Apa yang harus Anda Jual Melalui Bisnis Toko Online?

Membangun sebuah bisnis baru mungkin menjadi hal yang paling seru untuk Anda sebagai seorang pebisnis. Bila Anda berencana untuk membuat bisnis baru, mungkin Anda dapat mencoba bisnis toko online. Bisnis toko online dewasa ini sedang naik daun. Berkembangnya teknologi informasi yang sangat pesat semakin membuat bisnis toko online meraih puncaknya.

Bisnis toko online memiliki keunggulan yang luar biasa. Anda tidak perlu membuka toko fisik untuk menjual produk Anda. Selain itu, Anda juga dapat dengan mudah menjangkau pelanggan-pelanggan dari jauh, bukan hanya pelanggan terdekat seperti halnya toko konvensional. Ini belum termasuk dengan sistem promosi yang mudah dan murah serta menjangkau kalangan-kalangan tertentu sehingga promosi produk jadi tepat sasaran.

Sayangnya, tidak semua produk cocok untuk dijual secara online. Contohnya saja, makanan-makanan yang cepat basi. Pelanggan Anda terbatas pada pelanggan-pelangan pre-order saja. Belum lagi ditambah dengan persaingan-persaingan toko online besar seperti Tokopedia atau Elevenia yang semakin menambah persaingan penjualan.

Lantas, produk yang seperti apa yang cocok untuk dijual melalui bisnis toko online? Sebenarnya mudah memilih produk yang cocok untuk dijual di toko online. Apa yang Anda butuhkan hanyalah 8 pendekatan berikut ini.

1.  Cari Peluang dari Keywords

Bukan lagi suatu rahasia bila organic search traffic merupakan celah pemasaran yang cukup besar, bahkan tidak terpengaruh jarak. Hal ini dapat Anda jadikan cara untuk mencari peluang produk yang cocok dijual melalui bisnis online. Setiap organic search traffic yang muncul pasti didasarkan oleh keyword tertentu. Di sinilah kesempatan ini dapat dibangun.

Pencarian peluang melalui keyword dapat dibangun berdasarkan tiga hal:

  • Kata kunci yang digunakan orang – mencakup kata kunci yang sekiranya sering digunakan oleh kebanyakan orang.
  • Volume – adalah seberapa banyak orang yang menggunakan kata kunci tersebut di mesin pencari. Semakin besar volume yang muncul pada suatu keyword, maka semakin populer kata kunci tersebut. Dari sini Anda dapat mengetahui peminat suatu produk, apakah produk tersebut banyak atau tidak.
  • Kompetitor – seberapa ketat persaingan dalam suatu keyword.

Pendekatan ini membutuhkan pemahaman mendasar tentang bagaimana mencari keyword yang baik serta penggunaan SEO pada situs toko online Anda, baik itu konten maupun landing page.

Strategi ini merupakan strategi efektif guna mendapatkan organic traffic yang konsisten dari mesin pencari seperti Google atau Bing. Hal tersebut sangat bermanfaat apabila Anda merencanakan pemasaran produk dengan model penjualan dropship (model pemasaran sebagai perantara; Anda meminta supplier untuk mengirimkan produknya ke customer Anda dengan mencantumkan identitas Anda sebagai pengirim).

2.  Bangun Brand yang Menarik dan Unik

Mencari produk yang tepat untuk dapat dijual di toko online bisa juga dilakukan dengan mulai membangun brand yang menarik dan unik. Meski sama-sama mencari pengunjung dan likers, membangun brand menarik dan unik sama sekali berbeda dengan melakukan pendekatan SEO. Ketika membangun pendekatan brand menarik, Anda harus benar-benar memahami bagaimana pelanggan Anda selagi membangun brand unik yang wajib melekat di dalam kepala setiap pelanggan Anda.

Salah satu contoh terbaik untuk pendekatan ini adalah dbrand. dbrand memproduksi cut skins untuk smartphone, laptop, hingga konsol game. Sedikit demi sedikit mereka mampu membangun brand mereka dengan pencapaian 64.000 fans di laman Facebook fanpage mereka menggunakan cara berkomunikasi yang unik dengan pelanggannya. Mulai dari membuat meme-meme lucu hingga memposting status-status lucu berhasil meningkatkan dbrand ke puncak industri. dbrand mempelajari apa yang disukai oleh penggemarnya, kemudian memproduksi cut skin yang berhubungan dengan kesukaan penggemar. Selain itu, interaksi yang unik dengan pelanggan mereka juga dapat membangun fans sehingga pasar menjadi lebih besar.

Katakanlah produk-produk kesukaan penggemar Anda memiliki banyak pesaing. Agar jauh dari persaingan sengit, tentunya Anda harus memikirkan produk lain yang dapat menggantikan produk tersebut. Alternatifnya adalah dengan membuat produk yang unik dan berbeda dari produk lain. Misalnya, produk kesukaan fans Anda adalah lampu tidur karakter yang terbuat dari benang. Carilah benda lain yang dapat menggantikan benang sebagai material dasar, kertas atau plastik mungkin. Intinya produk tersebut hanya ada dari Anda dan peminat hanya dapat membelinya dari Anda. Tentu saja yang masih sesuai dengan karakter minat penggemar brand Anda.

3. Cari Tahu Titik Sakit Pelanggan

Mengatasi titik sakit para pelanggan selalu jadi cara terbaik untuk membuat produk Anda terjual dengan cepat. Sebut saja obat sakit kepala, yang tidak akan laku bila sakit kepala tidak terasa sakit. Atau mungkin kursi pijat otomatis yang mungkin tidak akan terjual satu pun bila tubuh yang kelelahan tidak terasa menyiksa. Kesimpulannya, titik sakit dapat menjadi daya tarik utama.

Namun, titik sakit bukan selalu sakit secara fisik, melainkan sesuatu yang membuat pelanggan Anda merasa frustasi atau lelah dengan sesuatu hal. Contoh sederhananya adalah raket nyamuk yang mampu membebaskan pelanggan dari serangan nyamuk yang membuat tidur terasa tidak nyaman.

Contoh konkritnya adalah Jing yang membuat Pro Teeth Guard untuk orang yang memiliki masalah dengan gigi yang menggeretak ketika tidur. Jing paham bahwa hal ini berimbas pada rusaknya gigi penderita yang akhirnya membawa pelanggannya menghabiskan banyak uang untuk membayar tagihan dokter gigi. Dari situlah Jing menciptakan pelindung gigi ini untuk membantu para pelanggannya.

Luangkanlah beberapa menit untuk memikirkan titik sakit atau mungkin gangguan kecil dalam kehidupan Anda sehari-hari. Biasanya, masalah yang timbul di kehidupan sehari-hari memberikan inspirasi untuk ide bagus Anda selanjutnya. Orang-orang dengan masalah yang sama akan menemukan bahwa produk Anda adalah jawaban bagi masalah mereka selama ini. Bukan tidak mungkin produk Anda ini akan jadi viral di sosial media sehingga mendapatkan attensi yang cukup luas dari banyak orang dengan titik sakit yang sama.

4.  Cari Tahu Kegemaran Pelanggan

Hampir sebagus, bahkan lebih baik dari memecahkan masalah pada titik sakit pelanggan, memahami kegemaran pelanggan dapat juga jadi pedoman untuk membuat produk yang cocok bagi mereka. ketika seseorang menggemari sesuatu, pasti dia rela menghabiskan uang lebih hanya untuk membeli kegemaran mereka. Sebut saja penggila game card tertentu yang bahkan mau membeli selembar kartu dengan harga selangit. Keuntungan lain dari pendekatan ini adalah interaksi yang lebih dalam dengan pelanggan yang berimbas pada kesetiaan pelanggan Anda.

Salah satu contoh yang tepat adalah kecintaan seseorang terhadap fotografi. Karena keranjingan mengambil gambar yang sempurna, penggemar fotografi pun rela mengumpulkan uang untuk membeli kamera idaman. Dirasa belum cukup, tak jarang penggemar fotografi melengkapi kamera tersebut dengan tripod atau lensa yang lebih baik dari lensa standar bawaan kamera. Harga kelengkapan kamera tersebut juga tidak murah. Sebut saja lensa yang harganya bisa sampai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Kadang juga, lensa merk tertentu tidak dapat digunakan dengan kamera merk lain sehingga hal tersebut menimbulkan kesetiaan pelanggan terhadap merk kamera tertentu. 

5.  Sejalan dengan Hobi Sendiri

Beberapa orang mengatakan bahwa mendirikan bisnis baru dengan produk yang sejalan dengan hobi diri sendiri merupakan salah satu faktor bangkrutnya suatu perusahaan. Namun, tidak jarang terbukti bahwa menjual produk yang sejalan dengan hobi sendiri dapat sukses dengan cepat dan mudah.

Mendirikan suatu bisnis toko online baru pasti butuh banyak tenaga dan kesabaran. Anda mungkin saja melalui “jalan berbatu” yang menghalangi Anda untuk maju dan mengembangkan bisnis toko online Anda. Di sinilah peran kesukaan terhadap hobi atau inner passion mampu membangkitkan semangat meskipun sedang dalam kondisi bisnis yang sedang lesu. Tetap bersemangat dan selalu termotivasi merupakan kunci untuk membangun dan mendirikan bisnis dari waktu ke waktu. Seperti orang bilang, jika Anda mencintai apa yang Anda lakukan, Anda tidak perlu bekerja lagi sepanjang hidup Anda karena itu memang hobi Anda.

Salah satu orang yang punya produk berkat hobi adalah Eric Bandholz, founder dari BeardBrand. Awalnya, BeardBrand merupakan blog diskusi yang membahas tentang bisnis dan strategi penjualan. Namun, hobinya terhadap jenggot tanpa sengaja merembet ke blog miliknya. Seketika itu juga dia membangun bisnis ecommerce di situs yang berbeda dan menjual beragam produk-produk yang berkaitan dengan perawatan jenggot.

Moorea Seal adalah contoh lain yang berhasil mengubah passion mereka menjadi toko online yang sukses. Di tahun 2010, Moorea merupakan seniman full-time yang tinggal di Seattle dan bekerja “serabutan” di bidang kreatif mulai dari blogging, bisnis perhiasan, illustrator sambilan, dan desain grafik. Akhir 2012, Moorea pensiun dari dunia desain dan menghabiskan banyak waktunya untuk fokus ke passionnya, bisnis aksesoris. Di tahun 2013, Moorea membuka Moorea Seal Shop yang jadi pusat perhiasan handmade dari seniman-seniman perhiasan terbaik di Amerika Serikat. Moorea memilih seniman-seniman tersebut sendiri sesuai dengan yang dia suka. Kurang dari setahun, toko online Moorea Seal meraih untuk besar dan sering muncul di berbagai blog dan publikasi antara lain The Huffington Post, Design Sponge, dan Babble.

6.  Cari Kekurangan Sebuah Produk

Istilahnya mencari kesempatan dalam kesempitan. Anda pasti mengerti, tidak semua produk sempurna, bahkan produk-produk kelas dunia sekalipun. Celah ini yang kemudian dapat Anda masuki untuk menciptakan sebuah produk yang bermanfaat sehingga pengguna produk tersebut pasti membutuhkan produk Anda untuk menyempurnakan kinerjanya. Semakin populer sebuah produk, maka potensi produk penyempurna Anda untuk terjual laris semakin besar. Biasanya, celah ini muncul sebagai upaya memperbaharui fitur sebuah produk yang memiliki sebuah kekurangan dan tidak disadari oleh kompetitor Anda atau bahkan calon pelanggan Anda.

Untuk mencari kekurangan sebuah produk, Anda bisa melihatnya dari review-review pembeli yang muncul di situs-situs toko online besar seperti Amazon atau eBay. Carilah solusi terbaik untuk memperbaiki kekurangan tersebut, kemudian jadikanlah sebuah produk.

Contoh pebisnis toko online yang sukses dengan metode ini adalah Chaim Pikarski. Chaim memulai bisnisnya dengan melihat produk-produk yang paling populer di toko online besar seperti Amazon dan eBay, kemudian secara berhati-hati membaca bagian komentar untuk mencari kekurangan serta gap fitur yang diposting oleh pembeli. Dengan informasi ini, Chaim mulai mengkontak pabrikan di Tiongkok dan membuat produk penyempurnanya. Chaim pun melakukan proses ini hingga ribuan kali. Salah satu produknya adalah Hipo Shower Radio yang mampu digunakan untuk streaming audio ketika mandi dan menjawab telepon.

7.  Keahlian Anda Juga Bisa Dijual

Pernahkah Anda bekerja di sebuah perusahaan? Apakah pengalaman bekerja di perusahaan tersebut membuat Anda mengerti seluk beluk bisnis tersebut? Inilah keuntungan yang dapat Anda gunakan untuk membuat sebuah produk. Pengalaman-pengalaman kerja Anda pasti membuat Anda ahli dalam bidang tertentu. Mungkin saja, tidak banyak orang yang menguasai bidang tersebut sehingga untuk masuk ke pasar tidaklah sulit. Yang harus Anda lakukan hanya menyesuaikan keahlian tersebut dengan kebutuhan pasar sehingga terciptalah produk yang hanya Anda sendiri yang punya. Bukan tidak mungkin produk tersebut merupakan produk yang sulit diduplikasi.

Orang yang sukses dengan metode ini adalah Jonathan Snook. Snook merupakan ahli dibidang desain dan pengembangan web. Pengalaman kerjanya selama bertahun-tahun serta ilmu-ilmu yang diterimanya selama bekerja membuatnya mencoba merilis buku yang bertemakan web development dan CSS berjudul SMACCS, Scalable and Modular Architecture for CSS. Buku ini laris di pasaran karena banyak orang yang butuh ilmu tersebut untuk mengembangkan website mereka secara baik. Belum lagi dengan para mahasiswa jurusan tertentu yang butuh ilmu dan referensi dari buku-buku teknis seperti ini.

Selain Snook, Jillian Michael juga punya cara yang sama dalam mengembangkan sebuah produk. Memanfaatkan keahliannya dalam bidang fitness dan penurunan berat badan, Michael mengembangkan dan menjual produk-produk yang berkaitan dengan kedua hal tersebut, termasuk DVD, buku, hingga peralatan fitness. Itu belum termasuk merchandise apparel yang didesain berdasarkan brand Michael.

8.  Produk yang Sedang Tren Saat Ini

Mengandalkan produk yang mulai tren di kalangan masyarakat mampu membuat bisnis baru melesat dengan cepat. Intinya bagaimana Anda mempersiapkan produk tersebut secepat mungkin sebelum kompetitor masuk dengan produk yang sama. Dengan demikian, dalam pikiran pelanggan, Anda-lah yang mengawali bisnis tersebut sebelum orang lain. Selain itu, mengawali tren juga dapat berimbas pada SEO situs Anda dan membuat situs tersebut naik ke puncak search engine lebih cepat dan lebih mudah.

Cara ini pernah dilakukan oleh Flockstocks beberapa tahun yang lalu. Mereka tahu bahwa tren bulu unggas sebagai hair extension berpotensi akan berkembang pesat jauh sebelum hair extension tersebut muncul di pasaran. Sebelum mengalokasikan dana untuk membeli barang, Sophie Kovic mencoba pasar dengan membuat website. Hasilnya, 11 penjualan dalam waktu 4 jam saja. Potensi besar ini tidak disia-siakan begitu saja oleh Kovic. Segera dia membuka website sendiri untuk produknya dan dapat diprediksi, barang tersebut laris manis di pasaran.

 

Itulah tadi beberapa cara untuk menentukan barang apa yang harus Anda jual di toko online Anda. Catat di pikiran Anda bahwa memilih produk yang tepat merupakan cara efektif untuk menentukan kesuksesan bisnis Anda kedepannya. Persaingan yang ketat dalam produk-produk paling populer dan paling umum membuat pemilihan produk sangat penting demi kelancaran bisnis Anda. Jangan takut untuk menengok kategori produk yang kurang umum. Meskipun kecil, celah tersebut memiliki sedikit kompetitor dengan pelanggan yang lebih tertarget. Kompetisi yang lebih kecil mampu memudahkan Anda menaikkan trafik ke puncak search engine dan biasanya jadi iklan yang lebih efektif serta efisien untuk pelanggan Anda.

5 Cara Mendapatkan Leads Melalui Instagram

Dewasa ini, mendapatkan leads bisa menggunakan banyak cara. Salah satu cara yang dapat Anda lakukan adalah dengan menggunakan sosial media. Salah satu sosial media yang akhir-akhir ini sedang naik daun adalah Instagram. Namun, banyak orang yang ragu menggunakan Instagram sebagai sarana pengumpul leads yang baik. Alasannya, Instagram dianggap sebagai sosial media yang tidak efektif.

Sebenarnya ada cara-cara yang tepat dalam menggunakan Instagram untuk mendapatkan leads. Berikut ini adalah beberapa cara yang terbukti efektif mendapatkan leads melalui Instagram.

1. Gunakan Hashtag yang Relevan

Kesalahan terbesar dalam menggunakan Instagram untuk mendapatkan leads adalah karena hashtag yang kurang relevan. Beberapa bahkan tidak menggunakan hashtag sama sekali atau malah menggunakan hashtag yang kurang relevan.

Bayangkan hashtag sebagai sebuah keywords. Cari kata-kata yang memiliki banyak variasi dan pastikan hashtag tersebut mudah dicari. Buat beberapa hashtag yang banyak digunakan sehingga dapat terlihat, dan sisanya hashtag yang jarang digunakan untuk mempertahankan post Anda tetap di atas. Tambahkan beberapa hashtag sebagai variasi. Selain itu, gunakan kata-kata yang menarik dan sedang tren. Sebagai contoh, orang akan lebih suka menggunakan #foodporn ketimbang #lunch atau #makansiang.

2. Pastikan Link yang Anda Berikan Tepat

Banyak orang yang membuang sia-sia kesempatan untuk menggiring orang ke website utama mereka, terutama di profil akun. Kebanyakan orang memasang link homepage di profil akun tersebut. Hal ini merupakan kesalahan besar, karena orang akan bingung dan tidak paham harus berbuat apa dengan link tersebut.

Oleh karena itu, tujukan langsung link pada akun profil ke bagian “About”, halaman toko, atau langsung ke blog post. Akan lebih menarik lagi apabila Anda membuat satu landing page khusus dimana terdapat info bahwa Instagrammers akan mendapatkan penawaran khusus untuk produk Anda.

3. Berceritalah Menggunakan Gambar

Konten yang menjadi daya tarik utama dalam Instagram tidak lain adalah gambar. Oleh karena itu, pancing orang-orang dengan menggunakan cerita yang menarik tentang brand Anda. Apa yang Anda tawarkan? Apa yang jadi daya tarik produk Anda? Bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan mereka? Itulah yang seharusnya Anda ceritakan dalam konten yang Anda post.

Selalu berikan gambar yang baru untuk setiap postingan baru. Jangan lupa, esensi seni serta fotografi yang menarik. Serta, berikan caption yang menarik sehingga orang yang melihatnya ingin mengetahui cerita dalam konten Anda lebih dalam.

4. Pahami Follower Anda

Metode ini bertujuan untuk melihat apa yang diinginkan oleh follower Anda. Cari tahu apa yang disukai dan apa yang tidak, kemudian perbaiki. Jika perlu, ubah secara drastis untuk mencari tahu apa yang tepat untuk target Anda.

Cari tahu siapa yang mereka follow dan siapa yang mem-follow mereka. Bila Anda telah tahu akun siapa yang paling banyak follower Anda ikuti, cari tahu apakah akun tersebut dapat Anda hubungi dan minta akun tersebut untuk mem-follow brand Anda. Dengan demikian, brand Anda jadi lebih terpercaya.

5. Jangan Gengsi untuk Promosi Diskon

Bila memang tujuan Anda menjual produk, katakan secara lantang. Rayulah pelanggan Anda sesekali dengan sale eksklusif menggunakan kode promo yang diberikan melalui akun Instagram Anda. Upload gambar yang mencolok dengan copy yang besar dan mudah dibaca. Hal ini biasanya sangat efektif menjaring banyak pelanggan dari Instagram.

 

Pada dasarnya, Instagram tidak membutuhkan banyak energi dibandingkan dengan sosial media lainnya. Selama Anda tahu bagaimana strategi dan taktiknya, tidak mungkin rasanya Anda akan kehilangan leads dari Instagram. Selamat mencoba!

5 Cara Membuat Pelanggan eCommerce Merasa Aman Berbelanja

Apa yang membuat pelanggan e-commerce yakin untuk berbelanja di toko online Anda? Tentu saja ketika mereka merasa aman untuk berbelanja di toko online Anda. Semakin toko online Anda terpercaya, maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak orang yang berbelanja di toko online Anda. Namun, apakah Anda tahu bagaimana cara membuat pelanggan e-commerce Anda merasa aman berbelanja? Berikut ini adalah cara yang dapat Anda lakukan untuk membuat pelanggan merasa aman dan nyaman untuk berbelanja di toko online Anda.

1. Sertifikasi Keamanan Website

Banyak pelanggan takut untuk berbelanja online karena mereka takut dengan potensi pencurian finansial dan identitas mereka. Secure Sockets Layer atau biasa disingkat SSL adalah cara jitu untuk mengamankan data pribadi pelanggan. SSL akan mengenkripsi informasi mereka ketika akan melakukan pembelian. Website yang telah bersertifikasi biasanya diawali dengan “https” dengan huruf “s” singkatan dari “secure” atau aman.

2. Prosedur Otentifikasi

Pelanggan Anda selalu ingin agar data pribadi mereka aman, termasuk ketika mereka lupa. Untuk mengaplikasikan hal ini, gunakan beberapa prosedur otentifikasi sebelum informasi untuk login. Sebagai contoh, bila pelanggan Anda melupakan password mereka, situs Anda harus memberikan beberapa pertanyaan keamanan berbeda sebelum mengirimkan email ke alamat email yang telah diberikan oleh pelanggan tersebut sebelumnya.

3. PCI Compliance

Sebelum situs e-commerce Anda dapat menerima pembayaran melalui kartu kredit, Anda harus melalui tes PCI Compliance. Payment Card Industry (PCI) compliance akan memastikan pelanggan melakukan transaksi yang aman dengan data pribadi mereka dan menjaga agar informasi kartu kredit mereka aman. Tidak peduli seberapa besar situs e-commerce Anda, standarisasi seperti ini harus dilakukan bila Anda ingin memasukkan fitur pembayaran kredit dan kartu debet.

4. Hindari Mengalihkan Link ke Situs Lain yang Tidak Aman

Pelanggan akan menerima pemberitahuan ketika sertifikat SSL sudah tidak berlaku, dimana bila mereka tetap melakukan pembelian, maka data pribadi mereka dalam risiko dicuri. Biasanya disinilah Anda akan kehilangan banyak pembeli. Selain itu, hal yang juga membuat Anda kehilangan pembeli adalah ketika di website Anda terdapat link yang mengalihkan pelanggan ke situs pihak ketiga. Ketika terjadi hal demikian, otoritas SSL akan juga memberikan peringatan sebelum pelanggan pindah ke situs tersebut. Akibatnya, pelanggan bisa saja merasa takut dan akhirnya tidak melanjutkan pembelian.

5. Pilihan Pembayaran

Tidak semua pelanggan mau melakukan pembayaran melalui kartu kredit atau kartu debet, apalagi ketika mereka takut dengan pencurian data yang kerap terjadi di berbagai situs e-commerce besar di dunia. Anda tidak perlu harus kehilangan penjualan hanya karena alasan tersebut. Untuk itu, gunakan layanan seperti PayPal atau Visa, dimana pelanggan akan merasa lebih aman menggunakan metode pembayaran tersebut tanpa memberikan identitas pribadi mereka.

 

Mungkin cara-cara di atas sedikit membingungkan bagi Anda, terlebih lagi bagi Anda yang kurang paham seluk beluk dunia internet. Maka dari itu, pastikan Anda mendapatkan bantuan dari orang yang ahli, atau bila perlu, gunakan pihak ketiga untuk membantu Anda menyelesaikan hal tersebut. Keamanan adalah salah satu keunggulan dari toko online yang dibuat oleh StoreMantap. Oleh karena itu, fokuslah dengan penjualan Anda dan serahkan masalah keamanan toko online kepada kami.

Bagaimana Para Marketer Memaksimalkan Konten Media Sosial?

Perlahan tapi pasti, pebisnis mulai merasakan pentingnya media sosial untuk kemajuan usaha yang mereka dirikan. Berdasarkan Social Media Examiner, 97 persen pebisnis menggunakan media sosial sebagai sarana marketing mereka. Terlebih lagi, 92 persen di antaranya merasa bahwa media sosial juga penting untuk kesuksesan mereka.

Meskipun media sosial dipandang penting untuk menaikkan usaha mereka, para pebisnis pada umumnya masih berusaha untuk mengoptimalkan konten dalam media sosial mereka. Bahkan, dalam penelitian yang sama, 91 persen mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk menentukan strategi bisnis yang paling efektif untuk bisnis mereka.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Software Advice bekerja sama dengan Adobe telah diadakan dengan tujuan untuk memahami strategi apa yang paling sering digunakan oleh para marketer untuk mengoptimisasi konten media sosial mereka.

Selain temuan keduanya, penelitian tersebut juga mengungkapkan 182 fakta yang ditemukan oleh Liz Strauss, founder sekaligus CEO dari SOBCon, yang juga menduduki peringkat ke tujuh dalam daftar orang yang berpengaruh dalam menggunakan kekuatan sosial media versi majalah Forbes pada tahun 2013. Penelitian tersebut menemukan fakta yang cukup menarik, antara lain:

  1. Marketer pada umumnya (84 persen) secara rutin memposting ke paling sedikit tiga jaringan media sosial, dengan 70 persen di antaranya memposting konten minimal sekali dalam sehari.
  2. Marketer kebanyakan memanfaatkan visual konten, hashtag, dan username sebagai sebagai taktik penting untuk mengoptimalkan konten media sosial mereka.
  3. Lebih dari setengah dari keseluruhan narasumber (57 persen) menggunakan software untuk mengatur jadwal posting konten mereka dan merasakan bahwa software tersebut memudahkan mereka mengoptimasi konten sosial media mereka.

Kebanyakan Marketer Mengunakan Tiga atau Lebih Jejaring Media Sosial

Dari semua marketer yang menjadi narasumber survey tersebut, mayoritas (84 persen) mengatakan bahwa mereka aktif memposting konten untuk tiga jenis media sosial atau lebih, dengan media yang paling banyak digunakan antara lain Facebook, Twitter, dan/atau LinkedIn.

Secara total, sebanyak 61 persen menggunakan paling sedikit empat jenis media sosial; 20 persen menggunakan paling sedikit enam media sosial, dan yang paling mencengangkan, 3 persen di antaranya menggunakan 11 media sosial atau lebih.

Hasil tersebut menyisakan 14 persen dari marketer yang menggunakan hanya dua media sosial saja, dan 2 persen lain yang menggunakan satu media sosial secara rutin.

Menurut Strauss, dengan banyaknya marketer yang memposting konten mereka menggunakan bermacam-macam media sosial, para pebisnis yang hanya aktif menggunakan tiga jenis media sosial atau kurang akan sangat merugi. Pasalnya, banyak marketer pesaing yang menggunakan situs media sosial lebih dari 11 jenis, yang artinya apabila Anda hanya mengandalkan promosi konten melalui Facebook dan Twitter, hasilnya bisa jadi kurang maksimal.

Meski demikian, kata Strauss, banyak juga pengguna jejaring media sosial dengan cara yang kurang efektif. Misalnya, memposting konten secara acak, tanpa tujuan, dan bahkan tanpa memahami apa yang dapat dilakukan dengan masing-masing media sosial, mengingat setiap media sosial memiliki fungsi dan manfaat yang berbeda.

Kesimpulannya, ada perbedaan hasil yang mendasar antara memposting sebanyak-banyaknya dengan memposting secara strategis. Sebuah strategi marketing media sosial yang efektif tidak hanya melibatkan banyaknya konten yang diposting, tetapi juga konten yang tepat.

Kebanyakan Marketer Memposting Secara Rutin dan Merencanakan Konten untuk Selanjutnya

Kebanyakan marketer (70 persen) mengungkapkan bahwa mereka memposting konten di media sosial paling sedikit sekali dalam sehari, dengan 19 persen mengatakan bahwa mereka memposting lebih dari tiga kali dalam sehari. Berbanding terbalik, hanya 16 persen yang memposting lebih sedikit dari sekali dalam sehari, dan 14 persen lainnya tidak memiliki jadwal tertentu untuk melakukan posting.

Fakta bahwa banyak pebisnis yang memposting secara rutin dan konsisten ini bisa dibilang sangat mengesankan, mengingat banyaknya konten yang diposting di berbagai media sosial dengan guideline yang berbeda-beda, misalnya Twitter dengan maksimal 140 karakter yang berbeda dengan Facebook yang bebas menentukan berapa saja karakter yang digunakan dalam setiap postingan.

Ketika ditanya tentang seberapa panjang rencana postingan yang dilakukan oleh para pebisnis dalam setiap konten di media sosial, 41 persen menjawab “untuk beberapa hari hingga seminggu”. Jawaban ini merupakan jawaban paling populer mengenai durasi rencana posting konten. Total sebanyak 65 persen menjadwalkan konten media sosial mereka minimal untuk sehari kedepan, dengan 12 persen di antaranya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana yang pasti untuk menjadwalkan postingan dalam kurun waktu yang terencana.

Secara keseluruhan, data tersebut mengungkapkan bahwa banyak marketer membuat rencana sehingga konten media sosial dapat secara konsisten terbuat dan terposting dengan baik. Sebagai kesimpulan, pebisnis yang gagal memposting konten dengan konsisten akan kesulitan untuk membangun brand yang baik serta menaikkan engagement dari audiens, apalagi bila dihadapkan dengan kompetitor yang mengadopsi strategi konten media sosial yang lebih terencana.

Konten Visual dan Hashtag Adalah Taktik yang Paling Penting

Dari tujuh taktik yang berbeda, (antara lain konten visual, penggunaan hashtag, penargetan kelompok tertentu, pemanfaatan respon media sosial, optimisasi ukuran gambar untuk tiap jaringan, penggunaan video, dan pembatasan jumlah karakter) narasumber paling sering mengatakan bahwa konten visual dan hashtag merupakan elemen krusial untuk optimisasi media sosial. Sebanyak 82 persen narasumber mengatakan “penting” dan “sangat penting” menggunakan konten visual, sedangkan hashtag menempati 67 persen. Bahkan taktik yang bisa dibilang vital (misalnya video) masih dianggap hanya sebagai konten yang “cukup penting” dengan 68 persen mengatakan demikian.

Fakta bahwa secara mayoritas marketer melihat tujuh taktik tersebut sebagai sesuatu yang penting menunjukkan bahwa kebanyakan dari mereka percaya bahwa dalam mengoptimisasikan media sosial mereka membutuhkan pendekatan multifacet alias pendekatan yang beragam.

Meski demikian, Strauss beranggapan bahwa prioritas mereka membutuhkan banyak penyesuaian. Contohnya, memprioritaskan konten visual dan hashtag bisa saja memberikan dampak sebaliknya, bahkan memperlihatkan kekurangan akan pemahaman dasar-dasar strategi media sosial.

Contohnya, sederhana saja. Semua orang pasti tahu bahwa konten visual meningkatkan engagement yang baik. Namun, gambar yang seperti apa yang akan diberikan bila seorang pebisnis tidak mengerti siapa audiens mereka? Apabila konten visual Anda tidak sesuai dengan target audiens, maka konten tersebut bisa menjadi sia-sia saja.

Strauss juga percaya bahwa marketer harus lebih memprioritaskan pemanfatan respon media sosial (call to action). Mudahnya, jika seseorang tidak bertanya “kenapa tidak mengunjungi situs saya?” orang-orang mungkin tidak akan sulit-sulit mencari tahu tentang website orang tersebut. Respon yang baik dari audiens adalah yang paling utama.

Meski demikian, Strauss berpendapat, taktik tersebut akan benar-benar bekerja ketika seorang pebisnis mengetahui apa yang dia inginkan serta apa yang pebisnis tersebut inginkan dari audiens mereka. Intinya, pemilihan gambar dan CTA harus benar-benar dipilih dengan baik dan seksama untuk memunculkan respon yang spesifik dari audiens.

Contoh nyatanya adalah ketika Oracle ingin mempublikasikan event konferensi di South by Southwest Interactive bersama Chevrolet. Mereka menggunakan hashtag #sxswi untuk membagikan gambar promosi bagi para pengunjung. Selain itu, mereka juga memasukkan username @Chevrolet untuk berbagi dengan follower partner mereka, bersamaan dengan kalimat CTA yang menyarankan pengguna untuk mem-follow hashtag #IdeaRally dan ikut berdiskusi bersama via Twitter.

Karena tweet ini sangat relevan dengan pengunjung SXSWI, para pengguna akan dengan mudahnya merespon CTA yang diberikan dan berbagi tweet ini dengan follower mereka, yang nantinya juga akan tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Kebanyakan Melakukan Tes Sharing dan CTR untuk Mengoptimalkan Waktu Posting

Ketika ditanya tentang taktik yang mereka gunakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam posting di media sosial, hampir semuanya menjawabnya dengan jawaban yang sama, metode trial and error. Sebanyak 87 persen narasumber mengatakan telah melakukan tes untuk mengetahui sharing rates dan click-through rates (CTR) konten mereka di waktu dan hari yang berbeda dalam satu minggu. Tujuannya adalah untuk memahami kapan audiens potensial mereka merespon dengan baik.

Secara keseluruhan, narasumber menganggap bahwa share rate dan CTR hampir sama penting, dengan persentasi 35 versus 33 persen secara berturut-turut. Banyak juga yang merasa bahwa sangat penting (31 persen) dan/atau penting (33 persen) untuk menggunakan bantuan software optimisasi media sosial untuk menentukan waktu yang tepat.

Kesimpulannya, data ini menujukkan bahwa marketer merasa bahwa sangat penting untuk melakukan tes strategi dan monitoring media sosial untuk membuat keputusan mengenai kapan waktu yang tepat untuk memposting konten ke media sosial mereka berdasarkan data yang dihimpun serta berdasarkan beberapa indikator, ketimbang fokus kepada satu sumber saja.

Sangat sedikit responden yang merasakan bahwa sangat penting untuk membaca tren pasar dalam memahami waktu yang tepat untuk melakukan posting. Hal ini bisa dibilang masuk akal karena waktu posting yang optimal berbeda-beda tergandung pada beberapa faktor seperti jenis industri, besarnya bisnis, serta letak geografis.

Marketer Sukses dalam Menaikkan Followers dan Pengenalan Brand

Penelitian tersebut juga bertanya kepada narasumber tentang apa tujuan yang ingin mereka dapatkan melalui media sosial dan seberapa sukses mereka dalam mencapai tujuan tersebut. Sebagai respon, kebanyakan mengatakan bahwa mereka paling sedikit mengatakan “cukup sukses” ketika bertujuan untuk menaikkan follower (74 persen) dan mengenalkan brand (77 persen).

Hal ini membuat mereka fokus kepada usaha perusahaan untuk menaikkan audiens online dan mempersiapkan audiens untuk membuat mereka lebih reseptif terhadap usaha lanjutan para pebisnis, contohnya email marketing.

Faktanya, ketika ditanya mengenai usaha mereka untuk membangun hubungan baik dengan media sosial, 29 persen mengatakan sukses sedangkan 19 lainnya mengatakan kurang sukses.

Meski demikian, sisa 29 persen marketer yang disurvey mengatakan bahwa mereka sukses secara minimal atau tidak berhasil sama sekali. Sebagai tambahan, 32 persen jungkir balik untuk menjaga loyalitas para pelanggan, 39 persen berusaha membuat leads, dan 51 persen berusaha keras mengarahkan audiens ke penjualan langsung.

Menurut Strauss, hal ini juga memancing para pebisnis untuk menggunakan taktik media sosial yang lebih spesifik dan meraih tujuan mereka tanpa perlu banyak proses. Meski demikian, mereka masih berusaha untuk mengintegrasikan taktik mereka hingga menjadi strategi yang sempurna dan cocok bagi industri mereka secara nyata dan terukur.

Banyak Marketer Menggunakan Software untuk Mengatur Konten Mereka

Lebih dari setengah responden (57 persen) mengungkapkan bahwa perusahaan mereka menggunakan layanan software untuk mengotomatisasi posting konten untuk akun media sosial mereka. Bila dilihat dari banyaknya tools yang muncul dalam beberapa tahun belakangan, para marketer mulai sadar akan pentingnya menggunakan software sebagai bentuk manajemen media sosial mereka sehingga ingin mengadopsi tools tersebut demi mencapai tujuan mereka.

Meski demikian, 43 persen lainnya masih melakukan manajemen media sosial dengan cara manual. Menurut Strauss, hal ini akan sangat merugikan mereka bila dibandingkan dengan pebisnis yang menggunakan tools dalam sosial media mereka. Pasalnya, penggunaan software sebagai alat bantu manajemen media sosial mampu memudahkan pebisnis untuk melihat strategi mana yang berhasil dan mana yang tidak. Bila mereka tidak punya software untuk itu, artinya sama saja dengan mengalah.

Tambah Strauss, bila seorang pebisnis tidak menentukan tujuan untuk penggunaan media sosial mereka, tentu pebisnis tersebut tidak akan tahu apakah dia meraih tujuan itu atau tidak. Lebih lagi, ketika pebisnis hanya mengikuti intuisi tanpa tahu apa yang efektif atau tidak, bisa saja dia melakukan kesalahan yang fatal. Dan meskipun intuisi pebisnis tersebut benar, hal tersebut tidak akan membantu meyakinkan audiens untuk membeli produk mereka.

Sebagai kesimpulan, perusahaan yang tidak menggunakan software untuk memposting dan meningkatkan pengetahuan tentang apa yang orang katakan tentang produk mereka, kemungkinan besar akan dirugikan dan kalah, mengingat banyaknya kompetitor yang menggunakan software untuk membantu mengatur posting konten mereka.

Kebanyakan Marketer Mengalami Kesulitan Ketika Mengoptimalkan Konten Media Sosial

Ketika para responden ditanya tentang bagaimana sulitnya ketika mengoptimalkan konten dari berbagai jenis jejaring sosial, respon mereka cukup bervariasi. Meski demikian, lebih dari setengah responden (55 persen) menganggap hal tersebut “sedikit sulit” dengan 10 persen di antaranya mengatakan “sangat sulit”.

Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa marketer sulit untuk melakukan hal tersebut, meskipun mereka memahami bagaimana pentingnya strategi konten media sosial seperti konten visual, penargetan audiens, dan waktu yang tepat untuk memposting konten.

Sebagai tambahan, baik bisnis kecil (memiliki karyawan kurang dari 100) maupun bisnis besar (memiliki karyawan lebih dari 100) rata-rata memiliki pandangan yang relatif seimbang. Tingkat kesulitannya bervariasi, setengah mengatakan ini sulit, setengah lagi mengungkapkan ini mudah. Intinya, baik perusahaan kecil maupun besar memiliki peluang kesuksesan yang bervariasi dalam usaha mereka menggunakan media sosial sebagai alat marketing.

Penyebab utama yang logis dalam temuan ini adalah penggunaan software untuk memaksimalkan konten media sosial mereka. Pebisnis yang menganggap ini mudah memiliki software yang mengatur konten mereka secara otomatis, sedangkan pebisnis yang mengganggap ini sulit adalah pebisnis yang tidak memiliki software tersebut.

Overview

Melakukan tes berkali-kali adalah cara yang tepat untuk mencari konten yang tepat untuk audiens Anda. Tes tersebut juga mampu mendeteksi kapan waktu yang tepat untuk memposting konten Anda di media sosial. Untuk mempermudah pekerjaan Anda, ada baiknya untuk menggunakan layanan software media sosial sehingga Anda dapat fokus melakukan pekerjaan yang lain.

Dalam memaksimalkan konten media sosial memang susah-susah gampang. Namun, tidak berarti Anda harus bingung bagaimana melakukannya. Intinya, bagaimana Anda memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk memudahkan Anda meraih tujuan, baik itu menaikkan traffic media sosial bisnis Anda atau meningkatkan target penjualan. Selamat berbisnis!

 

Tips Digital Marketing untuk Bulan Ramadan

Ramadan merupakan bulan terpenting dalam kalender islam. Selama kurang lebih tiga puluh hari, umat islam diharuskan untuk berpuasa seharian. Karena tidak diperbolehkan makan dan minum, mereka akan menjadi lebih sering mengakses dunia online, menjadi peluang bagi para marketers untuk mempromosikan produk-produk mereka secara digital. Jadi, sudah siapkah Anda memanfaatkan momentum Ramadan untuk melakukan digital marketing?

Memahami Pentingnya Ramadan

Sebelum merancang strategi digital marketing untuk bulan Ramadan, pahamilah terlebih dahulu pentingnya Ramadan bagi umat muslim. Perilaku pembelian pun mengalami perubahan selama Ramadan. Produk-produk seperti makanan, pakaian, elektronik, dan perhiasan memiliki permintaan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Setelah membekali diri dengan pengetahuan yang cukup, beri pengertian kepada seluruh pegawai Anda tentang Ramadan. Anda dapat mencontoh strategi yang dilakukan oleh pusat perbelanjaan Trafford Centre di Manchester, UK, yakni dengan mengadakan kampanye marketing bertajuk All You Need for Eid untuk merayakan lebaran. 

Menyiapkan Budget Spesifik

Ramadan adalah momen spesial bagi umat muslim, begitu juga bagi Anda sebagai pelaku digital marketing yang hendak memanfaatkan momen tersebut untuk meningkatkan penjualan. Oleh sebab itu, siapkan pula budget spesial demi melakukan digital marketing untuk bulan Ramadan. Anda dapat mengadakan giveaway atau menawarkan diskon-diskon tertentu pada target audiens muslim Anda. Sebagai contoh, mayoritas perusahaan di kawasan Timur Tengah meningkatkan budget untuk advertising melalui platform digital sebanyal 20% selama Ramadan.

Kampanye yang Terintegrasi

Pada kehidupan serba online seperti sekarang, digital marketing memang menjadi cara yang sangat efektif untuk melakukan kampanye marketing, namun jangan sampai Anda mengabaikan offline marketing pula. Justru sebuah kampanye marketing akan lebih efektif apabila kedua jenis marketing tersebut dilakukan secara terintegrasi agar lebih maksimal menyampaikan pesan yang sama. Hal tersebut juga berlaku ketika Anda melakukan kampanye marketing untuk Ramadan. Salah satu contohnya dapat Anda pelajari dari TESCO, perusahaan retail makanan asal UK. Mereka mengadakan kampanye melalui website dengan menampilkan pesan-pesan kepada audiens muslim seperti “Ramadan Mubarak” atau “All you need for the occasion”. Di sisi lain, mereka juga menawarkan produk makanan halal bagi mereka.

Maksimalkan Penggunaan SSMM

SSMM mengacu pada singkatan Search and Social Media Marketing. Promosikan produk-produk Anda melalui optimalisasi Search Engine Optimization (SEO) dan media sosial. Gunakan perangkat seperti Google Analytics untuk memahami aktivitas konsumsi para pelanggan muslim Anda sekaligus menghitung Return on Investment (ROI). Media sosial juga dapat menjadi platform yang tepat untuk melakukan engagement dengan pelanggan muslim Anda. Terlebih, selama Ramadan, mereka memang menghabiskan waktu lebih banyak pada media sosial apabila dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Di Indonesia, situs smeadvisor mengatakan bahwa penggunaan media sosial pada bulan Ramadan meningkat hingga 30%. Peluang yang baik bagi Anda untuk melakukan digital marketing melalui media sosial.

Jangan Lupakan Perangkat Mobile

Everyone’s going mobile. Coba perhatikan betapa banyaknya toko yang menjual smartphone untuk berbagai kelas masyarakat selama beberapa tahun belakangan ini. Perangkat mobile jugalah yang menjadi pilihan mayoritas umat muslim untuk melakukan aktivitas online, mulai dari mencari informasi, berbelanja, hingga berinteraksi dengan sesama pengguna. Jadi, ketika menyusun strategi digital marketing untuk bulan Ramadan, jangan lupa untuk memasukkan perangkat mobile sebagai pertimbangan penting. Beberapa perusahaan bahkan sengaja menyusun strategi digital marketing untuk mobile terlebih dahulu, lalu jika kampanye tersebut berhasil, baru mereka akan mengadaptasinya pada media-media lain.

 

Ada satu hal lagi yang tidak kalah penting dari lima poin di atas, yakni menghormati umat islam sebagai target audiens Anda. Jangan menciptakan strategi digital marketing yang sekiranya akan menyinggung umat islam dan budaya yang mereka usung. Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk lebih dulu memahami pentingnya Ramadan sebelum menyusun strategi yang tepat.

Page 1 of 3
1 2 3