Perangkat Terbaik untuk Instagram Analytics

Tidak seperti banyak media sosial yang lain, Instagram tidak menawarkan program analytics sendiri. Hal ini dianggap cukup mengejutkan karena Instagram merupakan salah satu platform terbaik untuk melakukan digital marketing. Sebuah riset dari Forrester bahkan melaporkan bahwa engagement dengan brand di Instagram memiliki intensitas sepuluh kali lebih tinggi dari Facebook dan 84 kali lebih tinggi dari Twitter.

Kabar baiknya, ada beberapa perangkat Instagram analytics yang tersedia untuk membantu brand Anda memahami hal apa saja yang beresonasi dengan pelanggan dan bagaimana Anda bisa mengoptimalkannya untuk menghasilan konten yang relevan. Berikut adalah beberapa perangkat terbaik untuk Instagram Analytics yang bisa Anda gunakan secara gratis selama periode waktu tertentu.

Simply Measured

Hanya dengan mem-follow akun Twitter milik Simply Measured, Anda sudah bisa mendapatkan laporan Instagram Anda dengan detail yang cukup menakjubkan. Layanan ini tersedia bagi pengguna yang memiliki followers kurang dari 25.000 followers. Data analytics yang Anda dapatkan bisa di-download dalam bentuk Excel untuk kemudian dianalisis lebih lanjut dan diubah menjadi grafik yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Melalui perangkat Simply Measured, Anda bisa mengetahui tingkat engagement yang terjadi antara brand dengan followers, hashtags yang paling engaging, waktu terbaik untuk posting, dan lain sebagainya.

Locowise

Locowise menawarkan perangkat analisis Instagram gratis yang mampu membandingkan akun Anda dengan 2.500 akun Instagram lain dan menyediakan berbagai metrik. Beberapa di antaranya adalah metrik tentang pertumbuhan followers, engagement, hingga filter yang paling populer. Anda bisa membandingkan akun Anda dengan akun-akun lain sehingga bisa mendapatkan perbandingan yang akurat. Hal-hal lain yang akan menjadi hasil perbandingan adalah jumlah postingan per hari, rata-rata tingkat interaksi, jumlah likes dan komentar, hingga waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk merespon sebuah komentar.

Union Metrics

Perangkat satu ini menyediakan laporan analisis dengan menggunakan sistem algoritma dari platform analytics berbayar mereka. Fokus dari Union Metrics adalah memilih beberapa metrik dan postingan untuk dibandingkan dengan rata-rata Anda, sehingga memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi pola yang terjadi. Anda bahkan bisa me-refresh analisis tersebut setiap 24 jam. Dengan begitu, Anda akan mengetahui bagaimana performa dari postingan-postingan foto terbaru apabila dibandingkan dengan rata-rata.

Iconosquare

Iconosquare menawarkan trial gratis selama tujuh hari sebelum Anda memutuskan untuk lanjut menggunakan platform mereka secara lengkap. Hal ini memungkinkan Anda untuk mengakses analytics dan berbagai fitur menarik lainnya. Ada beragam jenis analisis yang ditawarkan, dimulai dari overview aktivitas akun Instagram selama tujuh hari terakhir atau pada bulan lalu. Beberapa fitur analisis yang bisa Anda akses di Iconosquare adalah waktu posting, dampak penggunaan hashtag dan filter, geografis, followers, following, dan lain sebagainya.

Squarelovin

Jika ingin melakukan analisis Instagram secara mendalam, maka Squarelovin adalah perangkat yang tepat bagi Anda. Squarelovin menampilkan metrik berisi postingan terbaru dan pertumbuhannya, analisis bulanan, hingga bisa di-breakdown pada level jam. Squarelovin memiliki tabs yang akan menunjukkan engagement dengan foto-foto Anda, baik secara rata-rata maupun foto-foto terbaik. Anda bahkan bisa mengetahui waktu terbaik dan terburuk untuk mem-posting foto di Instagram. Squarelovin juga memungkinkan Anda untuk mengelola akun Instagram melalui platform mereka, seperti membuat album, memberi likes, dan komentar.

 

Itulah beberapa perangkat terbaik yang bisa Anda gunakan untuk melakukan analisis terhadap akun bisnis Instagram Anda. Melakukan analytics sama pentingnya dengan mem-post foto secara konsisten di Instagram. Data analytics dapat bermanfaat bagi Anda untuk menciptakan konten-konten foto lain yang relevan dengan target audiens.

Penggunaan Instagram untuk digital marketing tentu harus didukung dengan website toko online yang responsif. Jangan lewatkan acara Jatim Fair 2016 yang diadakan pada tanggal 6-16 Oktober 2016 di Grand City Surabaya. Hadir di booth nomor 159, StoreMantap siap melayani kebutuhan Anda terkait dengan website toko online tersebut. Akan ada perilisan dua produk terbaru StoreMantap, yakni POS by StoreMantap dan SM Keyboard. Jadi, jangan sampai kelewatan. Kami tunggu kehadiran Anda!

Panduan Instagram Ads untuk Pemula

Pertama kali rilis pada tahun 2010, kini Instagram telah memiliki lebih dari 500 juta pengguna aktif setiap bulannya. Hal tersebut menjadikan Instagram sebagai salah satu platform media sosial yang paling efektif digunakan untuk keperluan digital marketing.

Hingga akhirnya pada bulan September 2015 lalu, Instagram pun meluncurkan fitur Instagram Ads bagi para pelaku bisnis. Anda dapat memanfaatkan fitur ini untuk mengembangkan following Instagram dan mengarahkan traffic menuju website. Terlebih, berdasarkan studi yang dilakukan oleh Forrester, Instagram ternyata mampu menghasilkan tingkat engagement lebih tinggi apabila dibandingkan dengan Facebook, Twitter, dan LinkedIn.

Salah satu keunggulan Instagram Ads adalah bentuk iklan yang terlihat hampir tidak berbeda dari postingan foto biasa, membuatnya tidak terkesan invasif apabila dibandingkan dengan tipe iklan digital marketing yang lain. Meski begitu, membuat iklan pada platform apapun membutuhkan banyak pertimbangan, begitu juga halnya dengan Instagram Ads. Lalu, hal apa saja yang harus Anda lakukan untuk membuat Instagram Ads pertama Anda?

Tiga Jenis Instagram Ads

Berdasarkan panduan yang tercantum dalam business.instagram.com, ada tiga jenis Instagram Ads yang bisa Anda buat, yakni:

  1. Photo Ads: Beriklan dalam bentuk foto untuk memaksimalkan aspek
  2. Video Ads: Beriklan dalam bentuk video berdurasi maksimal tiga puluh detik dengan format
  3. Carousel Ads: Beriklan dalam format foto berjumlah lebih dari satu yang bisa di-swipe oleh audiens. Anda juga bisa mencantumkan button Call-to-Action (CTA).

Isu pada Aspek “Link”

Salah satu isu yang kerap dikemukakan terkait dengan penggunaan Instagram untuk berjualan adalah sulitnya membuat audiens mengunjungi website brand. Pasalnya, Anda tidak bisa mencantumkan links yang clickable pada postingan Anda. Alhasil, Anda harus mengarahkan audiens pada link yang ada di bagian bio. Untuk itu, Anda pun harus melakukan update terhadap link secara konsisten, terutama jika ada produk-produk baru yang hendak dijual.

Mungkin memang terdengar cukup rumit, tetapi nyatanya Instagram masih menjadi sumber traffic dan penjualan yang besar bagi banyak perusahaan. Bahkan menurut riset terakhir, Instagram justru menjadi sumber traffic paling sukses, Seluruh traffic yang masuk pada riset tersebut berasal dari link bio Instagram.

Kabar baiknya, hal tersebut tidak akan Anda alami jika menggunakan Instagram Ads. Melalui fitur tersebut, Anda bisa mencantumkan link menuju website pada postingan iklan Anda. Biasanya, para pebisnis menggunakan button CTA dengan kata-kata seperti “learn more”, “visit website”, “buy now”, dan lain sebagainya untuk menarik perhatian target audiens di Instagram.

Cara Membuat Instagram Ads

Jika sudah pernah membuat iklan dengan Facebook Ads, kemungkinan besar Anda tidak akan merasa asing dengan Instagram Ads. Sejak Facebook mengakuisisi Instagram pada tahun 2012 silam, kedua platform tersebut pun mudah dikoneksikan sehingga pengaturan Facebook dan Instagram Ads dibedakan oleh beberapa klik saja. Jadi, walaupun tujuan Anda adalah beriklan melalui Instagram Ads, seluruh pengaturan budgeting, scheduling, dan lain sebagainya dilakukan melalui platform Facebook.

Untuk menggunakan Instagram Ads, Anda membutuhkan sebuah halaman Facebook yang khusus ditujukan bagi keperluan bisnis, brand, dan organisasi. Sedangkan, akun Facebook biasa digunakan untuk kepentingan pribadi. Maka dari itu, sebelum melakukan promosi melalui Instagram Ads, Anda harus log in pada akun Facebook khusus advertising. Setelah itu, baru Anda bisa mulai mengatur Instagram Ads melalui cara-cara berikut ini. 

  1. Pilih Perangkat Editor dan Ciptakan Kampanye

Anda bisa membuat Instagram Ads menggunakan beberapa perangkat berbeda, yakni Ads Manager, Power Editor, atau Facebook Ads API. Ketika memilih perangkat, Anda harus mempertimbangkan ukuran bisnis dan jumlah iklan yang akan Anda luncurkan. Apabila Anda berencana melaksanakan kampanye berskala besar, Power Editor dapat menjadi perangkat yang paling tepat digunakan. Namun, biasanya, mayoritas marketer lebih sering menggunakan Ads Manager, jadi perangkat inilah yang akan dijadikan contoh dalam tulisan ini.

Setelah memilih perangkat editor untuk Instagram Ads, Anda akan diberi opsi untuk melihat seluruh kampanye atau membuat baru. Karena baru memulai Instagram Ad, maka pilih opsi untuk membuat kampanye baru.

  1. Tentukan Tujuan

Dalam membuat Instagram Ads, Anda akan diminta untuk memilih tujuan dari beberapa pilihan yang disediakan. Agar iklan Anda dapat memenuhi syarat untuk bisa tampil di Instagram, Anda harus memilih tujuan dari daftar yang ada, yaitu meningkatkan postingan, mengarahkan audiens menuju website, meningkatkan konversi pada website, membuat audiens meng-install aplikasi, meningkatkan engagement, dan mendapat views pada video.

Setelah memilih salah satu di antaranya, Anda akan diminta untuk memberikan nama pada kampanye promosi yang dilakukan. Sekilas, tahap ini mungkin terdengar simpel, tetapi Anda tidak boleh menyepelekannya. Usahakan untuk memilih nama yang tidak terlalu spesifik agar bisa digunakan pada berbagai Instagram Ads selanjutnya.

  1. Tentukan Audiens Anda

Apabila baru menggunakan Instagram Ads untuk pertama kalinya, kemungkinan besar Anda belum mengetahui audiens mana yang harus ditarget. Pada dasarnya, hal ini bisa dipelajari seiring dengan berjalannya waktu, jadi saat masa awal seperti ini, Anda mungkin harus mengandalkan insting dan berbagai data yang sudah Anda miliki.

Pada tahap ini, Anda akan menemukan beberapa opsi kategori untuk membantu Anda dalam melakukan targeting audiens. Beberapa di antaranya adalah lokasi, usia, jenis kelamin, bahasa, edukasi, pekerjaan, status finansial, perilaku, koneksi, ketertarikan, dan lain sebagainya. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan sebuah fitur bernama “custom audience” untuk menjangkau orang-orang yang sebelumnya pernah berinteraksi dengan bisnis Ands. Ada pula fitur “looakalike audience” untuk menjangkau orang-orang baru di Facebook yang memiliki kesamaan dengan target audiens Anda.

Instagram Ads pun memungkinkan Anda untuk menyimpan pengaturan target audiens yang Anda ciptakan untuk digunakan lagi pada kemudian hari. Hal ini dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi Anda yang sedang dalam tahap bereksperimen dan ingin mengingat target audiens seperti apa yang Anda gunakan untuk kampanye tertentu.

Apabila ingin lebih detail lagi, Anda bisa melakukan break down pada bagian “detailed targeting”. Cari demografis, ketertarikan, dan perilaku berbeda yang bisa diterapkan pada target audiens Anda. Facebook juga menyediakan fitur bernama “audience definition gauge” yang memberikan feedback terhadap seberapa luas atau sempit jangkauan audiens Anda, sekaligus estimasi jumlah reach iklan Anda.

  1. Atur Penempatan Instagram Ads

Langkah satu ini menjadi hal yang membedakan pengaturan antara Facebook Ads dan Instagram Ads. Pada bagian “placement”, Anda akan dihadapkan pada lima pilihan, yakni mobile news feed, Instagram, audience network, desktop news feed, dan desktop right column. Karena tujuan Anda adalah melakukan promosi melalui Instagram Ads, maka Anda hanya bisa memilih “Instagram” sebagai satu-satunya opsi. Anda tidak bisa memilih keempat opsi lain, yang biasanya diterapkan pada Facebook Ads.

  1. Tentukan Budget dan Jadwal Posting

Ada dua opsi utama yang bisa Anda pilih untuk budget, yakni daily budget dan lifetime budget. Daily budget memungkinkan iklan Anda untuk terus berjalan sepanjang hari. Artinya, sistem algoritma Instagram akan menghitung budget yang harus Anda keluarkan per hari. Perlu diingat bahwa Instagram Ads memiliki jumlah daily budget minimum, yang biasanya berkisar pada angka US$ 1.00. Sementara itu, lifetime budget mengatur iklan Anda untuk berjalan pada periode waktu tertentu sehingga sistem algoritma akan mengukur budget berdasarkan periode tersebut.

Selain budget, ada pula aspek schedule yang harus Anda atur dalam bagian yang sama. Anda akan diminta untuk menentukan kapan kampanye Instagram Ads Anda mulai dan berakhir. Penentuan ini bersifat spesifik hingga hitungan menit. Instagram Ads juga menyediakan parameter sehingga iklan Anda hanya muncul selama jam-jam tertentu dalam sehari atau hari-hari khusus dalam waktu seminggu. Anda bisa menemukan opsi tersebut pada bagian “Ad Scheduling”. 

Pada seksi “Budget & Schedule”, Anda juga diminta untuk mengisi bagian “Optimization for Ad Delivery”. Anda memiliki tiga opsi yang berpengaruh pada siapa saja pengguna Instagram yang akan melihat iklan Anda, yaitu:

  • Link Clicks: Instagram Ads Anda akan dipasang berdasarkan tujuan mendapatkan clicks paling banyak menuju website dengan harga terendah. Pemasangannya didasarkan pada sistem algoritma.
  • Impressions: Instagram Ads Anda akan dipasang pada feed orang-orang selama mungkin. Jika pernah melihat Instagram Ads muncul pada feed Anda sepanjang hari, kemungkinan besar brand tersebut menggunakan opsi ini.
  • Daily Unique Reach: Instagram Ads Anda akan dipasang pada feed orang-orang sebanyak sekali dalam sehari. Mereka mungkin akan melihat iklan Anda beberapa kali, tetapi tidak dalam hari yang sama.

Selain itu, ada pula bagian “bid amount” di mana Anda bisa memastikan seberapa efektif Instagram Ads yang diterbitkan. Anda bisa memilih opsi manual atau automatic. Jika memilih opsi automatic, Anda hanya bergantung pada algoritma Facebook dalam menyampaikan iklan. Di sisi lain, opsi manual memungkinkan Anda menentukan harga untuk setiap klik pada link. Apabila sebuah klik berarti besar bagi Anda, cobalah mengatur bid yang lebih tinggi dari jumlah rekomendasi. Dengan begitu, Instagram Ads Anda akan lebih diutamakan dari kompetitor dengan bid yang lebih rendah.

Sedangkan, untuk pengaturan delivery schedule, Anda memiliki dua opsi yang bisa dipilih, yakni standard dan accelerated. Apabila opsi standard menampilkan Instagram Ads Anda sepanjang hari, maka opsi accelerated akan membantu Anda menjangkau audiens secara lebih cepat dengan menerapkan sistem iklan yang time-sensitive.

  1. Penambahan Elemen Kreatif

Pada tahap inilah kreativitas Anda diasah. Anda akan diminta menentukan bagaimana Instagram Ads Anda akan terlihat, tergantung dari tujuan Anda dalam memasang iklan. Opsi ini sudah dijelaskan sebelumnya, yakni foto tunggal, video tunggal, atau foto lebih dari satu dengan sistem swipe yang dinamakan “Carousel”.

Jika sudah menentukan tipe iklan yang hendak dipasang, Facebook menyarankan Anda untuk tidak menyertakan teks lebih dari 20%. Pada banyak kasus, biasanya sebuah iklan dengan lebih dari 20% teks tidak akan dianggap layak untuk dipasang. Tipe foto harus menggunakan format .jpeg atau .png. Beberapa hal lain yang juga harus Anda perhatikan adalah:

Teks atau Caption:

  • Rekomendasi: 125 karakter
  • Maksimal: 2.200 karakter

Untuk Instagram Ads berbentuk persegi:

  • Rekomendasi ukuran foto: 1080 x 1080 pixel
  • Resolusi minimal: 600 x 600 pizel
  • Rasio foto: 1:1

Untuk Instagram Ads berbentuk landscape:

  • Rekomendasi ukuran foto: 1200 x 628 pixel
  • Resolusi minimal: 600 x 600 pixel
  • Rasio: 1:1
  1. Atur Halaman dan Links

Pilih halaman Facebook dari akun yang ingin Anda gunakan untuk menampilkan Instagram Ads meskipun Anda tidak berencana memasangnya pada Facebook. Anda wajib menghubungkan akun Instagram dengan Facebook Ads Anda. Jika bisnis Anda tidak memiliki akun Instagram, Anda masih bisa menggunakan Instagram Ads melalui halaman Facebook. Tapi, nama dan foto profil pada halaman Facebook akan digunakan untuk merepresentasikan bisnis Anda dalam Instagram Ads.

Setelah itu, cantumkan URL website untuk menjaring lebih banyak traffic. Ada pula kolom headline dan caption yang perlu Anda isi untuk memaksimalkan performa iklan. Melalui Instagram Ads, Anda diberi pilihan untuk menyertakan button CTA atau tidak. Jika memilih untuk menyertakannya, Anda tidak bisa menentukan button sendiri karena Instagram Ads sudah menyediakan beberapa opsi untuk Anda. Ketika semua sudah terisi dan gambar siap di-upload, lakukan preview untuk memastikan ahar seluruh aspek terlihat baik.

  1. Kirimkan Pesanan

Sudah memastikan segala elemen pada Instagram Ads Anda teratur sesuai rencana? Kini saatnya Anda membuat order dengan menekan tombol “Place Order” berwarna hijau. Selalu lakukan pengecekan, terutama jika Instagram Ads Anda berpotensi untuk dilihat oleh audiens besar. Jika Anda ingin mengutus seseorang dari tim Anda untuk kembali mengecek iklan sebelum diterbitkan, atur schedule Anda untuk memberikan waktu delay, tapi tetap tekan tombol “Place Order” tersebut. Jika tidak, Anda akan berisiko kehilangan seluruh pengaturan yang telah dilakukan.

  1. Laporan Performa Instagram Ads

Begitu iklan sudah berjalan di Instagram, penting bagi Anda untuk mengawasi performanya. Kabar baiknya, Anda bisa kembali mengedit iklan yang sudah terbit. Jadi, seandainya Anda menemukan kesalahan atau foto yang Anda pasang tidak memberikan hasil seperti yang diinginkan, Anda bisa menarik Instagram Ads, mengedit beberapa elemen yang dibutuhkan, lalu kembali dipasang. Anda bisa melihat hasil pemasangan Instagram Ads melalui dua perangkat, yakni The Facebook Ads Manager atau software marketing Anda.

Khusus untuk perangkat Ads Manager, Anda bisa melihat overview dari seluruh kampanye Instagram Ads Anda. Selain itu, ada pula beberapa kategori yang memungkinkan Anda untuk menganalisis laporan secara lebih spesifik, yakni performa, engagement, video, website, aplikasi, event, clicks, dan setting.

 

Melalui Instagram Ads, Anda bisa melakukan promosi brand dengan cara yang lebih smooth, mengingat bahwa tampilan iklannya tidak jauh berbeda dari postingan biasa. Semoga panduan di atas dapat membantu Anda dalam membuat Instagram Ads untuk pertama kalinya.

Perlu diingat bahwa hasilnya mungkin tidak bisa didapatkan secara instan, jadi Anda harus bersabar dan rutin mengedit Instagram Ads apabila ditemukan hal-hal yang sekiranya kurang memberikan performa baik. Namun, seiring berjalannya waktu, kemungkinan besar jumlah pengguna aktif Instagram akan bertambah, yang tentu berpengaruh positif bagi kelangsungan promosi brand Anda melalui Instagram Ads.

Bagi pemilik bisnis online, dukung promosi Instagram Ads Anda dengan perangkat digital marketing lain dari StoreMantap. Anda bisa mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai produk-produk kami, yakni e-commerce, POS by StoreMantap, dan SM Keyboard, dengan mendatangi event Jawa Timur (Jatim) Fair pada tanggal 6-16 Oktober 2016 di Grand City Surabaya. StoreMantap siap menjawab segala pertanyaan Anda terkait dengan produk dan layanan kami di booth nomor 159. Kami tunggu kehadiran Anda!

Kesalahan User-Generated Content yang Harus Dihindari

Pernah mendengar istilah user-generated content? User-generated content adalah konten yang disumbangkan oleh pengguna website Anda, dapat berupa komentar atau testimoni dari pelanggan Anda. Ketika digunakan dengan baik, UGC akan memberikan brand Anda visibilitas, traffic, serta penjualan yang lebih tinggi.

Sayangnya, bila tidak dikembangkan dengan baik, UGC dapat menjadi bumerang yang malah akan mematikan brand Anda. Untuk itu, perlu bagi Anda untuk memperhatikan kesalahan user-generated content yang harus Anda dihindari untuk mencegah hal tersebut. Berikut ini adalah kesalahan yang paling sering dilakukan ketika seseorang menggunakan strategi user-generated content untuk meningkatkan brand awareness.

Publishing Tanpa Izin

Membuat peraturan publishing adalah salah satu hal yang harus Anda lakukan. Pastikan bahwa Anda hanya mem-publish konten-konten yang telah disetujui. UGC pada dasarnya dibuat dan diajukan secara suka rela. Mereka tentu memberikan konten sesuai dengan isi hati mereka, yang mungkin tidak sesuai dengan kampanye Anda. Maka dari itu, Anda wajib memberikan detail syarat dan ketentuan UGC yang diperbolehkan dan bagaimana UGC didistribusikan.

Penggunaan UGC yang Hanya Sekali

Konten pelanggan seperti foto, review, atau Q&A yang bagus harus mendapatkan perhatian yang lebih dari sekadar komentar saat itu saja. Anda harus menggunakannya kembali untuk kegunaan yang lain. Setiap kontribusi mereka akan sangat bernilai demi menaikkan brand.

Caranya, Anda dapat mengumpulkan konten-konten tersebut menjadi satu konten yang menarik dan saling berhubungan. Konten ini dapat digunakan untuk meningkatkan brand awareness di lain hari.

Salah Interpretasi

Kunci dalam menggunakan UGC adalah keterkaitannya dengan brand Anda. Bagaimana pun calon pelanggan akan mencari informasi yang relevan terhadap suatu barang dari sumber yang terkait dan dapat dipercaya, yakni pelanggan lama Anda. Interest dan pain points yang dibagikan antara calon pelanggan dan pelanggan lama akan membantu brand Anda untuk tumbuh dengan nama yang lebih baik.

Selain itu, ketika menunjukkan detil tentang pengalaman pembelian pelanggan, meski mereka memberikan review yang negatif, akan berdampak pada keputusan pembelian yang lebih mantap oleh pelanggan serta menambahkan transparansi dan kepercayaan pada imej brand Anda.

Maka dari itu, ada baiknya apabila Anda mengatur dengan baik foto, review, dan Q&A berdasarkan golongan tertentu di website Anda untuk menunjukkan keterkaitan satu sama lain. Hal ini akan membantu calon pelanggan untuk lebih mengenal produk Anda yang menjadi incaran mereka.

Membiarkan Perbincangan tentang Produk Anda Menghilang Begitu Saja

Engagement dari pelanggan mampu menciptakan UGC, namun UGC juga akan meningkatkan engagement dari pelanggan. Pasti Anda sering menemukan calon pelanggan Anda dan pelanggan lama Anda saling bertukar informasi tentang produk tersebut di media sosial. Hal ini harus Anda pertahankan untuk membangun branding yang bagus.

Caranya, perhatikan produk Anda disebutkan di media sosial. Like atau komentari perbincangan tersebut. Bila perlu, tanggapi juga perbincangan tersebut. Dengan demikian, audiens perbincangan tersebut akan lebih banyak. Semakin bagus komunikasi antara toko online Anda dengan pelanggan, semakin tinggi tingkat hubungan Anda dengan pelanggan serta meningkatkan kesetiaan pelanggan pada brand Anda.

Kampanye UGC yang Tidak Sesuai dengan Ketertarikan Pelanggan

Kreativitas adalah bagian terpenting dalam UGC. Namun, bagimana pun kampanye haruslah cocok dengan identitas brand yang ingin Anda bangun dan secara efektif menarik partisipasi dari pelanggan. Bila kampanye UGC tidak cocok dengan brand Anda, pelanggan tidak akan ingin berpartisipasi.

Maka dari itu, cari tahu apa kisah tentang brand Anda yang kemungkinan besar disukai oleh para pelanggan. Gunakan hal tersebut sebagai tema utama dalam kampanye Anda. Entah desain produk atau membuat donasi dari setiap penjualan produk, hal tersebut akan membuat orang lebih mencintai produk Anda selama masih sesuai dengan ketertarikan mereka.

 

Itulah beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh pebisnis ketika menjalankan strategi user-generated content. Yang terpenting dalam UGC adalah bagaimana Anda membentuk opini calon pelanggan dengan memberikan kualitas layanan terbaik sehingga pelanggan lama memberikan gambaran yang jelas dan positif dari produk Anda. Semoga berhasil!

Mengapa Anda Harus Menggunakan Conversion Rate Optimization pada Website Anda?

Selain Search Engine Optimization (SEO), sangat penting bagi Anda untuk memaksimalkan Conversion Rate Optimization (CRO). Mungkin banyak bagi Anda yang masih awam dengan hal ini. CRO adalah tingkat perubahan traffic website menjadi penjualan. Memang pada dasarnya CRO akan meningkatkan penjualan Anda. Lantas, apalagi yang jadi alasan mengapa Anda harus menggunakan CRO pada website Anda? Berikut ini alasan-alasannya.

Pelanggan yang Lebih Banyak, Tanpa Iklan Berlebihan

Tentu saja, alasan utama kenapa harus menggunakan CRO pada website Anda adalah untuk mendapatkan pelanggan yang lebih banyak. Penggunaan CRO pada website akan menekan pengeluaran berlebihan pada periklanan. Tanpa pasang iklan, Anda sudah dapat pelanggan yang tertarik dengan produk Anda. Hal ini cukup menguntungkan bagi bisnis toko online yang notabene sangat tergantung pada iklan.

Fenomena “Unggul Tipis”

Dalam setiap kompetisi, berlaku istilah “pemenang mendapatkan semuanya” atau minimal dapat yang lebih banyak. Dalam pasar online, hal ini juga terjadi.

Sebenarnya mudah untuk mengatakan hal ini. Bila Anda ingin dua kali lebih untung dibanding kompetitor Anda, tidak perlu rasanya untuk dua kali lebih bagus dari mereka. Anda hanya perlu untuk sedikit lebih baik dari mereka. Inilah yang dinamakan fenomena “unggul tipis”

Intinya, Anda butuh profit-per-visitor yang lebih tinggi. Peningkatan sekecil apapun pada profit-per-visitor Anda akan berdampak pada keuntungan bisnis Anda dan tentunya kesuksesan bisnis Anda. CRO adalah salah satu cara untuk meningkatkan profit-per-visitor.

Perlu diingat, ketika Anda sudah berada di depan kompetitor Anda, jangan berhenti sampai di situ. Anda harus tetap melaju ke depan dengan membuat inovasi-inovasi lain yang lebih hebat.

CRO Mampu Meningkatkan Keuntungan

Tujuan utama CRO adalah mengubah traffic menjadi penjualan. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap keuntungan yang Anda dapat. Selama SEO telah dijalankan dengan sempurna, CRO akan secara efektif meningkatkan keuntungan Anda hingga sepuluh kali lipat.

CRO Mampu Membuat Bisnis Anda Lebih Berkembang

Ketika conversion rate meningkat, tiba-tiba Anda dapat mengiklankan produk Anda di media yang lain, baik online maupun offline. Hal ini akan membuat bisnis Anda makin berkembang. Keuntungan yang didapat dari peningkatan conversion rate akan mengembangkan bisnis Anda secara berkesinambungan. Bukan tidak mungkin perkembangan bisnis ini akan melemahkan kompetitor Anda dan membuat Anda “memonopoli” bisnis. Terkesan jahat memang, namun setidaknya Anda bersaing sehat.

 

Itulah beberapa alasan yang akan Anda dapatkan ketika menggunakan Conversion Rate Optimization (CRO) pada website Anda. Jangan berhenti mengembangkan website Anda hingga sampai ke puncak kepuasan Anda saja. Anda harus selalu berinovasi demi mengembangkan bisnis Anda untuk jadi lebih unggul dari semua kompetitor.

Menggunakan Conversion Rate Optimization untuk Inbound Marketing

Dibandingkan dengan Search Engine Optimization (SEO), popularitas Conversion Rate Optimization (CRO) dapat dibilang masih kalah jauh. Umumnya, mayoritas marketer menggunakan strategi SEO dalam inbound marketing untuk mengangkat jumlah traffic pada website mereka. Lalu, apa yang terjadi? Apakah Anda berhenti hanya sampai di situ? Apa tujuan yang ingin Anda capai dengan meningkatkan traffic tersebut?

Sebelumnya, perlu diingat bahwa CRO tidak berusaha untuk menggantikan SEO. Apabila SEO fokus pada peningkatan jumlah traffic, maka CRO yang akan mengubah traffic tersebut menjadi leads dan sales, atau yang biasa Anda sebut dengan konversi. Sama seperti SEO, CRO juga memiliki strategi-strategi lain yang dilakukan melalui serangkaian proses metodis, ilmiah, dan straightforward.

Dengan menggunakan CRO, Anda bisa melakukan evaluasi terhadap saluran penjualan untuk mengidentifikasi strategi yang akan Anda tingkatkan pada website Anda. Tujuannya adalah untuk meningkatkan persentase orang-orang yang melakukan sign up demi produk Anda. Selanjutnya, Anda akan berhadapan dengan hipotesis untuk dites, lalu Anda membuat versi baru dari halaman website atau landing page untuk dibandingkan dengan versi lama. Hasil dari tes akan menentukan versi mana yang lebih efektif untuk membuat pengunjung melakukan konversi.

Pengertian dari CRO

Jadi, sebenarnya apa yang dimaksud dengan CRO? Ada banyak penjelasan mengenai hal ini. Tim Ash, CEO dari SiteTurners dan penulis buku berjudul Landing Page Optimization: The Definitive Guide to Testing and Tuning for Conversatios, mengartikan CRO sebagai ilmu dan seni untuk membuat orang melakukan sesuatu begitu mereka mengunjungi website Anda. Untuk melakukan hal tersebut, dibutuhkan banyak elemen seperti desain visual, copywriting, pengalaman pengguna, psikologi, menguji berbagai konten website dengan versi berbeda, dan tentunya memengaruhi orang untuk bertindak.

Apabila Anda pernah mendengar tentang A/B testing atau mengubah warna button pada website untuk melihat versi mana yang bisa menarik lebih banyak konversi, maka Anda sudah memiliki sedikit pengetahuan tentang CRO. Meski begitu, CRO lebih dari sekadar itu. Masih ada banyak hal yang perlu Anda ketahui di bali CRP. Andy Crestodina, founder dari sebuah agensi digital marketing bernama Orbit Media Studios, menjelaskan bahwa CRO adalah istilah yang berkaitan dengan hal-hal marketing dan website yang berpengaruh pada konversi. CRO memang dikenal sebagai metode yang ilmiah dan straightforward, namun di sisi lain juga cukup kompleks.

Pentingnya Penerapan CRO dalam Inbound Marketing

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, CRO sangat penting untuk dilakukan karena mampu meningkatkan penjualan sejumlah traffic yang Anda terima. Anda mungkin akan berpikir, mengapa saya tidak menggunakan metode Pay per Click (PPC) ads atau metode digital marketing lain saja? CRO mampu mengonversi traffic yang Anda terima menjadi leads atau sales secara lebih efisien. Mari melihat betapa pentingnya penerapan CRO dalam inbound marketing melalui contoh kasus yang dikemukakan oleh situs Quicksprout berikut ini.

Bayangkan Anda adalah seorang pemilik dari bisnis software-as-a-service (SaaS). Sebelum mengoptimalkan website, Anda telah berhasil meyakinkan 5% dari pengunjung website untuk melakukan sign up terhadap layanan Anda senilai Rp 500.000 per bulan. Jika ada 1.000 pengunjung per bulan, maka 50 pengunjung di antaranya akan memberikan penghasilan kepada Anda sebesar Rp 25.000.000 per bulan. Kini, anggaplah Anda telah melakukan optimasi website dan berhasil meningkatkan rate konversi menjadi 7,5%. Pada rate ini, 1.000 pengunjung meningkat menjadi 75 pelanggan dan Rp memberikan penjualan sebesar 37.500.000 per bulan.

Sudah mulai memahami pentingnya CRO dalam inbound marketing? Anda tidak mengubah apapun dari bisnis Anda, tetapi setelah mengubah saluran konversi menjadi lebih efektif, penjualan pun meningkat hingga Rp 12.500.000 untuk jumlah pengunjung dan harga yang sama dengan sebelumnya. 

Aktivitas yang Terkait dengan CRO

Lalu, dari mana Anda harus memulai jika sudah mantap memutuskan untuk menerapkan CRO pada bisnis Anda? Pada dasarnya, kunci utama dari keberhasilan CRO adalah pengujian atau testing. Tanpanya, Anda hanya akan “terjebak” di dalam insting sendiri dan bingung menentukan elemen mana yang lebih efektif. Tidak begitu halnya jika Anda melakukan testing. Melalui testing, Anda bisa segera tahu apakah perubahan yang diterapkan pada elemen website mampu meningkatkan jumlah konversi atau justru menurunkannya.

Tentu saja ada hal-hal lain yang perannya tidak kalah penting dalam CRO. Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa melihatnya di bawah ini.

1.  Riset Persona

Istilah persona mengacu pada profil fiksi dari pengunjung potensial website Anda atau pelanggan potensial untuk layanan Anda. Sebagai contoh, persona untuk sebuah website dari brand sepatu bisa berupa seorang pria bernama Budi berusia 28 tahun. Ia berasal dari Surabaya namun kini harus tinggal di Bandung karena tuntutan pekerjaannya sebagai jurnalis. Budi memiliki hobi jogging dan rutin melakukannya tiga kali dalam seminggu. Sebulan lagi, ia akan mengikuti event lari yang diadakan oleh kantornya dan ia membutuhkan running shoes baru karena sepatu yang lama sudah berlubang.

Itulah salah satu contoh persona yang bisa diterapkan pada riset Anda nanti. Dilansir dari Forbes.com, Tony Zambito selaku ahli pada bidang buyer persona menjelaskan bahwa persona mampu membantu menguraikan kerumitan yang muncul menjadi sebuah pemahaman insightful, sehingga memudahkan Anda dalam proses pengambilan keputusan. Persona merupakan salah satu kunci penting dalam CRO karena hal inilah yang memengaruhi bagaimana Anda akan medesain website, melakukan kurasi konten, hingga kata kunci apa yang Anda gunakan untuk kepentingan SEO. 

2.  Skenario Perjalanan Pengguna

Masih menggunakan Budi sebagai contoh persona, Anda bisa mengambil menentukan pertanyaan bagaimana Budi dan persona lain akan menemukan website produk sepatu Anda? Apa yang akan Budi lakukan begitu ia mengunjungi website? Informasi apa yang ia cari? Button apa yang sekiranya akan ia klik? Menanyakan hal-hal tersebut dan mengidentifikasi jawabannya adalah dasar-dasar yang harus Anda lalui untuk menciptakan skenario “perjalanan” pengguna. Langkah ini mampu membantu Anda memahami pelanggan secara lebih baik dan menyediakan nilai-nilai tertentu di mana mereka membutuhkannya.

3.  Analisis Heatmap

Lalu, bagaimana Anda bisa mengetahui konten atau elemen apa saja yang dilihat dan di-klik oleh pengunjung website? Anda bisa menggunakan perangkat bernama heatmap. Pada dasarnya, heatmap akan memberi gambaran secara keseluruhan tentang aktivitas klik pada suatu halaman website. Dari gambaran tersebut, Anda bisa mendapatkan insight berharga tentang perubahan apa saja yang harus dilakukan demi meningkatkan jumlah konversi pada website.

Gregory Ciotti, anggota tim marketing dari perusahaan software untuk customer support bernama Help Scout, pernah melakukan analisis heatmap dan hasil yang didapatkannya benar-benar luar biasa. Sebagai contoh, analisis heatmap yang Ciotti lakukan menunjukkan bahwa orang-orang cenderung fokus pada wajah bagi ketika berhadapan dengan foto bayi yang menatap kamera. Tetapi ketika gambar bayi pada foto sedang melihat ke arah lain, fokus pengunjung website akan beralih kepada hal yang sedang dilihat oleh bayi tersebut.

4.  Menggunakan Warna Berbeda pada Button

Meskipun terdengar sepele, warna pada button Call-to-Action (CTA) pada website Anda ternyata memberi pengaruh cukup kuat pada rate konversi. Kabar baiknya, Anda bisa melakukan testing secara mudah dan hal tersebut memang merupakan dasar dari penerapan CRO. Ada banyak platform CRO, seperti Visual Website Optimizer, yang menyediakan testing warna button secara simpel. Anda bahkan tidak membutuhkan bantuan developer atau desainer.

Berbicara tentang button CTA, Anda mungkin cukup sering mendengar atau membaca tentang bagaimana warna merah atau oranye mampu memberikan performa paling baik. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah maupun benar. Nyatanya, testing pada button CTA yang dilakukan oleh HubSpot menunjukkan bahwa faktor kuncinya terletak pada kontras.

Jika berniat untuk melakukan testing pada button CTA, mulailah dengan menguji warna yang benar-benar bertolak belakang dari palette warna pada website Anda. Sering kali justru kontras itulah yang dibutuhkan untuk meningkatkan konversi. Masih dari HubSpot, riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa mengubah warna pada button CTA tebrukti mampu meningkatkan konversi hingga 25%. 

5.  Lakukan A/B Testing pada Website

Inilah faktor yang menjadi kunci utama dari CRO. Cara pelaksanaannya cukup mudah. Pilih salah satu halaman website Anda, lalu buatlah copy yang sama. Biarkan halaman website pada copy A apa adanya. Pada copy B, ubahlah salah satu elemen yang ada, misalnya pemilihan kata untuk headline, penempatan gambar, atau warna button. Arahkan masing-masing 50% traffic pada kedua copy halaman website tersebut. Biarkan tes tersebut berlangsung selama beberapa saat untuk mengumpulkan jumlah sample yang cukup. Lalu, analisis hasil yang Anda dapat dan gunakan copy yang memberi performa lebih baik. Ulangi proses tersebut untuk elemen-elemen dan halaman website lain.

Selagi Anda terus menjalankan A/B testing, diharapkan website Anda akan mampu mengonversi lebih banyak traffic. Jika hendak melakukannya untuk pertama kali, Anda disarankan untuk menerapkannya pada elemen headline yang terdapat di landing page karena halaman inilah yang Anda pilih untuk menjadi tempat “persinggahan” orang-orang ketika melakukan sign up. Elemen headline dapat menjadi CTA tersendiri yang harapannya mampu meningkatkan keyakinan orang untuk melakukan konversi.

Menurut HubSpot, setidaknya ada empat opsi yang bisa Anda terapkan untuk mengetes elemen headline pada landing page, yaitu:

  • Benefits-focused: headline yang mengomunikasikan keuntungan produk Anda, misalnya “Tingkatkan lead dengan Strategi CRO!”.
  • Descriptive: headline yang memberi tahu Anda tentang produk yang ditawarkan, misalnya “Layanan CRO untuk Inbound Marketing”.
  • Emotional: headline yang berusaha untuk menarik perhatian pengunjung pada level psikologi, seperti “Anda pasti akan suka menjadi marketer yang lebih baik!”.
  • Match the Ad: banyak marketer yang mendapat hasil konversi tinggi ketika ada simetri antara keyword yang digunakan seseorang, headline dari iklan PPC, dan headline landing page. Misalnya, untuk menarget konversi dari orang-orang yang menggunakan kata kunci “strategi inbound marketing”, Anda bisa menggunakan “Strategi Inbound Marketing” untuk headline PPC dan landing page.

6.  Split Tes terhadap Landing Page yang Paling Sering Dikunjungi

Perlu diketahui bahwa split testing berbeda dari A/B testing meski mungkin teknisnya cenderung mirip. Istilah split testing digunakan ketika Anda menguji desain yang sangat berbeda dari satu sama lain, sedangkan A/B testing digunakan ketika Anda menguji dua versi dari sebuah elemen halaman tertentu.

Pada poin ini, lagi-lagi landing page menjadi halaman website yang dipilih karena alasan yang sudah disebutkan sebelumnya. Anggaplah bahwa A/B testing yang Anda lakukan terhadap headline landing page sudah membuahkan hasil, maka sekarang Anda siap untuk menciptakan desain landing page yang fresh dan menarik. Sebagai contoh, mungkin Anda bisa menguji desain landing page yang bersifat conversion-focused, yakni dengan gambar seseorang yang terlihat sedang melihat ke arah button CTA, sehingga perhatian pengunjung juga ikut terarah kepada hal yang sama.

7.  User Testing

Sebagai pemilik website, Anda tentu merasa bahwa website yang Anda buat sudah sesuai dengan kebutuhan target audiens, baik dari segi konten hingga penggunaannya. Tapi apakah benar begitu? Elemen-elemen yang Anda nilai simpel bisa saja dianggap membingungkan oleh pengunjung. Anda bisa melakukan user testing sendiri untuk mendapatkan lebih banyak data atau menggunakan layanan seperti User Testing. Richard Littauer, seorang ahli web design sekaligus founder dari situs TheUserIsDrunk.com pernah berkata, “Your website should be so simple, a drunk person could use it.” Meskipun terdengar nyeleneh, perkataan tersebut ada benarnya juga dan bisa Anda terapkan ketika mendesain website.

8.  Bermain dengan Subject E-mail

E-mail mungkin bukan merupakan elemen pada website, namun e-mail lah yang akan menjadi salah satu jembatan komunikasi di antara Anda dan pelanggan. Sama halnya dengan landing page, e-mail juga memiliki headline berupa subject. David Ogilvy, pakar dalam bidang periklanan, pernah menyebut bahwa dengan menulis subject e-mail, Anda sudah memberikan 80% investasi marketing.

Tentu ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk menulis subject e-mail yang menarik, namun apabila ada satu tips yang wajib dicoba, maka hal tersebut adalah memberikan sentuhan personal. HubSpot mengatakan bahwa cara ini telah terbukti mampu menaikkan rate pelanggan yang benar-benar membuka e-mail dan membacanya. Cara lain yang bisa Anda coba adalah dengan menyertakan emoji. Setiap brand memiliki target audiens berbeda dan cara yang diterapkan mungkin tidak akan sama. Oleh sebab itu, teruslah melakukan tes agar e-mail yang Anda kirimkan tidak dianggap sebagai spam dan langsung dihapus tanpa dibaca dulu.

Anda sudah mencoba berbagai cara di atas sebagai strategi CRO, lalu apa yang harus dilakukan? Tentu saja melakukan analisis analitik terhadap hasil yang didapat. Anda bisa menggunakan Google Analytics yang memiliki berbagai data dan perangkat terkait denga CRO. Tidak hanya bisa melakukan track terhadap konversi di dalam software, tetapi juga seluruh data yang mengarah pada konversi. Menariknya lagi, Google Analytics juga memungkinkan Anda untuk men-track data yang tidak mengarah pada konversi, sehingga Anda bisa menentukan elemen apa saja yang perlu diubah.

 

Itulah beberapa strategi CRO yang bisa Anda lakukan untuk inbound marketing. Mengoptimalkan website untuk konversi merupakan sebuah proses berkelanjutan yang mencangkup seluruh aktivitas di atas dan hal-hal lain. Jika menemui kesulitan untuk memulainya, Anda bisa mengidentifikasi objective atau target yang ingin dicapai dan jumlah budget yang dimiliki. Hal terpenting adalah Anda memulainya saat ini juga. Semakin cepat Anda mengaplikasikan CRO pada website Anda, semakin cepat pula Anda akan menuai hasil sesuai dengan target yang diinginkan. Good luck!

Page 3 of 12
1 2 3 4 5 12