mereka lupa. Untuk mengaplikasikan hal ini, gunakan beberapa prosedur otentifikasi sebelum informasi untuk login. Sebagai contoh, bila pelanggan Anda melupakan password mereka, situs Anda harus memberikan beberapa pertanyaan keamanan berbeda sebelum mengirimkan email ke alamat email yang telah diberikan oleh pelanggan tersebut sebelumnya.

3. PCI Compliance

Sebelum situs e-commerce Anda dapat menerima pembayaran melalui kartu kredit, Anda harus melalui tes PCI Compliance. Payment Card Industry (PCI) compliance akan memastikan pelanggan melakukan transaksi yang aman dengan data pribadi mereka dan menjaga agar informasi kartu kredit mereka aman. Tidak peduli seberapa besar situs e-commerce Anda, standarisasi seperti ini harus dilakukan bila Anda ingin memasukkan fitur pembayaran kredit dan kartu debet.

4. Hindari Mengalihkan Link ke Situs Lain yang Tidak Aman

Pelanggan akan menerima pemberitahuan ketika sertifikat SSL sudah tidak berlaku, dimana bila mereka tetap melakukan pembelian, maka data pribadi mereka dalam risiko dicuri. Biasanya disinilah Anda akan kehilangan banyak pembeli. Selain itu, hal yang juga membuat Anda kehilangan pembeli adalah ketika di website Anda terdapat link yang mengalihkan pelanggan ke situs pihak ketiga. Ketika terjadi hal demikian, otoritas SSL akan juga memberikan peringatan sebelum pelanggan pindah ke situs tersebut. Akibatnya, pelanggan bisa saja merasa takut dan akhirnya tidak melanjutkan pembelian.

5. Pilihan Pembayaran

Tidak semua pelanggan mau melakukan pembayaran melalui kartu kredit atau kartu debet, apalagi ketika mereka takut dengan pencurian data yang kerap terjadi di berbagai situs e-commerce besar di dunia. Anda tidak perlu harus kehilangan penjualan hanya karena alasan tersebut. Untuk itu, gunakan layanan seperti PayPal atau Visa, dimana pelanggan akan merasa lebih aman menggunakan metode pembayaran tersebut tanpa memberikan identitas pribadi mereka.

 

Mungkin cara-cara di atas sedikit membingungkan bagi Anda, terlebih lagi bagi Anda yang kurang paham seluk beluk dunia internet. Maka dari itu, pastikan Anda mendapatkan bantuan dari orang yang ahli, atau bila perlu, gunakan pihak ketiga untuk membantu Anda menyelesaikan hal tersebut. Keamanan adalah salah satu keunggulan dari toko online yang dibuat oleh StoreMantap. Oleh karena itu, fokuslah dengan penjualan Anda dan serahkan masalah keamanan toko online kepada kami.

Bagaimana Para Marketer Memaksimalkan Konten Media Sosial?

Perlahan tapi pasti, pebisnis mulai merasakan pentingnya media sosial untuk kemajuan usaha yang mereka dirikan. Berdasarkan Social Media Examiner, 97 persen pebisnis menggunakan media sosial sebagai sarana marketing mereka. Terlebih lagi, 92 persen di antaranya merasa bahwa media sosial juga penting untuk kesuksesan mereka.

Meskipun media sosial dipandang penting untuk menaikkan usaha mereka, para pebisnis pada umumnya masih berusaha untuk mengoptimalkan konten dalam media sosial mereka. Bahkan, dalam penelitian yang sama, 91 persen mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk menentukan strategi bisnis yang paling efektif untuk bisnis mereka.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Software Advice bekerja sama dengan Adobe telah diadakan dengan tujuan untuk memahami strategi apa yang paling sering digunakan oleh para marketer untuk mengoptimisasi konten media sosial mereka.

Selain temuan keduanya, penelitian tersebut juga mengungkapkan 182 fakta yang ditemukan oleh Liz Strauss, founder sekaligus CEO dari SOBCon, yang juga menduduki peringkat ke tujuh dalam daftar orang yang berpengaruh dalam menggunakan kekuatan sosial media versi majalah Forbes pada tahun 2013. Penelitian tersebut menemukan fakta yang cukup menarik, antara lain:

  1. Marketer pada umumnya (84 persen) secara rutin memposting ke paling sedikit tiga jaringan media sosial, dengan 70 persen di antaranya memposting konten minimal sekali dalam sehari.
  2. Marketer kebanyakan memanfaatkan visual konten, hashtag, dan username sebagai sebagai taktik penting untuk mengoptimalkan konten media sosial mereka.
  3. Lebih dari setengah dari keseluruhan narasumber (57 persen) menggunakan software untuk mengatur jadwal posting konten mereka dan merasakan bahwa software tersebut memudahkan mereka mengoptimasi konten sosial media mereka.

Kebanyakan Marketer Mengunakan Tiga atau Lebih Jejaring Media Sosial

Dari semua marketer yang menjadi narasumber survey tersebut, mayoritas (84 persen) mengatakan bahwa mereka aktif memposting konten untuk tiga jenis media sosial atau lebih, dengan media yang paling banyak digunakan antara lain Facebook, Twitter, dan/atau LinkedIn.

Secara total, sebanyak 61 persen menggunakan paling sedikit empat jenis media sosial; 20 persen menggunakan paling sedikit enam media sosial, dan yang paling mencengangkan, 3 persen di antaranya menggunakan 11 media sosial atau lebih.

Hasil tersebut menyisakan 14 persen dari marketer yang menggunakan hanya dua media sosial saja, dan 2 persen lain yang menggunakan satu media sosial secara rutin.

Menurut Strauss, dengan banyaknya marketer yang memposting konten mereka menggunakan bermacam-macam media sosial, para pebisnis yang hanya aktif menggunakan tiga jenis media sosial atau kurang akan sangat merugi. Pasalnya, banyak marketer pesaing yang menggunakan situs media sosial lebih dari 11 jenis, yang artinya apabila Anda hanya mengandalkan promosi konten melalui Facebook dan Twitter, hasilnya bisa jadi kurang maksimal.

Meski demikian, kata Strauss, banyak juga pengguna jejaring media sosial dengan cara yang kurang efektif. Misalnya, memposting konten secara acak, tanpa tujuan, dan bahkan tanpa memahami apa yang dapat dilakukan dengan masing-masing media sosial, mengingat setiap media sosial memiliki fungsi dan manfaat yang berbeda.

Kesimpulannya, ada perbedaan hasil yang mendasar antara memposting sebanyak-banyaknya dengan memposting secara strategis. Sebuah strategi marketing media sosial yang efektif tidak hanya melibatkan banyaknya konten yang diposting, tetapi juga konten yang tepat.

Kebanyakan Marketer Memposting Secara Rutin dan Merencanakan Konten untuk Selanjutnya

Kebanyakan marketer (70 persen) mengungkapkan bahwa mereka memposting konten di media sosial paling sedikit sekali dalam sehari, dengan 19 persen mengatakan bahwa mereka memposting lebih dari tiga kali dalam sehari. Berbanding terbalik, hanya 16 persen yang memposting lebih sedikit dari sekali dalam sehari, dan 14 persen lainnya tidak memiliki jadwal tertentu untuk melakukan posting.

Fakta bahwa banyak pebisnis yang memposting secara rutin dan konsisten ini bisa dibilang sangat mengesankan, mengingat banyaknya konten yang diposting di berbagai media sosial dengan guideline yang berbeda-beda, misalnya Twitter dengan maksimal 140 karakter yang berbeda dengan Facebook yang bebas menentukan berapa saja karakter yang digunakan dalam setiap postingan.

Ketika ditanya tentang seberapa panjang rencana postingan yang dilakukan oleh para pebisnis dalam setiap konten di media sosial, 41 persen menjawab “untuk beberapa hari hingga seminggu”. Jawaban ini merupakan jawaban paling populer mengenai durasi rencana posting konten. Total sebanyak 65 persen menjadwalkan konten media sosial mereka minimal untuk sehari kedepan, dengan 12 persen di antaranya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana yang pasti untuk menjadwalkan postingan dalam kurun waktu yang terencana.

Secara keseluruhan, data tersebut mengungkapkan bahwa banyak marketer membuat rencana sehingga konten media sosial dapat secara konsisten terbuat dan terposting dengan baik. Sebagai kesimpulan, pebisnis yang gagal memposting konten dengan konsisten akan kesulitan untuk membangun brand yang baik serta menaikkan engagement dari audiens, apalagi bila dihadapkan dengan kompetitor yang mengadopsi strategi konten media sosial yang lebih terencana.

Konten Visual dan Hashtag Adalah Taktik yang Paling Penting

Dari tujuh taktik yang berbeda, (antara lain konten visual, penggunaan hashtag, penargetan kelompok tertentu, pemanfaatan respon media sosial, optimisasi ukuran gambar untuk tiap jaringan, penggunaan video, dan pembatasan jumlah karakter) narasumber paling sering mengatakan bahwa konten visual dan hashtag merupakan elemen krusial untuk optimisasi media sosial. Sebanyak 82 persen narasumber mengatakan “penting” dan “sangat penting” menggunakan konten visual, sedangkan hashtag menempati 67 persen. Bahkan taktik yang bisa dibilang vital (misalnya video) masih dianggap hanya sebagai konten yang “cukup penting” dengan 68 persen mengatakan demikian.

Fakta bahwa secara mayoritas marketer melihat tujuh taktik tersebut sebagai sesuatu yang penting menunjukkan bahwa kebanyakan dari mereka percaya bahwa dalam mengoptimisasikan media sosial mereka membutuhkan pendekatan multifacet alias pendekatan yang beragam.

Meski demikian, Strauss beranggapan bahwa prioritas mereka membutuhkan banyak penyesuaian. Contohnya, memprioritaskan konten visual dan hashtag bisa saja memberikan dampak sebaliknya, bahkan memperlihatkan kekurangan akan pemahaman dasar-dasar strategi media sosial.

Contohnya, sederhana saja. Semua orang pasti tahu bahwa konten visual meningkatkan engagement yang baik. Namun, gambar yang seperti apa yang akan diberikan bila seorang pebisnis tidak mengerti siapa audiens mereka? Apabila konten visual Anda tidak sesuai dengan target audiens, maka konten tersebut bisa menjadi sia-sia saja.

Strauss juga percaya bahwa marketer harus lebih memprioritaskan pemanfatan respon media sosial (call to action). Mudahnya, jika seseorang tidak bertanya “kenapa tidak mengunjungi situs saya?” orang-orang mungkin tidak akan sulit-sulit mencari tahu tentang website orang tersebut. Respon yang baik dari audiens adalah yang paling utama.

Meski demikian, Strauss berpendapat, taktik tersebut akan benar-benar bekerja ketika seorang pebisnis mengetahui apa yang dia inginkan serta apa yang pebisnis tersebut inginkan dari audiens mereka. Intinya, pemilihan gambar dan CTA harus benar-benar dipilih dengan baik dan seksama untuk memunculkan respon yang spesifik dari audiens.

Contoh nyatanya adalah ketika Oracle ingin mempublikasikan event konferensi di South by Southwest Interactive bersama Chevrolet. Mereka menggunakan hashtag #sxswi untuk membagikan gambar promosi bagi para pengunjung. Selain itu, mereka juga memasukkan username @Chevrolet untuk berbagi dengan follower partner mereka, bersamaan dengan kalimat CTA yang menyarankan pengguna untuk mem-follow hashtag #IdeaRally dan ikut berdiskusi bersama via Twitter.

Karena tweet ini sangat relevan dengan pengunjung SXSWI, para pengguna akan dengan mudahnya merespon CTA yang diberikan dan berbagi tweet ini dengan follower mereka, yang nantinya juga akan tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Kebanyakan Melakukan Tes Sharing dan CTR untuk Mengoptimalkan Waktu Posting

Ketika ditanya tentang taktik yang mereka gunakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam posting di media sosial, hampir semuanya menjawabnya dengan jawaban yang sama, metode trial and error. Sebanyak 87 persen narasumber mengatakan telah melakukan tes untuk mengetahui sharing rates dan click-through rates (CTR) konten mereka di waktu dan hari yang berbeda dalam satu minggu. Tujuannya adalah untuk memahami kapan audiens potensial mereka merespon dengan baik.

Secara keseluruhan, narasumber menganggap bahwa share rate dan CTR hampir sama penting, dengan persentasi 35 versus 33 persen secara berturut-turut. Banyak juga yang merasa bahwa sangat penting (31 persen) dan/atau penting (33 persen) untuk menggunakan bantuan software optimisasi media sosial untuk menentukan waktu yang tepat.

Kesimpulannya, data ini menujukkan bahwa marketer merasa bahwa sangat penting untuk melakukan tes strategi dan monitoring media sosial untuk membuat keputusan mengenai kapan waktu yang tepat untuk memposting konten ke media sosial mereka berdasarkan data yang dihimpun serta berdasarkan beberapa indikator, ketimbang fokus kepada satu sumber saja.

Sangat sedikit responden yang merasakan bahwa sangat penting untuk membaca tren pasar dalam memahami waktu yang tepat untuk melakukan posting. Hal ini bisa dibilang masuk akal karena waktu posting yang optimal berbeda-beda tergandung pada beberapa faktor seperti jenis industri, besarnya bisnis, serta letak geografis.

Marketer Sukses dalam Menaikkan Followers dan Pengenalan Brand

Penelitian tersebut juga bertanya kepada narasumber tentang apa tujuan yang ingin mereka dapatkan melalui media sosial dan seberapa sukses mereka dalam mencapai tujuan tersebut. Sebagai respon, kebanyakan mengatakan bahwa mereka paling sedikit mengatakan “cukup sukses” ketika bertujuan untuk menaikkan follower (74 persen) dan mengenalkan brand (77 persen).

Hal ini membuat mereka fokus kepada usaha perusahaan untuk menaikkan audiens online dan mempersiapkan audiens untuk membuat mereka lebih reseptif terhadap usaha lanjutan para pebisnis, contohnya email marketing.

Faktanya, ketika ditanya mengenai usaha mereka untuk membangun hubungan baik dengan media sosial, 29 persen mengatakan sukses sedangkan 19 lainnya mengatakan kurang sukses.

Meski demikian, sisa 29 persen marketer yang disurvey mengatakan bahwa mereka sukses secara minimal atau tidak berhasil sama sekali. Sebagai tambahan, 32 persen jungkir balik untuk menjaga loyalitas para pelanggan, 39 persen berusaha membuat leads, dan 51 persen berusaha keras mengarahkan audiens ke penjualan langsung.

Menurut Strauss, hal ini juga memancing para pebisnis untuk menggunakan taktik media sosial yang lebih spesifik dan meraih tujuan mereka tanpa perlu banyak proses. Meski demikian, mereka masih berusaha untuk mengintegrasikan taktik mereka hingga menjadi strategi yang sempurna dan cocok bagi industri mereka secara nyata dan terukur.

Banyak Marketer Menggunakan Software untuk Mengatur Konten Mereka

Lebih dari setengah responden (57 persen) mengungkapkan bahwa perusahaan mereka menggunakan layanan software untuk mengotomatisasi posting konten untuk akun media sosial mereka. Bila dilihat dari banyaknya tools yang muncul dalam beberapa tahun belakangan, para marketer mulai sadar akan pentingnya menggunakan software sebagai bentuk manajemen media sosial mereka sehingga ingin mengadopsi tools tersebut demi mencapai tujuan mereka.

Meski demikian, 43 persen lainnya masih melakukan manajemen media sosial dengan cara manual. Menurut Strauss, hal ini akan sangat merugikan mereka bila dibandingkan dengan pebisnis yang menggunakan tools dalam sosial media mereka. Pasalnya, penggunaan software sebagai alat bantu manajemen media sosial mampu memudahkan pebisnis untuk melihat strategi mana yang berhasil dan mana yang tidak. Bila mereka tidak punya software untuk itu, artinya sama saja dengan mengalah.

Tambah Strauss, bila seorang pebisnis tidak menentukan tujuan untuk penggunaan media sosial mereka, tentu pebisnis tersebut tidak akan tahu apakah dia meraih tujuan itu atau tidak. Lebih lagi, ketika pebisnis hanya mengikuti intuisi tanpa tahu apa yang efektif atau tidak, bisa saja dia melakukan kesalahan yang fatal. Dan meskipun intuisi pebisnis tersebut benar, hal tersebut tidak akan membantu meyakinkan audiens untuk membeli produk mereka.

Sebagai kesimpulan, perusahaan yang tidak menggunakan software untuk memposting dan meningkatkan pengetahuan tentang apa yang orang katakan tentang produk mereka, kemungkinan besar akan dirugikan dan kalah, mengingat banyaknya kompetitor yang menggunakan software untuk membantu mengatur posting konten mereka.

Kebanyakan Marketer Mengalami Kesulitan Ketika Mengoptimalkan Konten Media Sosial

Ketika para responden ditanya tentang bagaimana sulitnya ketika mengoptimalkan konten dari berbagai jenis jejaring sosial, respon mereka cukup bervariasi. Meski demikian, lebih dari setengah responden (55 persen) menganggap hal tersebut “sedikit sulit” dengan 10 persen di antaranya mengatakan “sangat sulit”.

Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa marketer sulit untuk melakukan hal tersebut, meskipun mereka memahami bagaimana pentingnya strategi konten media sosial seperti konten visual, penargetan audiens, dan waktu yang tepat untuk memposting konten.

Sebagai tambahan, baik bisnis kecil (memiliki karyawan kurang dari 100) maupun bisnis besar (memiliki karyawan lebih dari 100) rata-rata memiliki pandangan yang relatif seimbang. Tingkat kesulitannya bervariasi, setengah mengatakan ini sulit, setengah lagi mengungkapkan ini mudah. Intinya, baik perusahaan kecil maupun besar memiliki peluang kesuksesan yang bervariasi dalam usaha mereka menggunakan media sosial sebagai alat marketing.

Penyebab utama yang logis dalam temuan ini adalah penggunaan software untuk memaksimalkan konten media sosial mereka. Pebisnis yang menganggap ini mudah memiliki software yang mengatur konten mereka secara otomatis, sedangkan pebisnis yang mengganggap ini sulit adalah pebisnis yang tidak memiliki software tersebut.

Overview

Melakukan tes berkali-kali adalah cara yang tepat untuk mencari konten yang tepat untuk audiens Anda. Tes tersebut juga mampu mendeteksi kapan waktu yang tepat untuk memposting konten Anda di media sosial. Untuk mempermudah pekerjaan Anda, ada baiknya untuk menggunakan layanan software media sosial sehingga Anda dapat fokus melakukan pekerjaan yang lain.

Dalam memaksimalkan konten media sosial memang susah-susah gampang. Namun, tidak berarti Anda harus bingung bagaimana melakukannya. Intinya, bagaimana Anda memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk memudahkan Anda meraih tujuan, baik itu menaikkan traffic media sosial bisnis Anda atau meningkatkan target penjualan. Selamat berbisnis!

 

Page 1 of 6
1 2 3 6